Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 27 September 2012

Muhammad al-Fatih 1453




Sudah lama saya mengikuti berbagai penjelasan tentang kisah Muhammad al-Fatih 1453, baik dari twitter, facebook, blog maupun video you tube sebelum saya membeli bukunya. Buku ini menceritakan kisah Muhammad II bin Murad, seorang pemuda yang kelak nanti kita kenal sebagai Muhammad al-Fatih. Seorang pemuda yang dididik sejak awal bahwa dia mempercayai bisyarah Rasulullah Saw., seorang pemuda yang kelak akan disematkan gelar sebagai penakluk yang terbaik, seorang yang merealisasikan janji Rasulullah Muhammad Saw. dan setiap hari dia meyakini bahwa dia adalah penakluk Konstantinopel.

Setiap hari di siang harinya, ia melayakkan dirinya menjadi panglima terbaik yang diramalkan oleh Rasulullah Saw. dan pada malam harinya dia bertahajud meminta kepada Allah agar Allah berkenan menjadikannya penakluk Konstantinopel. Dia tidak hanya menjadi seorang panglima yang terbaik, dia mengumpulkan pasukan-pasukan yang terbaik, mengumpulkan pasukan-pasukan yang terhebat pada jamannya dan kemudian menjadikan mereka pasukan yang berkuasa, pasukan terhebat sebelum Perang Dunia Pertama, Inkisariyah. Karena Muhammad al-fatih sadar betul bahwa penaklukan Konstantinopel tidak hanya dipengaruhi oleh kekuatan dan keimanan, tetapi juga pasukan yang terbaik.

Anadolu Hisari

Tidak hanya itu, Muhammad al-Fatih menguasai geopolitik Konstantinopel. Dia membangun dua benteng yang menjaga selat Bosporus agar terjaga dari bagian tengah. Memotong selat Bosporus sehingga Konstantinopel kehilangan seluruh logistiknya. Kemudian, dia juga membangun segala macam yang diperlukan hingga kita bisa melihat bahwa orang-orang yang serius berbeda dengan orang yang tidak serius. Dilihat dari segi cara kerja dan keseriusan-keseriusan yang lain. Benteng yang dibuat Sultan Murad seluas 30.000 m2 dan semuanya terjadi hanya dalam waktu empat bulan. Kita di sini bisa bandingkan bagaimana usaha orang-orang yang serius.

Rumeli Hisari

Kemudian, dia memiliki satu halangan. Sebuah tembok yang terbentang 7,5 KM. Sebuah legenda yang tidak pernah terelakan selama 1123 tahun. Sebuah batas antara impian dan kenyataan antara kaum Muslim dan batas antara bisyarah Rasulullah Muhammad Saw. 
 

Untuk itulah Muhammad al-Fatih membuat suatu meriam yang akan menaklukan Konstantinopel. Dia kerahkan konstruksi-konstruksi perang. Dia kerahkan semua pasukan-pasukan untuk mananggalkan segala sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Menyiapkan penaklukan Konstantinopel.

Supergun The Turkish Bombard
Maka pada tanggal 6 April 1453, Muhammad al-Fatih membariskan 250.000 pasukan menuju tembok Konstantinopel. Dan pada hari yang sama, kaum Muslim menunjukan pada dunia Barat bahwa inilah mereka, sebuah pasukan terbentang luas di depan tembok Konstantinopel. Dan pada hari yang sama, bertepatan dengan hari jum’at, Muhammad al-Fatih memimpin shalat jum’at berjamaah dan menembakkan meriam pertama kali untuk memulai pengepungan yang pertama. Ketika pada saat itu, orang-orang Konstantinopel baru sadar bahwa mereka telah dikepung. Muhammad al-Fatih mengerahkan segala cara, mengerahkan segala upaya, mengepung Konstantinopel dari daratan maupun lautan. Namun tidak satupun dari mereka yang berhasil menembus pertahanan Konstantinopel.

