Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Rabu, 15 Oktober 2014

Perubahan Besar 2



Dari pengalaman berdiskusi dengan orangtua, Sang Pemuda begitu percaya diri. Seolah mendapatkan doa restu dari keduanya ia mulai mantap menapaki jalan dakwah. Diskusi menjadi hal yang begitu digemarinya hingga saat ini. Dengan diskusi ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan. Pertama, mengetahui sejauh mana kita menguasai  materi/tema yang hendak didiskusikan. Kedua, memahami karakter lawan bicara kita, apakah pro atau kontra. Atau malah tidak tahu. Ketiga, mengetahui posisi tawar kita, apakah kita berada pada posisi yang benar atau salah. Maka di sinilah pembelajaran bagi Sang Pemuda untuk bersikap ikhlas dan sabar. Melakukan segala hal hanya demi mendapat ridha Allah Swt. Bukan malah mencari pembenaran atas semua tindakannya meskipun salah. Meyakini bahwa baik buruk itu dari Allah dan meyakini bahwa segala sesuatu itu berasal dari Allah saja. 

Ketika berhadapan dengan banyak orang, Sang Pemuda memahami bahwa pada diri manusia dengan penciptaan yang begitu sempurna, terdapat beberapa karakteristik, diantaranya; Kebutuhan Jasmani; Naluri/instink yang terdiri dari Naluri Beragama, Naluri Mempertahankan Diri dan Naluri Melestarikan Jenis; dan juga Akal yang membuatnya berbeda dari makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Suatu ketika Sang Pemuda curhat pada Sang Mentor terkait ketertarikannya pada lawan jenis.”Tad, Apa yang harus saya lakukan kalo saya tertarik sama seorang akhwat?” Tanya Sang Pemuda. Sang Ustad memberi jawaban singkat, “Nikahi dia…!” Sang Pemuda yang masih bersekolah ini bingung dan mengulang jawaban Sang Ustad, “Nikah tad?” “Iya, nikah!” “Serius tad nikah? Tapi kan…” belum selesai Sang Pemuda menyampaikan alasan, Sang Ustad menimpali, “Kalo antum belum siap, udah putusin aja!” seolah memahami jalan pikiran Sang pemuda yang pastinya meminta, gimana kalo menjalin hubungan tapi yang Islami alias Pacaran Islami. Dengan penjabaran panjang, memberi pemahaman yang benar terhadap hubungan dengan lawan jenis. Sang pemuda pun mantap untuk memutuskan wanita yang disukainya. Loe Gue End!

Akhirnya, Sang Pemuda memutuskan untuk menerima keputusan sang wanita mutusin dia. Dengan sabar dan ikhlas Sang Pemuda yakin bahwa sudah ada seseorang yang disiapkan  untuk mendampinginya kelak. Seorang Kekasih Gelap, yah bilang aja gitu, soalnya sosoknya hingga kini memang misterius. Jangankan wajahnya, bayangannya pun tak terjangkau, saking gelap dan misteriusnya dia. Sang Pemuda yakin bahwa dia dan dirinya sudah dijodohkan. Bukan sembarang perjodohan, yang menjodohkan adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Kuasa Segala-galanya.

Sebuah anugerah indah yang telah dipersiapkan semenjak diri ini tercipta. Sebagaimana kelahiran, kematian, dan rizki telah terpatrikan, maka kekasih pendamping pun telah tergariskan. Tinggal bagaimana azzam kita dalam menggapai garisan itu. Sang kekasih gelap, pelengkap rusuk…. lebih dari itu…. dirinya pelengkap diri… sayap-sayap yang membawa raga melayang arungi samudera.

Gelap, rahasia yang kadang terlampau mengejutkan. Sebagaimana cinta yang sempat berbuah fitnah dari Zulaikha yang mampu menjebloskan Yusuf dalam pekat penjara. Tahun berganti tahun kemudian, keajaiban cinta membuktikan bahwa jodoh tak bisa disangkal. Yusuf pun mengulurkan tangan lembutnya kepada Zulaikha, sirnalah cerita lama.. cinta pun mekar bersemi.

