Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 14 Oktober 2014

Perubahan Besar



Tet… tet… tet… Bel panjang telah berbunyi. Tanda jam masuk sekolah telah dimulai. Namun semua siswa berhamburan ke luar kelas menuju lapangan. Semua siswa berkumpul untuk mengikuti kajian ke-Islaman yang baru-baru ini diadakan di salah satu Sekolah Negeri di Bogor.

Termasuk seorang pemuda yang juga tak mau melewatkan kegiatan ini. Bersama dengan teman-teman sekelasnya, ia bergegas menuju lapangan dan mencari tempat senyaman mungkin agar bisa focus mendengarkan kajian. Biasanya di bawah pepohonan rindang menjadi tempat pilihan yang asik karena selain sejuk juga lebih jelas menyimak semua materi yang disampaikan.

Seorang guru masuk ke tengah lapangan dan seluruh siswa duduk mengelilinginnya di pinggiran lapangan. Cek.. cek.. cek.. Sang Guru mencoba microphone yang ada di genggamannya agar membantu performanya. Setelah memastikan seluruh siswa dan siswi terpisah antara laki-laki dan perempuan, Sang Guru pun mulai memberikan ‘wejangannya’. Berdiri di tengah lapangan menjadi pusat perhatian bagi ratusan pasang mata yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini. 

Materi yang disampaikan seputar masalah remaja. Tidak sedikit yang merasa tercerahkan atas kajian yang diberikan Sang Guru. Termasuk Sang Pemuda yang sejak awal mengikuti setiap materi yang disampaikan. Walaupun belum terlalu paham atas semua materi yang disampaikan, namun Sang Pemuda tahu bahwa apa yang dipaparkan semuanya berasal dari Islam. Jelas terlihat dari dalil-dalil yang digunakannya shahih, yakni bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

Beliau mengambil berbagai contoh masalah, menguraikan akar masalahnya dan memberikan solusi atas permasalahan tadi hanya dengan Islam. Hingga terbentuklah pemahamaan mendasar bagi Sang Pemuda bahwa semua masalah yang terjadi pada manusia di dunia ini hanya bisa diselesaikan dengan Islam. Maka untuk pertama kalinya Sang Pemuda mendengar sebuah semboyan yang begitu khas, unik dan menarik. Selamatkan Indonesia dengan Syariah.

Sebuah semboyan yang begitu indah dan tulus yang lahir dari keinginan kuat untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran dan kerusakan. Semboyan yang lahir atas dasar keimanan kokoh demi mengubah penghambaan kepada manusia menjadi penghambaan hanya kepada Allah Swt. Dengan menerapkan seluruh hukum-hukum-Nya di atas muka bumi.

Di akhir materi Sang Guru membagikan ratusan selebaran yang di dalamnya terdapat larangan membaca saat khatib sedang khutbah. Serta menghimbau kepada para pembacanya untuk menjaga lembaran tersebut karena di dalamnya terdapat ayat-ayat suci al-Qur’an. Sebuah buletin dakwah yang terbit tiap hari jumat dengan headline bercetak  tebal berwarna biru yang bertuliskan AL-ISLAM.

Sang Pemuda sangat tertarik akan setiap materi yang disampaikan. Begitu menyentuh dan  mencerahkan. Menjawab semua persoalan hanya dengan Islam. Kekaguman Sang Pemuda pun bertambah tatkala Wali Kelasnya memuji Sang Guru. “Beliau ini tidak punya jam mengajar pada hari jumat tapi Beliau datang hanya untuk memberikan siraman rohani  kepada seluruh siswa-siswi di sini. Beliau tidak diberikan uang tambahan atas kegiatan ini, apalagi sekolah tidak pernah menganggarkan biaya untuk membelikan selebaran yang dibagikan pada seluruh siswa tiap minggunya, beliau pakai uang sendiri”. Begitu puji Sang Wali Kelas.

Sang Wali Kelas melanjutkan “Beliau hanya meminta waktu satu jam pelajaran pertama di hari jumat yang digunakan untuk kajian ke-Islaman para siswa. Dan itu sudah cukup.” Melihat kegiatan ini sangat positif maka seluruh guru mendukung. Izin pun didapatkan, Alhamdulillah kajian pun menjadi aktivitas rutin bagi seluruh siswa dan siswi tiap hari jumat.

