Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sabtu, 03 November 2012

Kisah Seorang Teman



 
Seseorang (diukur) berdasarkan agama temannya; maka hendaklah salah seorang di antara kamu melihat siapa yang ia jadikan kekasih (teman).” (HR.Abu Daud, dishahihkan Syaikh al-Albani
Pagi ini saya saya mendapatkan sms dari seorang teman. Rumahnya nggak jauh dari rumah saya, hanya beberapa langkah saja. Dedy namanya. Umurnya 5 tahun lebih tua dari saya. Prestasinya dibidang akademik tidak perlu diragukan lagi, dari  SD hingga SMP dia selalu dapet rangking satu. Hanya saja pas SMP kelas tiga, dia juara dua. Beda tipis nilainya dengan teman sekelasnya yang seorang wanita.

Sayangnya, karena hidup berkekurangan, ia pun tak berani melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Ditambah sang ayah sudah lama pergi meninggalkannya, lebih dulu menghadap Sang Ilahi. Sebenarnya jika ia mau melanjutkan sekolah ke SMA, kakak-kakaknya mau membiayai hingga lulus. Ia anak ke lima dari enam bersaudara (setahu saya). Namun ia lebih memilih untuk bekerja di sawah membantu Ibunya sebagai seorang petani. Ia tidak mau memberatkan siapapun.

Kedekatan saya dengannya berawal dari sering kami bertemu di Masjid dan Mushala untuk shalat berjamaah. Obrolan-obrolan kecil pun menjadi kegiatan rutin kami. Mulai dari pelajaran-pelajaran di sekolah sampai perkara agama. Dengan kemampuannya memahami ilmu secara otodidak membuatnya selalu diminta membantu mengerjakan PR anak-anak yang masih sekolah, termasuk saya dulu saat duduk di bangku sekolah.

Obrolan di pelatara Masjid
Beberapa bulan setelah saya aktif mengikuti kajian keislaman, saya pun mengajaknya untuk sama-sama belajar. Tidak jarang saya banyak bertanya tentang Islam padanya sebagai perbandingan. Dari diskusi itulah sedikit demi sedikit Islam yang saya jelaskan sejalan dengan pemahamannya. Dia pun istiqomah berjuang bersama dalam gerak dakwah.

Semangatnya luar biasa, berbagai taklif (beban hukum) dakwah ia jalankan dengan senang hati berupa kontak tokoh, menyebarkan buletin al-Islam ke masjid dan mushala sekitar desa, leaflet dan undangan acara daurah, tabligh akbar dll. Walaupun saya sudah mempunyai kelompok kajian tersendiri, namun untuk menyemangatinya saya pun ikut kajian bersamanya yang dipimpin seorang ustadz Ari M. Permana. Jadi saya ikut double kajian dalam seminggu. Hari ahad bersama teman-teman satu kelompok awal dan malam rabu (sesaat ba'da isya) di rumah Ust Ari untuk menemani Dedy.

Moment saat mengikti masyirah di Jakarta

Pernah suatu ketika dalam jadwal kajian halqoh turun hujan. Karena derasnya hujan dan gelap akibat mati lampu, saya pun memperkirakan kajian malam ini diundur. Sambil tiduran di ruang tamu, menunggu lampu menyala, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Tok..tok.. "Assalamu'alaikum...!!!" Siapa yang datang hujan-hujan gini pikirku dalam hati.

"Ia, wa'alaikum as-salam warahmatullahi wa barakatuh..." jawabku sambil melemparkan senyum. Ternyata Dedy. Lengkap dengan baju koko dan sarungnya, tidak lupa peci hitam pun menghiasi kepalanya menenteng sebuah bungkusan hitam.

"Hayu, Halqoh moal?" tanyanya pada saya. "Lha, kan hujan, mati lampu lagi. Udah izin aja sekali-kali, pasti ust Ari juga memaklumi." jawabku menolak ajakannya untuk ikut kajian. "Ih, kan udah diakadkan kita halqoh sekarang. Lagian nggak ada akad awal kalo hujan halqoh diliburkan.." jelasnya.

Heem, demi menjaga semangatnya dalam aktivitas dakwah, saya pun segera siap-siap. "Oke, tunggu sebentar ya, ganti baju dulu" pintaku.

Kemudian kami bergegas menuju kediaman ust. Ari untuk mengikuti kajian halqoh. Setelah kami mengucapkan salam sambil mengetuk pintu, terdengar salam kami dijawab dari dalam dan tidak lama pintu terbuka. Beliau sempat kaget dan tersenyum simpul. "Eh, masuk-masuk..." beliau mempersilakan kami duduk. 

Saat kami bertukar pikiran

Karena saat itu mati lampu, tentu agak kesulitan kalau kita membahas kitab. Jadi saat itu hanya diskusi ringan seputar Islam dan sesekali menanyakan perihal tentang kitab yang dibahas. Sehubungan saya belum sempat muthalaah (mengkaji) sebelumnya, saya agak kesulitan menjawab berbagai pertanyaan tentang kitab yang dikaji. Namun itu tidak terjadi pada Dedy. Ia berhasil menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan padanya. Luar biasa. 

Itu sedikit pengalaman saya bersamanya ketika melewati perjalanan dakwah. Hanya saja rintangan itu semakin lama semakin berat. Halangan dari keluarga membuatnya sempat terseok dari jalan dakwah. Dengan tetap semangat dan istiqomah ia jalani setiap lekuk dakwah. Manis pahitnya dakwah sudah ia rasakan. Jangan pernah menyerah dan tetap yakin, bahwa kemenangan besar yang akan kita raih akan menambah ketinggian dan kemuliaan kita dihadapan Allah kelak. Insya Allah ^_^

0 komentar:

 

Free Music