Sulaiman menantang rivalnya Ratu Bulqis, Sang Ratu Kerajaan Saba. Perang bisa saja tumpah. Namun jodoh adalah rahasia. Singkat cerita, terabadilah kedua namanya sebagai pasangan yang terberkahi. Kembali.. cinta pun bersemi kembali.[1]

***

Seperti contoh di atas dimana Sang Pemuda berdiskusi dengan kedua orangtua. Keduanya sama-sama mempunyai ego untuk mempertahankan dirinya. Seandainya Sang Pemuda tidak berhati-hati dalam menjelaskan dan sampai menyakiti hati kedua orangtuanya tentu akan terjadi perselisihan. Jelas izin ngaji pun tidak akan diberikan. Karena namanya juga orangtua pasti merasa tersinggung kalau diajarin sama anak kecil. Apalagi belajar Islam baru kemarin sore.

Nah, ketika berada dilingkungan pun Sang Pemuda berusaha memberikan yang terbaik untuk Islam. Menjelaskan kepada semua orang akan pentingnya penerapan Syariat dalam kehidupan. Saat sedang membeli martabak misalnya, mampir ke salah satu lapak, Sang pemuda memanfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu yang ada.

“Mau pesen apa mas..?” sapa si Bapak mendahului ucapan Sang Pemuda. “Jiah… emang Bapak jualan apa? Batako? Enggak kan..?” tanya Sang Pemuda sambil memijit  keypad dihape jadulnya.

 “martabak telor biasa harganya Rp. 9.000/Loyang, kalau special Rp. 13.000/Loyang.”terang si Bapak.“Ya udah pak saya pesan yang biasa dua Loyang..” pinta Sang Pemuda. “sebentar mas..!”

Mulailah si pria berperawakan sedang itu memainkan tangan terampilnya. Agar tidak bosan menunggu, Sang Pemuda sambil mengajak si Bapak ngobrol.Maka mulailah ke-isengan dengan gaya obrolan khas pinggir jalan. Berharap ada sebuah informasi yang bisa direnungkan. Seperti kebanyakan obrolan pinggir jalan, Sang Pemuda mulai bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan standart. Pertanyaan seputar asal daerah, sudah berapa lama di Bogor, berapa lama jualan martabak, gerobak sendiri atau setoran ke orang lain, berapa anaknya, tinggal di mana, omset per hari berapa, masih ngontrak atau udah punya rumah sendiri, sering masuk angin apa enggak, hobi nonton OVJ atau enggak, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang dia jawab disertai canda tawa di sela keseriusan membolak-balik martabak dalam wajan.

“o iya pak, ngomong-ngomong pake kompor gas gini gak takut meledak?” Tanya Sang Pemuda.“kalo saya takut, ya gak bisa jualan dong…”jawab si Bapak.“beneran gak takut, pak?” Tanya penasaran “takut sih, mas…!” jawab si Bapak perlahan.

“lebih takut mana, pak? gasnya meledak atau harganya naik?”. “ehhmmm…. Kalo bisa jangan dua-duanya deh! dua-duanya bikin susah orang kecil, mas!” hehehe… jujur inilah jawaban yang ditunggu.

“berarti ada yang salah ya pak? setuju gak?” selidik Sang Pemuda.“iya, ada yang salah…” si Bapak mengangguk tanda setuju.“kira-kira yang salah apa ya, pak?”

“rakyat itu gimana pemimpin yang di atasnya, jadi yang salah ya orang-orang yang di atas…!” hehehe…“emang waktu pemilu kemaren, Bapak ikutan nyoblos?”

“ikutan!” jawabnya singkat.“nyoblos partai apa?” “***” ga boleh nyebut merek. “terus kalo presiden Bapak milih siapa?”“****” (karena menganut prinsip RAHASIA, maka saya tidak mencantumkan pilihan si Bapak) “kalo boleh jujur pak, menurut Bapak ada perubahan gak sih sebelum dan sesudah pemilu kemaren itu?” Tanya Sang Pemuda. “sama aja lah, mas..! gak jauh beda!” hahaha… kena deh si Bapak.