***

Hari berganti hari. Tahun berganti tahun, Sang pemuda kini mulai beranjak dewasa. Seragam putih abu-abu kini menjadi kebanggaannya. Setiap hari berangkat ke sekolah dengan rutinitas yang dilakukannya tidak berbeda jauh dengan teman-temannya yang lain. Berangkat sekolah sekadar melakukan kewajibannya sebagai anak SMA/SMK. Dudi-dudi-dam alias duduk diam-duduk diam ia lakukan setiap hari belajar di ruang kelas, mendengar pemaparan guru, menyimaknya dan berusaha memahami secepat mungkin agar esok siap menghadapi ujian dadakan. Jika lupa mengadakan ulangan, hal itu berarti hanya ulangan yang tertunda.
Atau mengambil istilah anak kuliahan dimana Sang Pemuda hanya menjadi kupu-kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Tidak ada aktivitas tambahan yang berarti, hanya bermain bersama teman saat pelajaran usai, nongkrong dan ngobrol-ngobrol nggak jelas. Karena di sekolah yang baru ini tidak ada kegiatan ke-Islaman bagi siswa.

Namun semua berubah saat ia bertemu dengan sebuah komunitas para pemuda Islami yang tergabung dalam sebuah forum komunikasi pelajar Islam di sekitar Bogor. Dimana Sang Pemuda diundang oleh seorang teman dekatnya.  Alhamdulillah itu karena kecenderungan yang dimiliki Sang Pemuda terhadap Islam dan kepercayaan yang besar terhadap teman dekatnya. Selebihnya, alasan keikutsertaannya, ya….. karena pengen ikut aja.

Acara yang dikemas dalam bentuk mabit/bermalam ini diadakan pada sabtu malam hingga minggu paginya. Dihadiri oleh berbagai kalangan remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Momentnya pun bertepatan ketika libur sekolah setelah kenaikan kelas. Karena acara khusus remaja, seorang pembicara muda pun tampil mengisi acara. Menyampaikan materi seputar masalah remaja, Sang Ustad Muda mulai memaparkan berbagai persoalan yang sudah akut menjangkiti tubuh remaja. Ustad Muda berkulit putih dan bermata sipit ini memberikan gambaran nyata tentang rusaknya pergaulan remaja saat ini. Menceritakan pengalaman pribadi yang begitu menyentuh hingga akhirnya menemukan Islam sebagai tambatan terakhir hatinya.

Ustad muda yang masih berstatus mahasiswa di salah satu Perguruan Tinggi di Bogor ini mengaku baru merasa tenang dalam hidupnya setelah masuk Islam alias muallaf. Untuk pertama kalinya ia sujud dalam shalat di tahun 2002. Hatinya tenang, bahagia, sempurna… “pokoknya nikmat banget bisa ucap  subhanallah.. walhamdulillah.. wa laa ilaaha illallah, Allahuakbar. Walaupun al-Fatihah belum hafal, apalagi surat lain, tapi masyaAllah nikmatnya.

Senengnya terhapus segala dosa. Bahagia memulai hidup yang baru dengan numpang di Islam, insyaAllah jadi ikutan mulia. Saat adzan shubuh berkumandang, ngantuknya minta ampun. Tapi dalam sujud itulah ditemukan ketenangan. Merendahkan diri pada Allah itu menyenangkan, tunduk pada-Nya itulah kebahagiaan.” kenangnya.

Kemudian Sang Ustad  Muda pun mengungkapkan sebuah realitas yang begitu miris dan sedih. “Umat Nabi Muhammad Saw, sering menyebut nama Muhammmad Saw, tapi ridhanya ummat ini belum sama dengan ridha Nabinya. Ummat Nabi Muhammad Saw. ini, anti terhadap Syariat Nabinya. 

Ini ummat Muhammad Saw. tapi jatidiri sebagai Muslim nggak jelas. Saudara Muslimnya ada yang mau menerapkan Syariat tapi dianggap teroris. Namun di saat yang sama, penjajah datang malah disambut dielu-elukan.

Ngomong Islam malu, malah silau dan mau berlagak kayak orang kafir. Al-Qur’an nggak pernah dibuka malah bangga-banggain yang lainnya. Jagain gereja, bolehin dangdutan massal, kalo hajatan boleh goyang-goyang. Tapi kalau ada seminar penerapan Syariah langsung meradang.” paparnya panjang lebar.

