Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 15 Oktober 2012

Harus Pakai Ilmu


Sebelumnya sebuah tulisan tentang "Bakar Kapal" sudah diposting beberapa hari lalu. Alhamdulillah beberapa respon pun berdatangan di salah satu status jejaring sosial. Ada yang merasa lebih semangat dalam menjalani hidup. Ada yang merasa 'dikompori' hingga ia bulatkan tekad untuk benar-benar "membakar kapal" dalam usahanya.



Sempat juga mengobrol dengan seorang teman yang juga membakar kapalnya -dari seorang karyawan beralih untuk berwirausaha-. Menjadi seorang pengusaha sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Bahkan ia sudah merintis sejak duduk di bangku sekolah. Ia sudah tidak malu pada teman-temannya untuk sekadar menjajakan barang yang ia jual. Alhasil, jiwa wirausahanya pun sudah tertanam sejak dulu.


Ia bercerita bahwa ketika resign (mengundurkan diri) dari pekerjaannya kala itu, isterinya telah hamil tua. Satu bulan lagi melahirkan anak yang pertama. Beberapa teman kerjanya menyarankan untuk tidak keluar, bersabar saja sementara waktu. Saran itu juga diutarakan oleh bosnya kala itu, "Nanti saja tunggu isteri lahiran baru mulai usaha yang lain." saran bosnya. Karena tekadnya sudah bulat dan berwirausaha sudah menjadi impiannya sejak dulu, Ia pun tetap memilih keluar.


Setelah keluar, Ia 'jajal' keahlian dagangnya dengan berjualan stroberry. Ia bungkus stroberry hingga dijual dengan harga Rp. 1.000,- Berbagai toko Ia tawarkan dengan sistem titip, ada yang menerima namun tak sedikit yang menolak. Padahal untuk toko sama sekali tidak ada resikonya, ia hanya menjaga barang yang dititipkan dengan potongan Rp. 300,-/pcs, jadi cukup membayar Rp. 700,-/pcs yang terjual, yang tersisa diambil lagi.


Melihat usahnya hanya jalan di tempat. Ini bisa dilihat dari hanya 9 (sembilan) sekolahan SD dan beberapa warung saja yang berhasil Ia titipkan dagangannya. "Keuntungan sih ada, hanya saja belum mencukupi kebutuhan keluarga." kenangnya.


Mengingat anak pertamanya sudah lahir, maka Ia harus membuat terobosan baru. Usaha jual-beli handphone pun Ia lakoni. Sejak 2008 Ia memulai bisnis tersebut bersama rekannya yang ada di Batam. Cukup sulit memang karena saat itu belum tersedia layanan garansi, belum ada service kerusakan dll. kecuali di pusat. Namun dengan semua rintangan dan cobaan tadi Ia berhasil bertahan dan usahanya semakin pesat hingga tulisan ini dibuat.


Luar biasa. Memang dibutuhkan kenekatan bagi seorang karyawan untuk keluar dari pekerjaannya dan memulai usaha. Begitu pesan dalam sebuah buku Marketing. Namun kenekatan saja masih kurang, tetap dibutuhkan yang namanya ilmu. Resign tanpa ilmu akan membuat hidup bisa terjerumus ke jurang permasalahan yang semakin dalam.


Sejalan dengan apa yang di sarankan Mbah Jamil Azzaini dalam webnya, bila ingin resign silakan, tetapi kuasai dulu ilmunya. Banyak orang yang resign karena merasa bekerja bukan passionnya, ia bekerja asal-asalan. Ia merasa atau mungkin “ge-er” bahwa passionnya adalah berwirausaha. Perlu diketahui, bila saat bekerja menjadi karyawan Anda tidak punya prestasi maka kemungkinan besar saat Anda berbisnis peluang meruginya lebih tinggi. Bila Anda sudah jadi karyawan, buktikan bahwa anda hebat saat bekerja di perusahaan orang lain sebelum Anda benar-benar mendirikan perusahaan sendiri.


Ingatlah falsafah, jangan kau lepaskan burung merpati di tangan dengan berharap mendapatkan burung garuda di angkasa. Berharap sesuatu yang besar dengan melepaskan sesuatu yang kecil bisa mengakibatkan Anda kehilangan segalanya. Siapkanlah mental dan keahlian sebelum anda keluar. Ingat, mental dan keahlian bukan sesuatu yang emosional karena “dikompor-kompori” oleh orang lain.


Banyak “penasihat” yang berkata “bakar kapalmu” bila ingin menjadi pebisnis. Para “penasihat” ini tidak melihat latar belakang dan kondisi setiap orang secara utuh. Falsafah “bakar kapalmu” yang diilhami dari Thoriq bin Ziyad saat menaklukan Spanyol berlaku bagi pasukan yang bermental kuat dan sudah terlatih serta berpengalaman pada perang-perang sebelumnya, bukan prajurit baru kencur yang sekali terjun di medan perang.


Maka bagi kaum lelaki, resignlah bila anda sudah siap mental dan punya keahlian serta punya prestasi di perusahaan Anda bekerja, tinggalkan jejak yang baik.  Sementara bagi para wanita, resignlah bila suami dan anak-anak anda lebih membutuhkan sentuhan, perhatian dan kasih sayang dari anda.

Bila Anda resign dengan cara yang benar dan tepat maka kehidupan Anda akan semakin ruarrr biasaaaaaa…. Namun bila resign tanpa ilmu, siap-siaplah Anda hidup resah dan gelisah. Semua hal perlu ilmu, termasuk resign dari pekerjaan Anda. Setuju?

0 komentar:

 

Free Music