Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 14 Desember 2012

Dari Sarang Nyamuk Hingga Pelihara Cupang


cupang halfmoon

Siang tadi cukup panjang saya menghabiskan waktu di tempat kerja. Pasalnya, jadwal yang harusnya pulang diundur jadi malam minggu besok. Wal hasil, jumat yang penuh berkah saya gunakan pagi harinya untuk bersih-bersih di tempat mes. Maklum, udah kayak kebun binatang aja, sampah dimana-mana. Belum lagi, teman teman nruh barang di sembarang tempat. Heeuh, pokoknya berantakan semuanya.


Saya mungkin termasuk orang yang kurang betah klo ngeliat kondisi sekitar kotor :D Rasanya gatal banget deh klo berada di tempat gitu. Makanya paling tidak seminggu sekali saya bersih-bersih itu tempat. Biar gak keliatan mirip kebun binatang.

Di tempat mes, saya tidur sama teman-teman, sekitar empat orang. Semua merupakan teman kerja di Server Pulsa. Hanya sesekali teman yang lain seperti mantan pegawai yang udah keluar mampir main. Kadang nginep semalam. Dan salah satu alasannya ya akses internet gratis melalui jaringan kantor tempat saya kerja. Karena tempat mes berada di belakang kantor tempat saya bekerja, masih satu gedung. Teman-teman paling asyik deh kalo main, ya sekadar liat keadaan kami. Dan sekalian deh, pasang laptop, sambungkan denga wireless kantor. Tadaaaaa, akses internet pun didapatkan dengan kecepatan super mantap. 

Namun malam kemarin ada salah seorang teman membawa oleh-oleh saat berkunjung. Dia membawa dua ekor ikan cupang dalam botol kecil. Klo ditebak harganya sekitar 3 ribuan. Saya jadi teringat akan masa kecil saat asyik-asyiknya main bersama teman. Dulu saat masih sekolah dasar, pernah saya sisihkan uang jajan untuk membeli ikan cupang. Harganya pariasi, mulai dari 500 perak sampai ada yang 5000 per ekornya. Saya membeli ikan dengan ukuran kecil. Setelah pulang sekolah biasanya kami berkumpul dan mengadu ikan dengan ikan yang lain dalam satu wadah. Tak jarang kami pun teriak bergembira dan sangat terhibur.

Itu masa kecil yang taunya hanya kesenangan, main dsb. Alhamdulillah, saat ini saya udah memahami bahwa mengadu-adukan hewan (termasuk ikan cupang) merupakan perbuatan yang kurang manusiawi. Tidak memiliki peri-kecupangan (hehe..) Coba pikir, mereka adalah makhluk hidup. Sama seperti manusia. Seandainya kita diadu domba (adu manusia kali) tentu akan merasa sakit dan marah sekali. Perteman akan jadi hancur. Tentu saja itu juga terjadi pada hewan. Hanya saja mereka kan nggak punya perasaan jadi nggak bisa tuh membedakan mana yang baik dan buruk. Artinya ketika mereka diadu, hanya ada satu pikiran mereka yakni mengalahkan musuh. Itulah satu-satunya hal yang harus mereka lakukan. Sudah menjadi tabiat binatang.

Lalu bagaimana jika hal itu terjadi pada manusia. Jika dalam pikiran kita adalah bagaimana caranya agar orang lain jatuh dan kita menjadi seorang pemenang atasnya. Bukankah itu adalah cara binatang menghalalkan segala cara apapun asalkan tujuan mereka tercapai, yakni menghancurkan musuh. Itulah sedikit perbedaan antara manusia dengan binatang. Bisa dilihat dari cara melakukan sesuatu, apakah dilakukan dengan berfikir terlebih dahulu ataukah tidak.

Kembali ke ikan cupang lagi, kita tahu salah satu makanannya adalah cacing dan ikan-ikan kecil. Biasanya perlu disusuri di tepi sungai untuk menemukannya. Sedikit harus ada usaha untuk mencarinya. Sempat terpikirkan dalam benak saya ketika teman membawakan dua ekor ikan cupang itu. Untuk mencari makannya berarti saya harus turun ke kali untuk mencari makanannya berupa ikan-ikan kecil atau menggali tanah mencari cacing.
Siklus perkembangan nyamuk
Tiba-tiba saya ingat pada salah satu ember berisi air yang disimpan dekat tangga (tepat dimana kami melepaskan alas kaki). Hampir tiap hari air menetes dari lantai tiga dan tetesan itu kami tadahi dengan ember bekas dirigen. dan air pun akan terkumpul penuh setelah tiga hari. Dengan waktu tersebut, ternyata ada yang memanfaatkan genangan air tersebut, mereka adalah nyamuk. Mereka bertelur dan mengembangbiakan keturunan mereka dalam genangan air tadi. Pernah saya perhatikan jumlahnya sangat banyak untuk ukuran satu ember. Untuk mencegah perkembangbiakan terlalu banyak, kami segera membuangnya ke kamar mandi.

Namun setelah melihat ikan cupang yang kelaparan, saya berinisiatif untuk memberi makan cacing-cacing kecil hasil penetasan telur dalam ember penampung air. Perlu diketahui bahwa siklus perkmbangbiakan nyamuk memerlukan beberapa periode. Dari telur membentuk larva (jentik nyamuk), kemudian menjadi kepompong hingga akhirnya menjadi nyamuk.

Nah, jentik-jentik nyamuk itulah yang bisa menjadi makanan dari ikan cupang. Pasalnya, dengan pakan tersebut, kualitas ikan cupang akan menjadi lebih baik dan agresif. Ini terlihat ketika mereka dibiarkan memakan larva nyamuk dalam ember penampungan. Setelah dipindahkan ke tempatnya semula dalam botol-botol kecil mereka menjadi lebih lincah.

Wal hasil, sesuatu yang kita anggap buruk awalnya, yakni adanya kebocoran yang harus ditampung dengan ember, hingga menyebabkan nyamuk-nyamuk berkembangbiak. Tapi semua bisa diatasi dengan memasukan ikan cupang kedalam ember tersebut dan secara otomatis ikan akan memakan semua jentik-jentik nyamuk tersebut. 

0 komentar:

 

Free Music