Seolah tercerahkan dengan untaian kalimat Sang Ustad Muda, membuat pergolakan besar dalam hati Sang Pemuda ingin berubah. Ternyata pemahamannya selama ini tentang Islam begitu sempit. Banyak sekali permasalahan yang terjadi karena Islam tidak dijadikan solusi. Keinginan yang begitu kuat untuk menambah pemahamannya tentang Islam. Perlahan tapi pasti Sang Pemuda menyambut baik tawaran panitia untuk mengikuti mentoring dalam tasqif murakazhah.

Dari sinilah Sang Pemuda memahami Islam yang sebenarnya. Memahami Islam bukan hanya sebatas ibadah ritual semata. Melainkan memahami tentang bagaimana Islam membentuk sebuah peradaban. Bagaimana mengatur seluruh aktivitas kaum Muslim sehingga mereka mengamalkan Islam dengan benar dan tidak setengah-setengah.

Bagaimana pula memahami peran Negara dalam aktivitasnya menjaga agar pelaksanaan hukum Islam berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pentingnnya peran negara hingga ketiadaannya menjadikan sebagian besar hukum-hukum Allah dicampakkan. Bagaimana Islam dhinakan. Muslim tidak tahu jatidiri mereka sebagai ummat terbaik yang diturukan untuk manusia. Al-Qur’an dilecehkan, Rasul dengan mudahnya dihinakan. Kaum Muslim tertindas, Muslimah tak terjaga kehormatannya. Semua itu karena Islam tidak dijaga dan diemban oleh sebuah Negara, yakni  Daulah Khilafah.

 ***

Kehidupan Sang Pemuda berubah drastis. Beberapa teman dan keluarga pun merasa keheranan. Pernah kedua orang tuanya bertanya dalam obrolan santai di ruang keluarga. Sambil menonton tv dan makan camilan beberapa gorengan, obrolan hangat pun terjadi. Kedua orang tua merasa heran atas perubahan yang terjadi pada anaknya ini. Sang Ayah mengutarakan kekhawatirannya kalau-kalau anaknya ini ikut-ikutan aliran sesat bahkan terlibat dalam aksi terorisme. Maklum aja saat itu sedang marak-maraknya pemberitaan penangkapan terduga teroris. Dan kebetulan para pelakunya banyak dari kalangan anak muda. Mereka yang lagi semangat-semangatnya memperjuangkan Islam bahkan mau mendirikan Negara Islam.

Obrolan ringan dengan keluarga sangat penting, karena merekalah orang yang paling dekat dengan kita. Saat dimana dunia seseorang runtuh maka keluarga adalah tempat berlindung. Kemanapun pengembaraan seseorang, melaju terbang setinggi langit, sejauh mata memandang maka ingatlah dunia akan senantiasa menarikmu datang. Akan ada suatu masa dimana seseorang akan merasa bahwa dunia adalah miliknya seorang, namun ingatlah segala sesuatu yang fana pasti akan hilang. Akan ada suatu masa dimana seseorang berjalan melawan arus dunia, dihempaskan arus kekejian seolah terputus dari karunia, maka keluarga adalah tempat bertahan dan mengumpulkan sisa-sisa tenaga. Bagaimana pun kerluarga adalah pilar terakhir yang dapat membantu dimana seolah sudah tidak ada harapan yang bisa diwujudkan.

Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Sang pemuda pun menanggapinya dengan santai dan tenang. ia ingat sang mentor dalam kajian halqoh pernah menjelaskan bahwa persepsi menentukan aksi. Seseorang akan melakukan tindakan sesuai dengan persepsi yang dimilikinya. Dan semua persepsi tadi tergantung dari pemahaman yang dimiliki dari proses berfikir.[1]

Maka Sang Pemuda berusaha mengajak keduanya untuk berfikir jernih agar persepsi yang salah berubah menjadi persepsi yang benar. Menjelaskan duduk persoalannya sehingga semuanya menjadi jelas. Tidak ada keraguan, halangan dan larangan lagi ke depan untuk aktivitas dakwah. Sang Pemuda harus menahan egonya. Bagaimana pun juga yang sedang dihadapi adalah kedua orang tuanya sendiri. Yang melahirkan, merawat, menyekolahkan, ngasih uang jajan dll. Gak adil dong karena pendidikan lebih tinggi dari mereka lantas Sang Pemuda merasa lebih pintar, lebih hebat dari kedua orangtuanya. Yang harus ditunjukan Sang Pemuda adalah rasa hormat dan sopan santun. Menjelaskan dengan penuh hikmah dan membantah dengan cara yang lebih baik. Begitu al-Qur’an mengajarkan.

