Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 11 Oktober 2012

Untuk Sang Kekasih Gelap



Saat tinggal di depok beberapa tahun lalu, gue berkumpul dengan banyak teman. Ada yang seneng nongkrong -untungnya masih dalam koridor yang baik-baik aja kayak depan masjid, warkop dan rumah salah satu temen yang lain. Kadang suka main bola bareng, bermain di Stadion Makaham di belakang SMPN 3 Depok.  Teman-teman di sana terbilang unik. Hemm, disebut alim nggak juga, mereka masih kurang dalam pemahaman agamanya. Coba aja suruh mereka baca qur'an pasti hanya sebagian yang lancar. Membaca saja masih kurang lancar, apalagi diminta menjelaskan isi al-Qur'an. Disebut 'nakal', alhamdulillah gue belum pernah denger tuh kabar 'macem-macem' soal mereka, sebagiannya masih rajin ibadah, minimal ngeramein masjid lah. Sebagian besar dari mereka masih mau shalat berjamaah serta hadir saat ada acara pengajian yang dipimpin oleh Ustadz dan Habaib setempat.


Ya, gue lebih seneng panggil mereka dengan sebutan anak remaja masjid yang lagi belajar. Terbukti, kemauan mereka dalam memahami agama bisa dilihat dengan terbentuknya sebuah Majlis Ta'lim Remaja yang langsung diasuh oleh ustadz setempat yang nggak lain paman gue sendiri.

Ada cerita menarik yang masih gue ingat saat ngobrol dengan salah satu teman. Dia bertanya, Koy (panggilan akrab gue di sana), ente punya pacar nggak? seorang teman memulai pembicaraan. Ups, tenang saudara-saudara, ini bukan acara penembakan karena yang bertanya itu cowok. Lha siapa tau doi suka sama elu koy?! Haha, yang bener aja? Gini-gini gue masih normal kali.

Saya lupa dulu siapa yang bilang gitu tapi gue ingat betul saat itu sempat jawab, “gue nggak punya pacar tuh. Dan maaf, kayaknya gue nggak niat pacaran deh.”

Terlihat dahi mereka mengkerut, heran, bingung bercampur jadi satu, “Trus kalo lu nggak pacaran gimana bisa kenal sama calon isteri lu nanti? Kan pacaran bisa menjadi cara agar kita mengenal siapa calon kita?” tanya salah seorang.

Saat itu gue bilang, “Mengenal nggak harus dengan pacaran." Sok berwibawa ngerti gitu gue. Kebanyakan orang pacaran tidak punya batasan mana yang boleh dan mana yang nggak boleh. Mana yang halal dan mana yang haram. Artinya mereka udah nggak punya batasan mutlak tentang aktivitas mereka. Kan klo gini bener-bener udah melampaui batas." jelas gue menggebu-gebu. 

"Pengenalan di sana bermakna mengetahui apa-apa yang dimiliki sang pacar, baik dari luar maupun dalamnya. Seperti orang yang sudah memiliki suatu barang, kira-kira apa yang mau dia lakuin ama itu barang? Tentu Ia merasa berhak melakukan apa saja terhadap barang yang dimilikinya. Padahal itu belum sah dan nggak ada jaminan dia bakal berjodoh nantinya.”

Itukan namanya usaha koy.” teman saya coba berargumen, rencananya mau membela diri tapi keburu gue potong.

Usaha apa? Usaha cari kepuasan buat nurutin hawa nafsu?” tanya gue retoris.
 
“ …....” temen-temen semua diam nggak ngomong sama sekali, mungkin lagi sariawan pikir gue.

Hening sejenak, gue perhatiin ada yang lagi mikir, ada yang garuk-garuk padahal nggak gatal. Ada lagi yang ngangguk-ngangguk sok ngerti walaupun mungkin nggak tau maksudnya apa. Ada yang asyik dengan gitarnya sambil mendendangkan lagu andalannya. 

Iwak peyek... iwak peyek...
Iwak peyek... nasi jagung...
.........

