Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 11 Juni 2015

Cinta yang Seharusnya

Ketika ada pertanyaan, apa bedanya kita takut sama binatang buas dengan takut sama Allah? Ya, jawabannya adalah kalau kita takut sama binatang buas maka kita harus menjauhinya. Tapi kalau kita takut sama Allah maka kita harus mendekatinya.

Sering kali kita salah memposisikan, saat kita jauh dari Allah ya biasa aja, santai aja, cuek-cuek saja. Seolah itu mah masalah biasa. Tapi ketika kita jauh dari orang tua, jauh dari anak-isteri atau orang yang kita sayangi, terkadang terbesit kerinduan yang mendalam. Lagi ngapain ya mereka? Gimana keadaan mereka? Sehatkah?

Pernah saya bekerja di salah satu pabrik di Jakarta. Jauh dari rumah dan orangtua tercinta. Bagi sebagian orang sering ada perasaan yang begitu dekat dengan mereka, seolah apa yang kita rasakan itu dialami  oleh mereka.

Misalkan, saat kita makan bakso. Tiba- tiba tumpah dan baksonya 'ngagorolong'. Dalam hati kita bertanya-tanya, ada apa ya... Ada apa ya..? Jangan-jangan terjadi sesuatu di rumah. Jangan- jangan...? Ah, firasat buruk pun muncul. Takut beneran terjadi atas apa yang kita pikirkan.

Lantas dalam rasa gundah, gulana, galau menggila kita pun segera menghubungi orang rumah menanyakan kabar, apakah baik-baik saja? Setelah mendapatkan jawaban bahwa keadaan mereka baik maka hati pun merasa tenang.

Saat baru tiga hari masuk kerja di sebuah perusahaan yang baru di Bogor, hal tersebut pun saya rasakan. Tiba-tiba perasaan gak enak, perut sakit, mual-mual (ah, itu mah masuk angin -_-). Nggak, maksudnya saat masuk shif dua saat itu pulang malam selama bekerja perasaan udah nggak enak, pikiran tak tenang selalu terbayang. Ada apa gerangan?

Maka saat pulang hampir jam 10 malam, terlihat banyak sanak saudara yang berkumpul. Tumben. Nggak biasanya gitu. Dan saya belum sadar kalau ternyata ibu sedang berbaring sakit dengan tangan yang dibalut perban. Beliau jatuh di anak tangga rumah. Tingginya sekitar tiga meter. Tangan kirinya berdarah tertancap paku dan patah karena jatuh dengan posisi menahan tubuh.

Seketika itu badan terasa lemas. Sisa tenaga yang ada setelah seharian menguras keringat kini hanya bisa saya rebahkan di atas bantal di samping ibu. Sambil sesekali saya tanyakan kronologi kejadiannya. Yang saya sesalkan adalah kenapa untuk hal sepenting ini nggak ada kabar, minimal sms gitu atau apalah. Tapi apa yang keluar dari mulutmu bu? "Nggak usah dikabarin! Nanti pas pulang aja diceritakan semuanya. Sekarangkan lagi kerja, nanti malah kepikiran lagi."

Itulah Ibu, ia lebih rela merasakan sakit asalkan anaknya baik-baik saja. Kau tak pernah egois hanya untuk kebahagiaanmu saja.

Itulah rasa yang saya miliki terhadap orang yang begitu dekat. Begitu juga sebaliknya. Namun, sudah sebandingkah rasa cinta ini untuk Allah dan rasul-Nya?

Jangan-jangan kita termasuk orang yang mengingkari cinta yang diberikan Allah dan rasul-Nya Muhammad Saw.

Kita mengaku umat Muhammad Saw. menulisnya dalam tokoh idola kita tapi mungkin tak sedikitpun merindukannya.

Padahal Rasulullah Saw. manusia mulia yang dijamin masuk surga, rela dilempari batu hingga kakinya berdarah. Rela dihina, dicaci maki, dilempari kotoran demi kita, umatnya.

Bahkan sampai wafatnya pun, rasul selalu memikirkan kita lebih daripada dirinya. Ummati... Ummati... Ummati... Itulah kata terakhirnya.

0 komentar:

 

Free Music