“berarti masalahnya bukan HANYA terletak pada pemimpin atau orang-orang yang ada di atas dong pak, kan Bapak bilang sendiri, sebelum dan sesudah pemilu kemarin kondisinya sama, Apalagi kita udah milih Presiden berkali-kali, lantas hasilnya sama aja, nggak memberi perubahan apapun, apa nggak capek tuh?” terang Sang Pemuda.

“iya juga ya…!” jawabnya lugu. “Walaupun kita berkali-kali milih Presiden tapi sistemnya nggak diganti hasilnya akan tetap sama, tidak ada perubahan. Karena Presiden terpilih harus mengemban sistem/aturan yang sudah ditetapkan undang-undang.” Si Bapak terlihat bingung. “gampangnya kalo orang udah pakai baju rombeng, dekil dan kumal, mau yang pake artis hollywood atau korea tetap aja rombeng, gak bisa dibawa ke pesta kondangan. Maka bukan ganti orang aja solusinya, tapi ganti juga bajunya” terang Sang Pemuda dengan perbandingan sederhana. Si Bapak tampak mikir.

“kira-kira kalo masih ada umur, Pilpres besok Bapak mau ikutan nyoblos lagi gak?” “gak tau juga mas!”“ko’ gak tau?” “lihat nanti saja deh…”

Apa mungkin yang dia maksud, lihat saja nanti siapa yang paling baik mengumbar janji palsu khas pesta Demokrasi? Atau, lihat saja nanti siapa yang paling banyak memberikan “sumbangan” di detik-detik menjelang hari pencoblosan. Atau malah si Bapak tersadarkan hanya karena obrolan singkat sesaat menunggu martabak matang. Bahwa berharap pada demokrasi hanya akan menambah kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Entahlah… Obrolan pun akhirnya ditutup dengan 2 lembar uang 10 ribu dari Sang Pemuda dan 2 bungkus martabak serta uang 2 ribu dari sang penjual martabak sebagai kembali.

*** 

Sudah tampak jelas, demokrasi telah gagal menjadikan negeri ini lebih baik dan sejahtera. Sebaliknya, negeri ini makin rusak dan bobrok. Alih-alih menyelesaikan masalah, demokrasi dan sistem ekonomi liberal justru menjadi sumber masalah! Betapa tidak. Ongkos demokrasi yang amat mahal terbukti menjadi pemicu utama korupsi marak. Demokrasi yang dipropagandakan “dari, oleh dan untuk rakyat” pada praktiknya hanya untuk kepentingan para pemilik modal dan korporasi. Berbagai undang-undang liberal yang dihasilkan justru menyengsarakan rakyat. Bahkan demokrasi juga menjadi pintu masuk bagi negara-negara kafir penjajah untuk menguasai dan merampok kekayaan alam negeri ini.

Namun anehnya, demokrasi dan sistem ekonomi liberal tetap saja dipertahankan. Belum ada tanda-tanda sistem ini bakal dicampakkan. Apakah berbagai kerusakan dan kebobrokan yang ditimbulkan oleh sistem tersebut tidak membuat kita sadar? Apakah kita baru tersadar setelah kekayaan alam kita habis tak tersisa karena dirampok oleh negara-negara kafir penjajah?

Apakah kita akan sadar setelah produksi minyak di Indonesia yang sekitar 950.000 barel perhari (bpd) dikuras habis oleh asing? Dengan asumsi harga minyak adalah US$ 65/barel dan nilai tukar rupiah Rp 9000/US$ maka nilai minyak ini sekitar Rp 202 Triliun. Bila biaya produksi dan distribusi minyak ditaksir hanya berkisar 10% dari nilai tersebut, maka nett profit-nya masih di atas Rp 182 Triliun.

Apakah kita akan sadar setelah produksi gas sekitar 5,6 juta barel minyak perhari, dengan nilainya sekitar Rp 297 Triliun atau nett profit-nya sekitar Rp 268 Triliun itu disedot asing?