-__-  bercanda, lagu itu belum ngetrend saat itu. Lupa ya lagu apa ya dulu? Gue lanjutin aja.

Tapi jujur aja nih, gue sebenarnya juga punya pacar kok”. Sebagian dari mereka tertarik dengan ucapan gue barusan.  “Wah yang bener koy? Berarti lu nggak konsisten dong." tanya seorang teman. "Tadikan katanya nggak mau pacaran tapi ternyata diam-diam udah punya pacar." sambungnya minta kejelasan. “Cerita dong koy, anak mana dia, cantik nggak?” seorang teman penasaran.

Gue punya seorang pacar tapi gue nggak tau dia dimana.!?" teman teman tambah bingung. "Lha kok bisa?" tanya seorang teman. "Ia ciyus serius, gue punya pacar tapi nggak tau wajahnya kayak gimana, rumahnya di mana, siapa orang tuanya nggak tau." beberapa teman ada yang bengong gak ngerti maksud gue itu apa. "Hanya saja gue lebih senang menyebutnya kekasih bukan pacar, tapi bukan kekasih biasa lho. Dia termasuk Kekasih Gelap bagi gue.lanjut gue sambil menyanyikan sebuah lagu yang dibawakan Pasha dkk. di group Band Ungu.

Ku mencintaimu, lebih dari apapun
Meskipun tiada satu orang pun yang tahu
Ku mencintaimu, sedalam-dalam hatiku
Meskipun engkau hanya kekasih gelapku...


"Ah, nggak asyik lu koy, kirain serius". Semua tampak kecewa dikira gue lagi bergurau. Ekoy..ekoy.. (gue pake istilah seorang teman, maksudnya Oke..oke) gue ceritakan deh apa makna kekasih gelap. Ini gue ambil dari salah seorang bloger, Akin. Ia menuturkan dalam blognya

Kekasih gelap…

Yah bilang aja gitu, soalnya sosoknya hingga kini emang misterius.
Jangankan wajahnya, bahkan bayangannya pun tak terjangkau. Iihh jadi gemes! sebegitu gelapnya dan terlampau misterinya!

Kekasih gelap…

Makanya gue bilang ke orang-orang tatkala ditanya tentang kekasih…. siapa bilang gue gak punya kekasih! Gue udah punya lagii…. kekasih gelap malah. Iya, bahkan gue dan dirinya udah dijodohkan. Bukan sembarang perjodohan. Yang menjodohkan adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Kuasa segala-galanya.

Kekasih gelap….

Gue cuma tersenyum sinis sembari leng geleng geleng tatkala ngelihat yang lain tertipu dengan fatamorgana. Fatamorgana yang mereka katakan cinta…. Mereka berdandan seronok, menghiasi tubuhnya, melumasi bibirnya… demi satu hal…. ngedapetin kekasih semunya. Sementara disini gue terlampau tenang, hati gue telah nyaman…. gue gak perlu ikut-ikutan dalam dandanan nyentrik mereka, gue gak perlu terjerembab mengarang rayuan-rayuan gombal… gak perlu banget! Karna gue telah memiliki loe…. kekasih gelap gue….

Kekasih gelap…..

Sebuah anugerah indah yang telah dipersiapkan semenjak diri ini tercipta. Sebagaimana kelahiran, kematian, dan rizki telah terpatrikan, maka kekasih pendamping pun telah tergariskan. Tinggal bagaimana azzam kita dalam menggapai garisan itu. Sang kekasih gelap, pelengkap rusuk…. lebih dari itu…. dirinya pelengkap diri… sayap-sayap yang membawa raga melayang arungi samudera.

Kekasih gelap….

Firman Allah telah gamblang terurai….. Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik…. serta sebaliknya. Jadi, kekasih gelap…. berjanjilah pada gue, loe mesti persiapkan diri…. jadilah kekasih gelap yang cemerlang dengan keshalihahannya…. sementara doakan diri gue ini juga bisa meniti mengimbangi diri loe. Gue gak ingin perjodohan kita yang telah terjalin malah membuahkan kebusukan. Cita gue, kita, sepasang merpati yang bersujud bersimpuh bersama ke hadiratNya. Dalam peluk erat sayap-sayap kita mengangkasa menuju MardhatillahNya.

