Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 25 September 2012

Pilihan Terbaik


Sedikit malu mengungkapkannya. Namun pada postingan sebelumnya kan udah dijelasin ya tentang persepsi, dimana setiap orang mempunyai pemahaman terhadap segala sesuatu yang mengarahkannya untuk berbuat sesuai dengan pemahaman dia.

Saya beranggapan menonton tv, video dan hiburan semacamnya adalah hal yang mubah hukumnya selama tidak menjurus pada keharaman. Maksudnya jika apa yang saya tonton itu adalah sesuatu yang dilarang oleh agama seperti melihat tayangan pornografi dan pornoaksi, jelas itu haram. Atau ketika kita menonton sebuah film yang hukumnya mubah, lantas kita keasyikan hingga meninggalkan perkara-perkara yang wajib seperti shalat 5 waktu, ngaji dan dakwah.

Saya berusaha dalam segala aktivitas selalu berpatokan pada hukum syara'. Hendaknya dalam segala aktivitas yang akan saya lakukan diteliti terlebih dahulu, apakah perbuatan tersebut sesuatu yang diwajibkan untuk dikerjakan atau sesuatu yang haram untuk dikerjakan.

Jika penunjukan suatu dalil bersifat tegas dan ada sebuah pujian bagi pelakunya, maka dipastikan perkara itu bersifat wajib. Jika perkara tadi penunjukan dalilnya tidak tegas namun ada sebuah pujian bagi pelakunya, maka perkara tadi bersifat sunnah. Kebalikannya , jika suatu dalil penunjukannya bersifat tegas dan ada sebuah celaan bagi pelakunya, maka perkara tadi bersifat haram. Jika penunjukan dalilnya tidak tegas dan ada celaan bagi pelakunya, maka perkara ini bersifat makruh. Dan jika diantara perbuatan tadi manusia diberikan pilihan dalam melakukannya, itulah mubah.

Inilah yang dinamakan hukum syara'. Maka dari itu, setiap Muslim diharapkan mampu menimbang terlebih dahulu sebelum ia berbuat. Jangan sampai seorang Muslim melakukan perbuatan-perbuatan yang sia-sia, yang nantinya akan membuat ia menyesal.

Juga diharapkan seorang Muslim juga harus mengutamakan perkara yang jauh lebih penting. Perkara yang lebih berbobot dari segi kadar pahalanya. Sebagai contoh; para shahabat, mereka jauh lebih memilih perkara yang sunnah dari pada yang mubah. Sebelum para shahabat tidur misalkan, mereka lebih memilih mengambil wudlu dan shalat dua rakaat atau tilawah al-Qur'an. Apalagi jika dihadapkan dengan perkara yang wajib.

Dalam kehidupan sehari-hari misalkan, tentu kita juga harus meneladani perbuatan para shahabat. Kita harus memilih melakukan perbuatan-perbuatan yang lebih baik. Pertama kita harus memilih perkara-perkara yang wajib, baru yang sunnah, kemudian baru perkara-perkara yang mubah. Harus diusakan sebisa mungkin meninggalkan perkara-perkara yang makruh, apalagi haram.

Ust. Khoer Hary Moekti berkata dalam salah satu ceramahnya, bahwa tugas seorang suami diluar rumah itu cuma tiga; kerja, ngaji dan dakwah. Untuk seorang pelajar; belajar (sekolah), ngaji dan dakwah. Itu saja tugas seorang muslim selama diluar rumah. Apabila ia dihadapkan dengan perkara lain, maka harus dilihat status hukumnya apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram.

Jika ditempat kerja ada bos ngajak main Golf misalkan, atau teman yang ngajak main futsal. Sedangkan kita sudah janji sama orang rumah mau mengaji atau pergi ke suatu tempat. Maka harus dilihat dua perkara tadi; ikut main futsal sekadar mubah sedangkan memenuhi janji adalah wajib. Muslim yang baik tentu akan mengambil perkara yang wajib, karena itu yang lebih utama.

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita di jalan yang diridhoi-Nya. Amin ^_^

0 komentar:

 

Free Music