Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 14 Agustus 2015

Perang Pemikiran dan Perubahan Masyarakat

"Terkadang benturan itu dibutuhkan agar dapat terlihat suatu perubahan."

Begitulah kesimpulan yang saya ambil dari hasil pertemuan dengan teman-teman pejuang Syariah dan Khilafah. Ahad siang itu memang berbeda. Pikiran saya melayang kemana-mana karena memikirkan banyak hal. Siang itu saya sedang berada di Kaung Gading Kec. Pamijahan Bogor menghadiri kajian rutin bulanan di Pondok Pesantren an-Nur di bawah asuhan KH. Muhyiddin. 



Namun ba'da ashar saya harus sudah ada di Depok untuk kuliah. Tepat jam 4 sore pelajaran Akidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah dimulai. Sedangkan kajian saat itu dimulai sekitar jam 2 sore dan di luar dugaan hujan turun. Saya tidak mungkin berangkat dalam kondisi jalanan licin seperti ini. Terpaksa rencana awal saya izin di tengah acara kajian pun saya urungkan. Saya ikuti kajian sampai selesai hingga ashar tiba.

Dengan demikian, sudah dipastikan telat datang ke kampus. Saya berusaha fokus pada materi yang disampaikan. Ust. Badrudin menjadi orang yang mendapat giliran memaparkan materi yang ada. Materi diketik dalam komputer dan diperbanyak sesuai jumlah peserta yang hadir. Sehingga setiap orang yang duduk mendengarkan pemaparan materi dapat dengan seksama membaca teksnya sekaligus.

Seperti yang saya katakan di awal, pikiran saya sedang kemana-mana. Membuat saya tidak konsentrasi dengan tulisan yang ada di tangan. Selembar kertas yang saya pegang nampak tak berarti apa-apa. Saya seperti keledai yang membawa tumpukan buku di atas punggungnya. Tak tau apa yang ia bawa dan untuk apa! 

Jalan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah mendengarkan sang pemateri menyampaikan apa yang dibawanya. Setelah paragraf demi paragraf dibacakan saya seperti mengingat sesuatu. Rasanya saya pernah membaca materi ini sebelumnya tapi tidak ingat siapa penulisnya. Hal ini diperkuat juga dengan pengakuan sang pemateri bahwa materi yang Ia sampaikan bukan hasil tulisannya sendiri melainkan tulisan yang pernah ada sebelumnya.

Materi dengan judul "Urgensi Perang Pemikiran dalam Perubahan Masyarakat" seperti sudah tidak asing bagi saya. Sebuah perubahan yang hanya bisa terwujud dengan suatu kemauan bagi para pengembannya. Para pengemban dakwah sudah seharusnya berjuang secara serius untuk mewujudkan perubahan yang berarti di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya perubahan semu, melainkan perubahan hakiki. Sebuah perubahan yang mampu menjawab segala macam problematika ummat saat ini.

Hanya saja perubahan semacam itu tidak mungkin terwujud andaikan para pengembannya hanya berdiam diri. Merasa cukup disibukan dengan urusan pribadi sehingga melalaikan aktivitas penting ini. Berinteraksi dengan ummat adalah metode yang digunakan oleh Rasulullah Saw. dalam aktivitas dakwahnya. Setelah tahap pertama, tasqif dilakukan, maka secara otomatis akan beralih pada tahapan kedua yakni, tafaul ma al-ummah atau disebut juga berinteraksi dengan ummat. Pada frase ini memang dibutuhkan tidak hanya semangat berapi-api namun juga sebuah kecerdasan. Baik dari segi tsaqofah maupun dalam mengambil sebuah keputusan. Tak jarang kita akan berhadapan dengan orang-orang yang akan menghalagi dakwah ini. Orang-orang yang tidak menyukai jika Islam bangkit. Berbagai upaya akan mereka lakukan demi menggagalkan aktivitas dakwah yang mulia.

0 komentar:

 

Free Music