Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 28 Januari 2013

Ladang Dakwah




Setelah diadakan rapat bersama beberapa orang teman ahad kemarin, terkait agenda dakwah yang akan direncanakan ke depan. Semua orang memberikan masukan yang sangat baik demi tercapainya target sebulan ke depan. Minimal bulan ini ada penambahan orang yang mau diajak kajian.

Saya yang saat itu memang belum ada agenda lain terkait kontak ahad pagi tersebut coba menyempatkan waktu pergi ke sawah. Tujuannya mencari tanaman yang biasa dijadikan obat-obatan seperti daun sirih, jawer kotok, daun kumis kucing dan katepeng (ini bhs org setempat menyebutnya). Ada beberapa tanaman tidak saya temukan mungkin karena sudah mati dan memang sudah dipindahkan dari tempat semula. Maka untuk menggantinya, setidaknya saya harus mencari bibitnya untuk ditanam di ladang sendiri agar ketika suatu waktu mebutuhkan bisa langsung memetiknya.



Sawah yang sudah menjadi tempat bermain saya bersama teman-teman waktu kecil sudah banyak berubah. Ada beberapa area yang sudah tampak berubah. Dari mulai jalan setapak hingga saung-saung kecil tempat para petani berteduh untuk istirahat sejenak.

Saung kerbau milik almarhum kakek yang saat ini dikelola oleh paman pun banyak perubahannya. Dulu banyak sekali tanaman yang tumbuh di sekitar saung dan terkadang saya menanam beberapa pohon seperti cabe, tomat dan jagung. Namun sekarang sudah tidak ada. Terlihat bersih memang hanya saja sangat tandus dan tdak sesejuk dulu yang banyak ditumbuhi tanaman.


Saung kerbau kakek tersebut menjadi tujuan pertama saya dalam pencarian tanaman obat. Di situ ada paman dan seorang laki-laki sedang duduk santai di atas bale. Keduanya asyik mengobrol. Saya menyalami mereka, menanyakan kabar dan basa-basi sekadarnya.


Sejenak saya berdiri di tepi kolam yang airnya kering. Tidak ada ikan yang hidup di situ, hanya ditumbuhi rumput-rumput liar dan kangkung rawa. Rupanya sengaja tidak dipelihara ikan karena mau dibersihkan lumpur-lumpur yang ada di dalamnya yang sudah terlihat meninggi. Walaupun masih pagi, sekitar pukul 09.00 namun semilir angin berhembus melewati rona-rona kulit. memberikan kesegaran dan kesejukan. Ah, suasana yang sudah lama saya rasakan karena memang sudah lama tidak main ke sawah. Ada kerinduan yang terobati. Sebuah kenangan manis sewaktu kecil yang membuat saya tersenyum ketika mengingatnya.



Hari minggu memang hari libur buat saya, namun tidak untuk para petani. Mereka bekerja dengan giatnya. Jika harus libur kerja maka mereka pun harus siap libur makan di rumah. Begitulah konsekuensi yang harus ditanggung. Bagi pemilik sawah mungkin bisa sedikit berlega, namun tidak bagi mereka yang bekerja serabutan. jadi kuli di sawah yang penghasilannya ditentukan dari banyaknya ia merawat sawah. Jika ditanami

Ada seorang petani yang menyudahi pekerjaannya sejenak. Ia membawa semprotan yang di gendong layaknya tas di punggungnya. Rupanya ia sedang membasmi hama yang ada pada tanaman cabai. Dari kejauhan ia berjalan mendekati saung dimana saya berada. Sesampainya wajahnya penuh keringat. Nafasnya terengah-engah. Saya beranikan menyapanya, "wah, udah beres nih?" sapa saya basa-basi. "Iya, beres tanaman yang di sana, tinggal menyemprot di tempat lain." jawabnya.


Biasanya memang para petani mempunyai beberapa lahan di beda tempat yang ditanam dengan tanaman yang sama agar hasilnya bisa melimpah. Jadi bisa sekalian diurus. Seorang petani yang menghampiri saya pada kesempatan itu bernama Rudi. Mang Rudi biasa orang menyapa. Tidak banyak yang tau, termasuk saya bahwa beliau ini termasuk orang yang berpendidikan. Lulusan sekolah penerbangan ini ternyata sempat menjadi Ketua Pengajian di desa. Saya tau dari penuturannya sesaat setelah duduk di samping saya di atas bale yang ada di saung.


"Kos..!" panggilnya pada saya. "masih aktif ngaji dengan ust Ari?" tanyanya yang sedikit membuat saya kaget. Ust Ari merupakan guru saya dalam perhalaqohan di kampung. Beliaulah yang mengenalkan ide-ide hizb pada saya dan masyarakat kampung. Ternyata aktivitas dakwah yang saya lakukan di sekitar kampung, tak disangka juga mendapat respon. Salah satunya oleh mang Rudi ini. Perasaan saya campur aduk saat itu. Antara senang dan gereget. Betapa tidak ketika apa yang saya sampaikan selama ini berarti telah didengar dan menjadi pembahasan dalam masyarakat. Gereget karena mereka belum bisa melihat realita yang sebenarnya betapa permasalahan ummat ini sudah semakin parah dan tidak ada lain solusinya adalah Islam. Sengaja saya tidak banyak biacara, berharap bisa mengumpulkan informasi terkait pandangannya pada aktivitas dakwah yang saya lakukan.


Benar saja, ia langsung menyinggung terkait apa yang sering kami sampaikan pada masyarakat. Memang benar dalam khutbahnya Ust. Ari sering menyinggung tentang pemerintahan. Namun bukan bermaksud ingin mengadu domba atau bahkan menjelek-jelekan kinerja pemerintah. Tidak. Yang kami singgung adalah tentang penerapan hukum Islam dalam semua aspek kehidupan baik individu, masyarakat maupun pemerintahan. Saat ini pemerintahan kita sama sekali tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidup. 


Namun perbincangan kami akhirnya menyerempet ke pembahasan seputar furuiyyah. Tidak mau terjebak, saya mencoba memberikan penjelasan yang gamblang dan tidak langsung menghakimi. Misalkan beliau yang aktif sebagai jamaah Muhammadiyah mengkritik kegiatan tahlillan yang sering diadakan hampir di tiap mushola. menyinggung Qunut subuh dll.


Saya langsung menjelasakan pendapat Imam Asy-Syafi'ie terkait pengambilan suatu hukum dari hasil ijtihad seorang ulama. "Pendapat saya benar walaupun memungkinkan salah dan pendapat orang lain salah walaupun memungkinkan benar. Sebaliknya, pendapat saya salah walaupun memungkinkan benar dan pendapat orang lain benar walaupun memungkinkan salah."


Mendengar penjelasan saya di atas, beliau tersenyum dan menerima. Sengaja saya tidak mencari perdebatan karena memang bukan pada perkara yang mesti diperdebatkan. Akhirnya, beliau izin ingin melanjutkan pekerjaannya. Saya pun mempersilakan dan meminta untuk berdiskusi kembali di lain kesempatan.


Tak disangka yang pada awalnya saya niatkan untuk mencari udara segar di sawah, saya menemukan sebuah diskusi yang sangat bermanfaat. Sawah bukan hanya sebuah ladang untuk bertani tapi juga bisa dijadikan ladang untuk berdakwah.


0 komentar:

 

Free Music