Tampaknya dinding Konstantinopel masih terlalu angkuh bagi kaum Muslimin. Maka saat itulah, mayat-mayat berjatuhan, kaum Muslim kehilangan orang-orang terbaiknya.

Pada saat itulah muncul suara-suara sumbang. Saat Muhammad al-Fatih mengadakan suatu rapat, dia bertanya pada pasukan-pasukannya, “Apakah mereka akan terus berperang ataukah tidak?” Ada seseorang yang mengatakan kepada Muhammad al-Fatih, “Sudahlah, lebih baik kita pulang sajalah. Wahai Sultan, engkau telah mengakibatkan kerugian besar terhadap kaum Muslimin. Engkau banyak menewaskan pasukan kita. Seandainya engkau tidak membawa semua pasukan ke sini, tentunya kita tidak akan mengalami kerugian seperti ini!”
 
Namun belum selesai ia berkata seperti itu, meja digebrak oleh seorang mualaf, Zaganos Pasha namanya, “Brak…!!!! jangan dengarkan dia wahai Sultan, sesungguhnya kita kemari tidak ada harapan untuk kembali melainkan mati syahid dan berdiri di hadapan Allah sebagai al-Ghazi, sebagai seorang petarung Allah. Dan seandainya mereka sedang membicarakan tentang kekuatan pasukan, ketahuilah bahwa Alexander Agung datang dari Barat ke Timur membawa setengah dari jumlah pasukan daripada kita dan menaklukan sebagian besar Timur dengan jumlah pasukan setengah daripada kita. Kita membawa dua kali lipat jumlah pasukan dan saya tidak akan terima bahwa pasukan kita kalah di balik benteng-benteng dan timbunan batu-batu ini. Tidaklah kita datang ke sini untuk kembali apapun yang telah kita mulai maka kita harus menyelesaikan.” Maka keputusan telah dibuat bahwa perang akan diteruskan.


Lalu Muhammad al-Fatih bertanya kepada seluruh pasukannya, “ketika sampai sekarang kita tidak mampu menembus tembok Konstantinopel maka apalagi yang harus kita lakukan?”


Maka seluruh pasukan bersepakat dan mengatakan, “Kita tidak dapat menembus tembok Konstantinopel karena ada rantai raksasa menghalangi antara kita dan Teluk Tanduk. Selama kita tidak dapat menembusnya maka selama itu pula kita tidak dapat menembus tembok Konstantinopel. Maka apa yang akan kalian lakukan.” Tanya Sultan.


Kemudian para pasukan menjawab, “Kami melakukan apa yang kami bisa lakukan wahai Sultan, Kami mencoba memutus rantai, kami mencoba memutus daripada pegangannya, namun tidak satupun cara yang kami lakukan berhasil selain mengakibatkan korban yang besar terhadap awak kapal.”

Maka Muhammad al-Fatih mengatakan kepada mereka, “Seandainya kita tidak dapat melewatinya maka kita akan melewatinya dengan cara yang lain.”

Strategi mengangkat kapal lewat jalur darat

Muhammad al-Fatih lalu berkata pada pasukannya, “Kita punya kapal. Kapal kita ini akan coba kita labuhkan di atas pantai Galata. Setelah itu kita biarkan kapal-kapal berlabuh di atas daratan Galata. Setelah itu kita kembalikan lagi ke Laut (sebelahnya). Begitu mudah, Sekarang semua sudah terjadi dan kapal-kapal kita sudah berada di Selat Tanduk Emas dan kita bisa menyerangnya sekarang.” jelas sang Sultan. 

"Benar juga ya, kok tidak terpikirkan sebelumnya.” sahut para tentara. Dan ini adalah sebuah keputusan yang fenomenal yang menjadi keputusan dalam sejarah yang tidak pernah dilakukan sebelumnya dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.


Kemudian pasukan bertanya, “Wahai Sultan, apakah engkau lupa bahwa Galata itu sebuah Bukit?”