Kekasih gelap….

Cinta adalah cahaya ghaib yang bersinar dari kedalaman kehidupan yang peka dan mencerahkan segala yang ada di sekitarnya. Cinta kita pengennya cinta yang suci, yang tak mengabur oleh debu-debu dunia. Cinta kita sesejuk embun pagi, sehangat mentari, sedamai awan-awan membiru di cakrawala.

Kekasih gelap….

Namun bila loe tanyakan ke gue, seberapa besar cinta gue ke loe. Maka maafkan gue… loe bukan cinta pertama gue. Maafkan sekali lagi, karena loe hanya gue jadikan yang kedua, malah bisa jadi yang ke tiga keempat, atau bahkan ke tujuhbelas.

Loe cemburu? Aaahh… sirnakan cemburu loe itu sayang. Karna loe gak pantas cemburu kepada cinta-cinta pertama gue. Telah terteguhkan cinta, telah tertambatkan sayang kepada Yang Maha Sayang, Kemudian pada kekasih penyampai risalah agung, kemudian kepada jalan berduri perjuanganNya. Hingga bila satu ketika loe gue acuhkan tatkala beromansa dan bercumbu dengan cinta-cinta pertama…. jangan sekali-kali loe mengirikannya yaa. Janji yaaa…

Kekasih gelap….

Gelap, rahasia, yang kadang terlampau mengejutkan. Sebagaimana cinta yang sempat berbuah fitnah dari Zulaikha yang mampu menjebloskan Yusuf dalam pekat penjara. Tahun berganti tahun kemudian, keajaiban cinta membuktikan bahwa jodoh tak bisa disangkal. Yusuf pun mengulurkan tangan lembutnya kepada Zulaikha, sirnalah cerita lama.. cinta pun mekar bersemi.

Sulaiman menantang rivalnya Ratu Bulqis, sang Ratu kerajaan Saba. Perang bisa saja tumpah. Namun jodoh adalah rahasia. Singkat cerita terabadilah kedua namanya sebagai pasangan yang terberkahi. Kembali… cinta pun mekar bersemi.

Kekasih gelap….

Begitu cantik….. begitu mempesona….
Namun sayang, sebegitu berartinya kah paras cantik sehingga diri loe menghabiskan waktu dan kocek loe untuk mencapainya? Loe rekonstruksi wajah loe, loe coreng dengan warna-warni palsu, loe robek-robek pakaian loe, loe genitkan ayunan langkah loe.

Loe tahu nggak sayang, bila begitu malah sesungguhnya loe sedang merusak sebuah kesempurnaan yang telah tercipta. Kecantikan hakiki tumbuh bukan dari pesona gincu dan perona pipi, namun dari sinar taqwa yang merekah cerah dari dalam jiwa.
Jadi hapus make up loe. Nggak perlu semua itu. Basuhlah dengan air wudhu…. poleslah dengan akhlak bermutu. Hingga decak kagum tetap membuat rona mukamu menunduk tawadhu…

Kekasih gelap…..

Izinkan gue buka tabir kegelapan loe…. izinin yaaa…. sedikiittt ajaaa…. gak pa pa yaaa…

Brak!!

Loe tepis kasar.

Belum saatnya! Ucap loe tajam.

Cinta jangan ternoda. Hanya ikatan suci pernikahan yang berhak menjamahnya. Lanjutnya…

Tapi kan dikiiittt ajjaa, rayu gue.

Kagak bisa! Tegas loe. Setan berlalu lalang, jangan biarkan celah sempit jadi pintu gerbang yang lebar. Bukankah kita telah berjanji akan terus menjaganya. Suara loe menjadi getir.