Atau produksi batubara yang sekitar 2 juta barel minyak perhari, dengan harga di pasar dunia sekitar 50% harga minyak, yang nilainya sekitar Rp 212 Triliun, atau nett profit-nya sekitar Rp 191 Triliun itu digunakan oleh asing?

Juga pertambangan emas dengan nilai pajaknya saja Rp. 6 Tiliun setahun. Dengan produksi sekitar 200 kg emas murni perhari yang berarti nett profit-nya mencapai Rp 30 Triliun pertahun itu dikuras Freeport dan Newmont? Belum ditambah produksi lainnya seperti timah, besi, tembaga, bauxit, bensin, kapur, pasir dan uranium. Nett profit-nya bisa mencapai Rp 50 Triliun. Semuanya masuk ke kantong asing.

Belum hasil laut, baik hayati, non hayati maupun wisata yang sekitar US$ 82 Miliar atau Rp 738 Triliun itu dinikmati oleh segelintir konglomerat?

Apalagi hutan Indonesia yang luasnya 100 juta hektar. Dan untuk mempertahankan agar lestari dengan siklus 20 tahun, maka setiap tahun hanya 5% tanamannya yang diambil. Bila dalam 1 hektar hutan, hitungan minimalisnya ada 400 pohon, itu berarti setiap tahun hanya 20 pohon perhektar yang ditebang. Kalau kayu pohon berusia 20 tahun itu nilai pasarnya Rp 2 juta dan nett profit-nya Rp 1 juta, maka nilai ekonomis dari hutan kita adalah 100 juta hektar x 20 pohon perhektar x Rp 1 juta perpohon = Rp 2000 Triliun pertahun. Namun sudah salah  kelola, rakyat pun tidak merasakan hasil karena aksi pembalakan liar dan illegal logging.[2]

***

Meski kebobrokan demokrasi demikian nyata, selalu ada pembelaan yang defensif dari para pengusungnya. Padahal banyak kalangan yang dengan jujur melihat keburukan demokrasi. Candra Muzzafar, Direktur Just World Trust (LSM di Penang Malaysia) dalam bukunya Hak-Hak Asasi Manusia Dalam Tata Dunia Baru menulis demokrasi hanyalah alat yang amat mencolok untuk melanggengkan kepentingan kepentingan ideologis dan ekonomi Barat yang sempit.

Tokoh Barat sendiri, Winston Churchil mengeluarkan deklarasi yang berbunyi, “Democracy is worst possible from of government (Demokrasi adalah kemungkinan terburuk dari sebuah bentuk pemerintahan).”

Benjamin Constan juga berkata, “Demokrasi membawa kita menuju jalan menakutkan, yaitu kediktatoran parlemen.”

Jauh sebelum itu, di Yunani kuno, tempat demokrasi itu berasal, tokoh pemikir dan filosof seperti Plato dan Aristoteles berpandangan bahwa demokrasi merupakan system yang berbahaya dan tidak praktis. Aristoteles bahkan menambahkan, “Pemerintahan yang didasarkan pada pilihan orang banyak dapat dengan mudah dipengaruhi oleh demagog dan akhirnya akan merosot menjadi kediktatoran.

Walhasil, demokrasi yang ideal hanya ada dalam khayal, tidak pernah membawa perubahan. Dan cita-cita mendirikan Negara demokrasi memberi kesejahteraaan yang membumi hanya ilusi.[3]

Satu-satunya harapan ummat hanya pada Islam. Dengan menerapkan seluruh hukum-hukum yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dalam bingkai Daulah Khilafah. 

Kewajiban menegakkan Khilafah telah banyak dijelaskan oleh para ulama. Tidak ada ikhtilaf di antara mereka. Bahkan Khilafah bukan sekadar kewajiban, tetapi kewajiban paling penting. Ibnu Hajar al-Haitami rahimahul-Lah dalam Ash-Shawâiq al-Muhriqah berkata:

اِعْلَمْ أَيْضًا أَنَّ الصَّحَابَةَ رِضْوَانَ اللهِ تَعَالَى عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ أَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ نَصْبَ الْإِمَامِ بَعْدَ اِنْقِرَاضِ زَمَنِ النُّبُوَّةِ وَاجِبٌ بَلْ جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِحَيْثُ اِشْتَغَلُوْا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ketahuilah juga, sesungguhnya para Sahabat ra. telah berijmak bahwa mengangkat imam (khalifah) setelah zaman kenabian adalah kewajiban. Bahkan mereka menjadikan Imamah/Khilafah sebagai kewajiban yang terpenting ketika mereka lebih sibuk memilih dan mengangkat khalifah daripada memakamkan Rasulullah saw.