“Ngaji dimana? Sama siapa? Diajarkan apa aja?” Adalah pertanyaan-pertanyaan standar orangtua yang kepo dan khawatir akan anaknya. Sang pemuda dengan perlahan berkata, “Bapak.. Ibu.. Alhamdulillah, anakmu ini sudah banyak berubah. Dulu masih suka nongkrong di jalan sekarang juga masih suka nongkrong tapi di masjid. Anakmu ini terkadang suka ninggalin sholat wajib tapi sekarang Alhamdulillah lancar, bahkan ditambah dengan amalan sunnahnya. Anakmu ini…” belum sempat menjelaskan Sang Bapak memotong .”Iya tapi Bapak Cuma khawatir kalau kamu masuk kelompok-kelompok aneh!”

“Aneh? sekarang udah seneng ngaji, rajin ibadah, berteman dengan orang-orang shalih kok dibilang aneh? Dulu waktu masih suka main-main, nongkrong-nongkrong kok nggak dibilang aneh?” tanya Sang Pemuda dengan tersenyum. Sang Ayah tidak dapat berbuat banyak. Seolah kehabisan kata-kata, beliau hanya berpesan singkat, “hati-hati… jangan sampai salah langkah.”

Sang Ibu yang sedari tadi diam, membenarkan perkataan anaknya.Sang Ibu tau betul bagaimana perubahan karakter anaknya yang begitu drastis. “Insya Allah anak kita sudah berubah jadi lebih baik” ucapnya menenangkan suasana.

***

Dalam perhalqohan, saat Sang Mentor menyinggung kewajiban berjilbab, Sang Pemuda ingat bahwa ibunya belum sempurna menutup aurat. Tergerak hatinya mengajak Sang Ibu untuk mengamalkan titah Tuhannya. Beljilbab. Didekatilah Sang Ibu. Perlahan tapi pasti komunikasi begitu mudah dan lancar karena sudah menjadi kebiasaan bahwa Ibulah tempat menjadi curhatan segala kegundahan selama ini. Namun ajakan pertama ditolak mentah-mentah. Alasan belum terbiasa, panas, ribet dan seabreg alasan dikeluarkan. Empat buah jubah diberikan sang anak, namun hanya digunakan sebagai pakaian tidur. Dalam keseharian masih tetap mengumbar aurat.

Sang Pemuda memahami pasti ada alasan kuat mengapa Sang Ibu belum mau mengenakan jilbab? Suatu ketika Sang Pemuda mendekati Sang Ibu di dapur. Membantu membersihkan sayuran yang hendak di masak. Sayur asam menjadi menu hari itu. Sambil memotong kacang panjang Sang Pemuda bertanya, ”Ibu.. apa sebenarnya yang membuat Ibu belum mau berjilbab?” sambil membolak-balikan tempe goreng yang hampir matang, Sang Ibu cengengesan, “Hehe.. pake jilbab itu gimana ya? Kayak belum sreg aja, nanti apa kata tetangga, kata orang sok dibilang alimlah, sok benerlah…” “astagfirullah, jadi cuma karena itu Ibu belum siap pakai jilbab?” Pragmatis. Mau ngomong apalagi, inilah persepsi salah Sang Ibu dan kewajiban Sang Anak menyadarkannya. “Ibu.. pernah gak terpikirkan kalau anakmu ini sudah berubah. Dia rajin sholat, rajin ke masjid, ngaji, dakwah dll. Lalu bagimana tanggapan tetangga bahwa anak seperti itu, kok Ibunya sendiri nggak pake jilbab? Apakah anaknya tidak pernah mendakwahkan Ibunya untuk pakai jilbab? Mengingatkan Ibunya akan kewajiban berjilbab? Anak macam apa itu? Atau orang-orang akan bilang anaknya rajin ibadah tapi ibunya nggak pake jilbab, Ibu macam apa kayak gitu? nggak pantes banget” suasana hening. Sang Ibu diam seribu bahasa. Hanya bunyi minyak panas yang bergemuruh mematangkan tempe goreng yang sudah tampak coklat. Tapi Alhamdulillah, selang beberapa hari Sang Ibu mantap untuk berjilbab.
***


[1] Al-Allamah Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham Al-Islam, Pustaka Thariqul Izzah cet. III 2003. Hal 1

0 komentar:

 

Free Music