Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sabtu, 13 Oktober 2012

"Bakar Kapal"



Membaca salah satu buku Marketing yang dibelikan teman beberapa hari kemarin sungguh membuat diri ini gereget. Karena seringnya berada dalam situasi kerja (saat ini sebagai karyawan). Terkadang gue mengeraskan suara pada bagian-bagian tertentu hingga orang-orang yang ada di sekitar pun terpana mendengar betapa merdunya suara gue hehe... Sekilas isi buku itu sudah bisa gue tebak, yakni bagaimana seseorang itu mempunyai keberanian untuk terjun dalam dunia bisnis. Jika saat ini Ianya masih berstatus karyawan dalam sebuah perusahaan, maka dibutuhkan sebuah kenekatan untuk meninggalkan usahanya yang sekarang sebagai karyawan dan beralih menjadi seorang pengusaha. Semua bisa diawali dengan cara berdagang kecil-kecilan (self-entrepreneur) hingga menjadi seorang pengusaha besar (Bisnisman Owner). Ya kurang lebih seperti itulah istilahnya. 


Salah satu bagian yang gue ucapkan dengan suara lantang bak penyair yang mencurahkan seluruh perasaannya dalam sebait puisi. Hingga terdengar oleh orang-orang sekitar seperti alunan melodi yang mungkin memekakan telinga bagi para pendengarnya. Sebuah kata yang menjadi poin penting hingga menjadi pembahasan bagi teman-teman, konon mereka begitu terobsesi dengan hal ini. Yup Membakar kapal. Sebuah sejarah yang ditulis dengan tinta emas ini terjadi pada salah satu perjuangan kaum Muslim dalam membebaskan Andalusia (Spanyol). Dialah Tariq bin Ziyad sebagai Panglima Perang. Nama aslinya Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, lahir pada tahun 50 H (670 M) di tengah suku keluarga Berber (Barbar) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara. Ia dipilih oleh Gubernur Musa bin Nushair pada masa Kekhalifahan Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus untuk memimpin serangan dengan 7.000 pasukan pada tahun 711 M. Ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar. 


Setelah sampai di daratan Spanyol, Tariq bin Ziyad membuat sebuah keputusan yang sangat mencengangkan dalam sejarah. Ia memerintahkan untuk membakar seluruh kapal yang digunakan untuk mengangkut para awak prajurut tadi. Di tengah kebingungan para awak kapal, Ia berpidato:


 “Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”


1. Bakar Kapal Anda


Seringkali kita temukan seorang entepreneur yang tidak berani fokus pada apa yang ia usahakan. Safe player bahasa kerennya, tidak mau mengambil risiko pada satu usaha. Padahal risiko sebanding dengan nilai yang kita dapatkan.
Ada yang mau berbisnis, tapi masih takut untuk meninggalkan pekerjaan. Sehingga hasil bisnis dan pekerjaannya setengah-setengah dan tidak maksimal, karena usaha dan waktu yang dicurahkan pun terbagi.


Thariq membakar kapal bukan tanpa sebab. Tetapi agar seluruh kaum Muslim sadar bahwa pilihannya hanya ada satu; maju, tidak ada pilihan mundur. There’s no plan B. Akhirnya seluruh daya upaya, baik pikiran maupun fisik dikerahkan secara maksimal untuk maju dan menang. Dan itu yang Thariq dapatkan.


Sama seperti kita, mungkin selama ini kegagalan kita diakibatkan oleh tidak seriusnya kita dalam satu hal. Tidak benar-benar mencurahkan perhatian kita, karena kita merasa masih memiliki rencana yang lain. Bila usaha kita belum menampakkan hasil yang maksimal. Saatnya kita mencoba untuk “membakar kapal”


2. Berjalan dalam kebenaran


Seseorang yang berjalan dalam kebenaran Islam tidak akan pernah rugi. Thariq sangat memahami hal itu. Ekspedisi ke Andalusia bukanlah ekspedisi sembarangan. Ia adalah ekspedisi yang dilakukan untuk meninggikan kalimat Allah. Sehingga Thariq berani meminta mereka membakar kapal. Karena Thariq memahami bahwa kehidupan ataupun kematian fii sabilillah adalah dua hal yang sama baiknya.


Dalam bisnis hal yang sama akan kita temukan. Mulai dari niat membuat suatu bisnis, apakah hanya demi materi semata atau betul-betul diniatkan ghayatul-ghayah (tujuan dari segala tujuan) adalah sebagai ibadah. Juga ketika berbisnis, kita dihadapkan pada  transaksi yang haram, riba, pinjaman-pinjaman haram dan segala macam hal yang membuat kita berpaling dari jalan kebenaran.


Ketika Thariq membakar kapalnya, ini adalah penegasan bahwa mereka berjalan dalam kebenaran. Dan bisnis pun harus begitu. Bila kita sudah meyakini bahwa kita “berjalan di jalan kebenaran”, maka ucapkan basmalah dan “bakarlah kapal”


3. Berjalan dalam kesabaran


Banyak pula pebisnis yang tidak sabar dalam usahanya. Menginginkan hasilnya segera tampak. Padahal yang terjadi di dunia nyata tidaklah semacam itu. Bisnis memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Karena bisnis seperti bayi yang kita asuh hingga dewasa, mampu berdiri sendiri tanpa kita. Tapi harus diingat, agar itu terjadi, maka bayi harus disusui, diganti popoknya, dikelonin, diobati bila sakit, dan semua bentuk pengurusan yang lain.


Tidak ada bisnis sim salabim abra kadabra, semua bisnis memerlukan kesabaran. Karena itulah Thariq juga mengucapkan kalimat “Seandainya kalian mau bersabar dalam kesusahan yang sebentar saja, maka kalian akan menjalani kenikmatan dalam waktu yang panjang”

Kesimpulannya sudah jelas. Bakalralah kapal, sehingga kita dapat fokus menjalankan satu bisnis. Dan berjalanlah dalam kebenaran dan kesabaran. Memang sulit melakukan itu dalam bisnis. Tapi insya Allah semuanya terbayar ketika bisnis kita tumbuh dan berkah. Saat itu harta kita bukan hanya sebagai pembela kita di dunia, namun juga sebagai pembela kita di akhirat.

0 komentar:

 

Free Music