Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 14 Agustus 2015

Jika itu Baik, Lakukanlah!

Baru dapat kabar dari teman bahwa saya baru diangkat jadi admin di salah satu group di facebook. Group yang beranggotakan seluruh karyawan/i Super Kue baru berdiri dan belum terlalu banyak anggotanya. Pengurus sekaligus rekan kerja meminta untuk meramaikan group tersebut.


Perasaan saya campur aduk antara seneng, dapat kepercayaan. Kaget, kok ke saya ya? Kan yang lain juga masih banyak yang mungkin jauh lebih bisa.

Sekaligus bingung, kalau jadi admin trus saya harus posting apaan? Takut salah posting yang ada nanti saya malah dibully ama semuanya.

Saya pun berfikir keras, apaaa ya yang harus saya tulis? Lamaaa belum dapat ide, sampai-sampai brownies yang saya kukus pun keburu matang. Kue yang sudah dirias pun sudah selesai dan mau dibawa supir.

Ternyata seandainya seluruh permukaan bumi ini dihancurkan, pepohonan ditumbangkan dan gedung-gedung diratakan. Maka manusia bisa membangun yang lebih hebat lagi dari yang sebelumnya, asalkan mau berfikir.

Begitu dahsyatnya kekuatan berfikir, maka tidak mengherankan banyak ratusan ayat dalam al-Qur'an menuntun manusia untuk berfikir. Lantaran hebatnya berfikir sampai jutaan buku motivasi di dunia mengajak manusia mengubah pemikirannya dahulu sebelum sukses.

Nggak diragukan lagi, memang berfikir adalah hal paling penting bagi manusia. Bahkan yang membedakan manusia dengan makhluk lain hingga manusia disebut makhluk sempurna, makhluk dengan sebaik-baik penciptaan, karena manusia adalah makhluk berfikir.

Artinya jika manusia tidak berfikir akan sama dengan makhluk hidup yang lainnya tanpa gelar kesempurnaan. Manusia hanya akan seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.

Lebih dari itu dalam hadist qudsi disebutkan, "Allah itu tergantung dari prasangka hambanya..." yakni tentang apa yang kita pikirkan.

Sungguh kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika manusia berfikir dirinya rendah maka rendahlah dia. Jika manusia berfikir lemah maka lemahlah dia. Jika manusia berfikir cemerlang maka cemerlanglah dia.

Sebagai contoh, jika manusia berfikir tidak bisa menulis maka akan ada 1000 alasan yang dia lakukan untuk tidak mau menulis sehingga sampai kapan pun ia tidak akan jadi penulis. Sebab pintu pikirannya sudah tertutup untuk tidak mau mencari cara supaya menulis.

Namun jika dia berfikir mau menulis maka akan ada 1000 cara yang dia lakukan agar mau menulis. Tidak hanya dalam masalah menulis, tapi masalah pekerjaan lain pun dibutuhkan pemikiran karena akan menentukan apakah ia bisa atau tidak.

Bahkan dalam masalah mendasar bagi manusia yaitu aqidah. Sang Pencipta meminta manusia agar berfikir dan berfikir. Sebab dengan berfikir manusia akan mengerti sendiri bahwa Pencipta itu ada dan manusia sadar sebagai makhluk Allah.

Dengan berfikir itu pulalah aqidah manusia bisa kuat tertanam dalam hati. Menghujam kuat yang selanjutnya sulit tercabut walau ada tekanan dari pihak luar.  Sebagaimana aqidahnya Nabi Ibrahim AS. yang mencari Sang Pencipta. Saat melihat bulan, bintang, matahari dan hamparan bumi menyimpulkan bahwa benda-benda tadi bukan Tuhannya. Juga seperti aqidahnya para Shahabat Nabi, yakni Bilal bin Rabbah. Walaupun ditindih batu besar di dadanya pada siang hari di gurun pasir yang sangat panas tidak sampai melepaskan aqidahnya.

Wajarlah dalam beberapa ayat meminta manusia untuk berfikir.

"Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? ..." (TQS. al-Ghosyiyah:17-20)
X

0 komentar:

 

Free Music