Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 06 Desember 2012

Syirkah Mudharabah*)




Bisnis adalah salah satu pilihan cara untuk menghasilkan materi. Dalam bahasa para pengusaha meraih profit atau berkat. Tentu tidak ada yang salah ketika ada yang punya pilihan lain, misalnya jadi pekerja. Berkarir menjadi pebisnis maupun pekerja adalah pilihan yang memiliki timbangan sama, karena dua-duanya bukan tujuan tetapi sebatas cara untuk mencapai tujuan. Hanya saja menjadi pebisnis memiliki nilai lebih dibandingkan pekerja seperti; memiliki pendapatan sendiri, membuka kesempatan kerja, relasi semakin luas, wawasan bertambah, waktu keluarga lebih banyak dan hobi tersalurkan. 


Hanya saja tidak sedikit para pengusaha yang terjebak riba dalam masalah permodalan. Di akhir zaman ini, praktik riba telah nampak di mana-mana. Dalam lingkup masyarakat  terkecil hingga tataran negara praktik ini begitu merebak, baik di perbankan, transaksi bisnis, lembaga perkreditan, bahkan sampai arisan warga. Entah karena kaum muslimin bisa jadi tidak mengetahui hukum, bentuk dan bahaya riba, atau pun bisa jadi karena mereka sudah tahu, tetapi tetap juga dilanggar. Penyakit “wahn” (cinta dunia dan takut mati) telah menyebabkan manusia akhir zaman ini menghalalkan segala macam cara untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya, termasuk dengan cara riba. Sungguh, benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,


 “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari).


Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang di dalamnya mereka memakan riba. Ketika beliau Saw ditanya, ‘Apakah semua orang (melakukannya)?’ Maka beliau Saw menjawab, ‘Barangsiapa yang tidak memakannya dari kalangan mereka maka ia tetap terkena getahnya.(HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i & Ibnu Majah).


Oleh karena itu, sangat penting pemahaman tentang riba disampaikan kepada kaum muslimin agar tidak terjebak pada transaksi ribawi dengan segala bentuknya, apalagi bagi para pengusaha yang akrab melakukan transaksi bisnis dan mainstreamnya sangat lekat dengan transaksi ribawi. Hal ini penting dipahami agar bisnis yang dilakukan penuh dengan keberkahan dan diridhai Allah SWT.


Lalu bagaimana solusi praktis untuk mengatasi permasalahan permodalan  dalam dunia bisnis agar tidak terjebak riba? Pola yang ditawarkan Islam adalah dengan model syirkah. Salah satunya dengan syirkah mudharabah (kerjasama bagi hasil). Yakni seseorang menyerahkan hartanya kepada orang lain agar orang lain itu membisniskan harta tersebut dengan ketentuan keuntungan yang diperoleh dibagi kepada mereka sesuai dengan kesepakatan (Lihat, an-Nabhani, Nizhâm al-Iqtishâdî fî al-Islâm, hlm. 156; Ibn Qudamah, Al-Mughni, hlm. 134-135). Dengan kata lain, Syirkah mudharabah adalah kerja sama antara dua pihak, yaitu pemodal (shohibul maal) dan pengelola (mudharib). Shohibul maal akan memasukkan modalnya pada suatu usaha yang dikelola oleh mudharib. kemudian mudharib mengelola usaha secara profesional dengan target menghasilkan keuntungan. Dalam syirkah mudharabah tidak hanya bagi untung, tetapi juga bagi rugi apabila dalam perjalanan usahanya mengalami kerugian.


Mudharabah itu bisa dalam tiga bentuk. Pertamamudharib ikut andil modal ditambah modal dari syarik (mitra) lainnya. Keduamudharib hanya andil tenaga, sementara modal dari syarik lainnya, misal antara satu orang pengelola dengan dua orang pemodal. Ketiga: dua orang sama-sama mengelola dengan modal berasal dari salah satu diantara mereka. Bentuk ketiga ini oleh Ibn Qudamah dalam Al-Mughni wa Syarh al-Kabîr dinilai sebagai bentuk mudharabah.


Mudharabah adalah syirkah (kemitraan) yang halal secara syar’i. Al-Kasani dalam Badâi’ ash-Shanâi’ menyatakan bahwa orang-orang biasa melakukan akad mudharabah dan Nabi saw. tidak mengingkari mereka sehingga hal itu merupakan persetujuan (taqrîr) dari Nabi atas kebolehan mudharabah.


Ad-Daraquthni meriwayatkan bahwa Hakim bin Hizam juga menyerahkan harta sebagai mudharabah dan mensyaratkan seperti syarat al-‘Abbas.Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-‘Ala’ bin Abdurrahman bin Ya’qub dari bapaknya dari kakeknya bahwa Utsman memberikan harta secara mudharabah. Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dari Abdullah bin Humaid dari bapaknya dari kakeknya bahwa Umar ra. pernah menyerahkan harta anak yatim secara mudharabah. Imam asy-Syaukani dalam Nayl al-Awthar, setelah memaparkan sejumlah atsar itu, menyatakan, “Atsar-atsar ini menunjukkan bahwa mudharabah dilakukan oleh para Sahabat tanpa ada seorang pun yang mengingkari sehingga hal itu menjadi ijmak mrereka bahwa mudharabah adalah boleh.”Ibn al-Mundzir di dalam Al-Ijmâ’ menyatakan, “Para ahli ilmu telah berijmak atas kebolehan mudharabah secara keseluruhan.”


Terkadang seseorang yang memiliki modal merasa bingung menginvestasikan hartanya agar bisa berkembang. Sebaliknya para pengusaha merasa kewalahan dengan usahanya dikarenakan kekurangan modal. Dari fenomena ini, ada bagusnya jika ada SINERGI antara pemilik modal dan pengusaha dalam melakukan sebuah bisnis. Dengan modal yang cukup dari investor, ditambah pengalaman yang mumpuni dari pengusaha diharapkan akan menghasilkan keuntungan bagi kedua belah pihak.


Oleh karena itu, Kami mengajak kepada Anda yang memiliki kelebihan rizki untuk bergabung bersama Sinar Mustanir menginvestasikan hartanya agar semakin berkembang. Mengambil istilah mata uang dalam bahasa inggris adalah currency. Berasal dari kata current yang bermakna arus. Sehingga uang itu bukan untuk ditabung, melainkan diputar kembali agar bergerak. Dan hal itu bisa dilakukan salah satunya dengan cara menjadikannya sebagai modal dalam berinvestasi.


*(Dibuat sebagai pengantar dalam Proposal Usaha)

0 komentar:

 

Free Music