Hehehe… gue juga tadi cuma bercanda kok. Iya deh…. gue janji gak bakalan nyoba-nyoba lagi…

Diam loe pekat…. dan loe menghilang lagi…. Tak sempat secuil pun gue gapai hadir loe…

Kekasih gelap…..

Paras cantik bukan segala, harta melimpah tidaklah seberapa, keturunan mulia pun tidak utama. Mengikut sabda Rasulullah, maka agamalah…. maka taqwalah fokus semua. Jadi jangan loe kecewa bila loe gagal menemui tiga yang pertama dalam hidup gue. Namun, Ya Allah bila memang Engkau izinkan, maka biarkan hiasan taqwalah yang menjelma di diri…. dan sempurnalah dari segala kecacatan semu.

Kekasih gelap…..

Maafkan gue, karena cinta kita bisa jadi takkan seindah lafal novel romeo dan juliet yang bertabur bunga. Nggak, gue ’cuma’ bercita membawakan semerbak cintanya Ali dan Faimah yang sederhana namun menggetarkan dunia. Cinta kita bisa jadi tak seabadi bunga adelweis. Nggak, gue ’cuma’ bercita mengabadikan cinta kita seabadi dan seindah wangi bebungaan jannah.

Terlalu muluk. Diri kita terlampau nista tuk mencapainya. Tapi apa salah gue bila gue mencitakan bahagia?

Kekasih gelap…..

Cinta kita akan bertabur darah. Darah perjuangan tuk menegakkan kalimatullah. Elok muka loe bakal tergurat dengan getir perjuangan. Mulus telapak kaki loe akan mengapal tergores-gores duri pedih juang. Namun di saat itu teruslah basahi bibir loe dengan pekik-pekik perjuangan, saat-saat seperti itu tetap fokuskan lensa mata loe menatap surga keabadian yang dijanjikan.

Kekasih gelap…..

Suatu ketika bila sayap gue melemah mengepak

Hancur patah repih meringkuk

Maka dari sepenuh sisi gue, sokonglah kepakan itu, hingga walaupun dalam tertatih terseok, terbang kita terus melaju.
Percayalah… Allah senantiasa ada bersama kita… dalam suka bertahmidlah, dalam duka bertakbirlah. Zikir kita mengalun bersama semesta.

Kekasih gelap……

Terpisah jarak dan waktu…. terpisah oleh tanda tanya tak menentu…. tapi yakin gue layaknya keyakinan akan terbitnya mentari esok pagi. Bahwa Allah tak pernah mengingkari janji. Hingga kedua kekasih gelap menjelma jadi satu bahtera. Barakallahu lahum.

Kekasih gelap……

Uraikan sajadah panjang loe….. dari bilik sebelah sini juga gue uraikan sajadah panjang gue… hingga di sebuah tempat entah dimana… bersama alunan nada-nada doa, kedua sajadah panjang kita tadi bersua menyatu.

Terakhir, gue pakai kata-katanya Rindu Ade di salah satu status dalam facebooknya.

Hidup adalah misteri, termasuk jodoh, justru karena kita tidak tahu siapa jodoh kita, kapan bertemunya, maka hidup kita menjadi lebih indah, berwarna dan bermakna. Sadari bahwa kita adalah hamba Allah yang sedang menikmati indahnya berjuang, menikmati kesungguh-sungguhan ikhtiar, menikmati indahnya meminta pada Allah, menikmati indahnya memohon pertolongan pada Allah, menikmati indahnya bersabar, menikmati ‘kejutan-kejutan' yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita, termasuk jodoh.


Ya karena kita tidak berkuasa atas kehidupan dan kematian atas berbolak-baliknya hati manusia. Karena itu kita tak boleh melabuhkan cinta terbesar kita pada manusia. Kita labuhkan saja cinta terbesar kita pada Allah, yang dengan kecintaan itu lalu Allah melabuhkan cinta manusia yang bertaqwa dalam hati kita. Sehingga taqwa itu yang membuat kita berjodoh dengan orang yang bisa menumbuhsuburkan cinta kita pada Allah. Bukankah ini lebih indah?

0 komentar:

 

Free Music