Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Minggu, 23 September 2012

Sufi = Suka Film

-->

Semalam setelah pulang kuliah, sempat-sempatin mampir ke kantor. Memang tidak biasanya hari libur masih tetap ngantor, ya sedikit terpaksa karena teman kerja belum kunjung sembuh dari sakitnya. Sehingga saya harus kerja extra mengisi jam-jam yang ditinggalkannya. Hal ini karena ortunya belum kasih ijin doi buat masuk kerja. So, harus kutinggalkan deh istirahat di rumah tercinta bersama keluarga (-_-)” toh ini juga kan jarang-jarang.


Kebiasaan kalo makan, entah itu sarapan, makan siang atau malam di kantor tuh pasti kurang sreg kalo nggk sambil nonton film. Mungkin udah kebiasaan kali ya (don't try at home ya :D). Sayangnya di folder teman cuma ada film Korea. Maklum doi penggemar berat ama filem2 Drama Korea. Saat itu ada sub judul Love Rain. Film drama percintaan yang cukup bikin kita melow dan galau. Buat saya sih nggak masalah yang penting bukan film yang aneh-aneh deh, yang bisa bikin mata kelilipan gitu :D film yang pertontonkan aurat. Ngerti ya maksudnya.


Kalau saya ditanya film apa yang paling disukai? Jawabannya simple, yaitu film yang bisa ditonton (-_-)' Ya iyalah, siapa lagi yang suka ama film yang nggak bisa ditonton. Ok, saya persempit lagi deh :) film yang saya suka adalah film yang belum pernah saya tonton sebelumnya. Biasanya sih, pengalaman pertama begitu menggoda, gitukan ya kata anak muda ?


Saya suka segala macam film, mulai dari yang action, horor, comedy, animasi, kartun, adventure, drama, romance hingga documenter. Untuk bollywood/India dulu sempat suka namun sekarang udah berkurang. Sekitar tahun 2000an dimana perfilman India pada saat itu cukup menguasai pasar Indonesia, maka hampir di setiap stasiun televisi memberikan porsi yang cukup luas untuk film-film India. Masih ingat saya, ketika itu dari jam 8 pagi – 12 siang beberapa stasiun televisi serempak menayangkan film India. Namun sekarang, justru perfilm-an Indonesia sudah bisa menguasai pasar di dalam negeri. Jadi porsi untuk film-film asing menjadi terbatas, khususnya di sini film bollywood. Mungkin karena saya sudah jarang nonton, jadi tingkat kesukaannya pun hilang. 


Namun pada dasarnya saya adalah seorang sufi alias suka film. Jadi apapun filmnya, pasti saya suka. Saya menjadikan kesukaan terhadap nonton film sebagai salah satu cara untuk mencerna suatu keadaaan, menganalisa lalu menyimpulkan apa yang hendak disampaikan oleh sang sutradara. Ciee.. bahasanya. Dan yang lebih penting lagi adalah mengambil hikmah dari film tersebut, apapun itu. Lebih jauh lagi dapat menjadi motivasi untuk lebih baik lagi. Ini alasan saya suka nonton film, tentu film-film yang berkualitas.


Semua Tergantung Persepsi


Dari pemaparan ini, maka saya tarik kesimpulan bahwa sebuah persepsi seseorang dapat dengan mudah dirubah. Caranya dengan mengubah pemahamannya. Kenapa? Karena persepsi tergantung dari pemahaman seseorang terhadap sesuatu yang nantinya akan membentuk tingkah laku. Sehingga ketika kita hendak merubah persepsi seseorang maka kita cukup mengubah pemahamannya. Dan perlu diingat bahwa pemahaman itu dihasilkan dari sebuah pemikiran.


Ketika seseorang menganggap orang itu baik maka apa yang dilakukan terhadap orang tersebut bawaannya pasti enak, hormat dan senang rasanya kalau kita bisa membantunya. Berbeda halnya ketika kita membenci seseorang, apapun yang dilakukan orang tersebut bawaannya pengen marah. Kenapa? Karena sudah terbentuk persepsi yang berbeda terhadap dua orang tersebut.


Sebagai contoh, ada seorang pria yang membawa tiga orang anaknya menaiki sebuah kereta api. Kebetulan saat itu anda berada di samping pria dengan tiga anaknya tersebut. Awalnya anda cukup menikmati perjalanan tersebut. Namun semuanya berubah saat negara api menyerang. Hanya Avatar yang bisa.... (Ups salah, ini bagian dialog The Legend of Avatar Ang :D).


Ok kita kembali ke cerita ya. Keadaan mulai tak terkendali. Kerusuhan terjadi dimana. Suasana sangat mencekam saat itu. Desingan peluru berhamburan kesana-kemari hingga memecahkan kaca jendela


Dor..dor.....dor...dor....!!!!!!!!!” suara tembakan terdengar keras. Dan sepertinya memakan seorang korban....!!!!