Jadi, sungguh aneh jika masih ada di antara kaum Muslim yang meragukan dan menolak Khilafah, apalagi menghalangi perjuangan umat ini untuk menegakkan Khilafah. Aneh pula jika ada yang merasa pesimis dengan tegaknya Khilafah, bahkan menganggap penegakan Khilafah sebagai utopia, ilusi atau mimpi. Sikap ini tentu ironi. Mengapa? Pasalnya, kaum kafir saja tidak mengingkari kemungkinan Khilafah bakal tegak kembali. Buktinya, negara-negara kafir penjajah amat serius menghalangi tegaknya Khilafah. Itu artinya, mereka menganggap Khilafah adalah ancaman nyata bagi mereka.

﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ﴾

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi (TQS an-Nur [24]: 55).

Kabar gembira tentang Khilafah yang bakal kembali tegak juga diberitakan dalam banyak hadis. Dalam riwayat Ahmad, Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah akan datang setelah masa mulk[an] jabriyyan (penguasa diktator). Dalam hadis riwayat Imam Ahmad diberitakan bahwa Konstantinopel dan Roma akan dibebaskan. Konstantinopel berhasil dibebaskan oleh Sultan Muhammad al-Fatih, lalu diubah namanya menjadi Istanbul. Adapun Roma hingga kini masih belum pernah dibebaskan. Insya Allah, kota itu juga akan dibebaskan. Yang bakal membebaskannya adalah Khilafah. Bahkan dalam hadis riwayat Imam Muslim diberitakan, Rasulullah saw. pernah diperlihatkan ujung timur dan ujung barat bumi. Beliau menegaskan, kekuasaan umat beliau akan sampai ke seluruh bagian bumi yang diperlihatkan kepada beliau.

al-‘Alim al-Jalîl asy-Syaikh Atha` Abu ar-Rasytah. Beliau berkata:
Sungguh kami tengah berjuang, sedangkan mata kami melihat Khilafah dan hati kami berdebar-debar menyambutnya. Kami semua yakin Khilafah akan kembali tegak sebab Rasulullah saw. telah memberitahu kita dan menyampaikan kabar gembira kepada kita bahwa Khilafah akan kembali tegak. Beliau bersabda:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةٍ»

“Selanjutnya akan tegak kembali Khilafah ‘ala Minhâj an-Nubuwah.”

Semua ini adalah kenyataan yang mempertajam tekad, memperkuat kemauan dan menggembirakan hati.
Oleh karena itu, wahai kaum Muslim, sambutlah seruan perjuangan ini. Songsonglah janji Allah SWT dan berita gembira Rasul-Nya dengan penuh semangat. Bergabunglah dalam barisan umat bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah. Penuhilah panggilan Allah SWT:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar (TQS at-Taubah [9]: 119).[4]

Wal-Lah a’lam bi ash-shawab.


[1] http://kangkos.blogspot.com/2012/10/untuk-sang-kekasih.html
[2] Fahmi Amhar: Meramu APBN Syariah. Artikel Al-Wa’ie edisi …
[3] Ilusi Negara Demokrasi: Sebuah Pengantar HM. Ismail Yusanto, Negara Demokrasi: Memang Ilusi, Cet. I. Juli 2009. Hal 14-20.
[4]  Ust Rokhmat S. Labieb: Pidato Politik Hizbut Tahrir Indonesia: “Campakkan Demokrasi dan Sistem Ekonomi Liberal. Tegakkan Khilafah!” Pada KIP. Selasa, 27 Mei 2014 di SICC

0 komentar:

 

Free Music