Kakak kena tembak...kakak kena tembak... MATI.....!!!!!!!!!! “ sahut salah satu anak kecil yang memegang senjata. Yup, ketiga anak pria tadi ternyata sedang asik main perang-perangan.


He..he.. itu hanya prolog aja kok, ceritanya baru dimulai nih!


Tiga anak pria tadi rewelnya minta ampuuun. Udah bikin gaduh kereta satu gerbong, cerewetnya ga ketulungan. Anda yang saat itu cukup ngantuk karena habis begadang lihat final Champions coba memejamkan mata sejenak. Namun sedang enak-enaknya tiduran akhirnya terganggu akibat ulah mereka.


Anak yang duduk di sebelah Anda coba mencubit-cubit anda. Sepatu anda yang baru dibeli di Stasiun Depok misalnya diinjak-injak hingga lecek. Alasannya sih pengen kenalan katanya. Belum lagi yang satunya kencing dan membasahi celana anda. Ada lagi yang sampai berak di celana, hingga kotorannya itu (maaf) di colekin ke muka Anda. Gimana rasanya? Kesal, jengkel, sebel? Mungkin itu perasaan anda saat itu. Namun yang lebih membuat anda jengkel adalah melihat ayah mereka yang sedari tadi hanya diam saja. Membiarkan perbuatan anak-anaknya yang sudah mengganggu orang-orang di sekitarnya.


Kemarahan Anda pun sudah tidak dapat ditahan lagi. Tentu jika ingin meminta pertanggungjawaban pada ayah anak-anak tersebut. Orang yang seharusnya mengarahkan malah membiarkan anaknya dalam kesalahan. Dia merupakan seorang ayah yang tidak bisa mendidik anaknya, bagaimana caranya bersikap sopan pada orang lain dan menghormati mereka. Lalu Anda pun memberanikan diri menegur sang ayah.


Pak..! Anda tahu kelakuan anak-anak Anda ini sudah keterlaluan. Tapi kenapa Anda membiarkannya? Tidak menegur mereka?” tanya anda dengan nada tinggi. Mungkin dengan emosi seperti itu kata-kata yang keluar pun bisa lebih sadis.


Kalau punya anak dijaga yang bener dong. Ga becus banget sih jadi Bapak..!!” ketus Anda. Hehe.. tapi saya sarankan kalimat yang kedua ini nggak usah dipakai ya :)


Atau dengan nada penuh ketakutan Anda bilang, “Pak, tolong bilang ke anak-anak Anda, jangan siksa saya, pak. Sakit rasanya pak. Batin saya menangis, tak kuat menahan rasa sakit ini. Saya mohon pak...!!” hadeuh.. lebay deh.


Nak...” Bapak itu mulai bersuara. “Bukan saya tidak mau memperhatikan mereka atau menegur mereka. Hanya saja saat ini pikiran saya sedang kacau.” kata Bapak berkumis tipis itu.


Saya baru saja mendapatkan kabar dari Rumah Sakit bahwa isteri saya sedang kecelakaan tertabrak mobil dan saat ini keadaannya sangat kritis di ruang ICU. Ia banyak kehilangan darah.” sambil mengusap air matanya, bapak itu melanjutkan.


Saya dan anak-anak sedang menuju ke sana. Mudah-mudahan keadaannya baik-baik saja dan nyawanya masih bisa tertolong. Saya masih membutuhkannya untuk membesarkan anak-anak kami nanti ” jelas Bapak yang bekerja sebagai pedagang beras di pasar Anyar Bogor ini.


Mendengar ceritanya, perasaan Anda pada Bapak itupun berubah 180 derajat. Awalnya anda sangat jengkel, kesal bahkan sempat marah pada Bapak itu, namun dengan mendengar ceritanya, hati Anda pun luluh. Perasaan Anda berubah menjadi rasa sayang, prihatin dan ikut merasakan kegelisahan yang dialami Sang Bapak. Rasa kesal yang tumbuh sejak awal hilang seketika dengan suatu informasi lain yang mengetuk rasa kemanusiaan Anda. Peduli pada sesama. Inilah yang dinamakan dengan mengubah persepsi. 


Jadi kembali ke film, apapun film yang kita tonton, Insya Allah dengan bekal keimanan yang kuat serta pemahaman yang cukup, kita bisa memfilter mana yang boleh kita tonton dan mana yang tidak. Mana yang bisa mendidik dan tidak. Mana yang bukan sekadar tontonan, melainkan dapat juga menjadi tuntunan. Terakhir tentu kesenangan ini tidak sampai melalaikan kita dari kewajiban-kewajiban sebagai hamba Allah. Yakni senantiasa taat pada Syariah-Nya. ^_^

0 komentar:

 

Free Music