Proses pengangkatan kapal

Muhammad al-Fatih menjawab, “Ya saya tahu, bahkan lebih dari apa yang kalian tahu. Saya sudah mempelajari setiap tanah yang ada di Konstantinopel ini.”


Sultan melanjutkan, ”Namun ketika engkau tidak mampu melewati itu dan engkau tidak menyangka akan melewati itu maka tidak juga satu pun pasukan Konstantinopel menyadari bahwa kita bisa melewatinya.”

Jalur pengangkatan kapal

Hingga pada akhirnya, 72 kapal pindah dari Selat Bosporus ke Selat Tanduk Emas melalui Bukit Galata dalam waktu satu malam. Sebuah strategi perang yang tidak ada pada jamannya bahkan jaman sebelumnya.



Hingga 22 April 1453, seluruh penduduk Konstantinopel merasa kaget atas takbir pada bukit Galata atas pemandangan yang mereka lihat. Seolah tidak percaya, mereka lari ke arah menara yang paling tinggi dan melihat Bukit Galata. Mereka menyaksikan pada saat itu adalah sebuah horror. Bendera Laa ilaaha illallaah Muhammadar Rasulullah berkibar di atas Bukit Galata. Ketika mereka melihat ke bawah, mereka menyaksikan sebuah pemandangan yang merenggut semua nyali mereka. Satu persatu kapal berbaris di atas Bukit Galata. Satu persatu turun pada perairan mereka. Mereka minta dibangunkan, seolah berharap ini adalah sebuah mimpi namun mereka tidak dapat bangun dari mimpi buruk mereka. Pada saat itu mereka mengatakan, “Kontantinopel is over…!” Kontantinopel sudah tamat…!


Peperangan dilanjutkan, dari tanggal 20 April hingga 27 Mei 1453, Kaum Muslim terus melancarkan serangan-serangan mereka, segala tipu daya dilakukan, segala macam inovasi perang dilakukan. Maka pada tanggal 27 Mei Sultan merasa bahwa serangannya sudah mulai menampakan hasil, maka dia berkata pada seluruh pasukannya,


Berhenti berperang pada tanggal ini, saya inginkan kalian berhenti berperang dan pada esok hari berpuasalah, memintalah pada Allah, khusyu’lah dalam membaca al-Qur’an, minta pertolongan pada Allah karena yang bisa memenangkan pertarungan kita hanya Allah Swt.”


Maka pada tanggal 28 Mei 1453, seluruh pasukan diliputi oleh suasana syahdu, berpuasa, melantunkan ayat suci al-Qur’an, mensucikan jiwa mereka, mengharapkan pertolongan Allah akan kemenangan ini. Dan pada malam harinya mereka berbuka, melanjutkan ibadah dengan khusyu dan melaksanakan amalan-amalan nafilah. Sehingga siang sampai malam hari, mereka menyibukkan diri beribadah pada Allah Swt.

Pada jam 1 dini hari tanggal 29 Mei 1453, Muhammad al-Fatih mengumpulkan mereka semua kemudian berkhotbah yang sampai saat ini kita kenal, “Seandainya penaklukan kota Konstantinopel ini sukses, maka sabda Rasul telah menjadi kenyataan. Dan salah satu mukjizatnya telah terbukti maka kita akan mendapat apa yang telah menjadi janji di sini, yaitu berupa kemulian dan penghargaan. Untuk itu, sampaikan kepada semua pasukan bahwa kemenangan yang kita capai akan menambah ketinggian dan kemulian Islam. Oleh karena itu, jangan sampai ada satu pun dari Kaum Muslimin yang melanggar Syariat Islam yang mulia. Karena al-Fatih sadar betul bahwa kemenangan mereka bukan diakibatkan karena kekuatan dan starategi mereka melainkan izin dan pertolongan Allah.”


Gate of Charisius

Pada saat itu, seluruh pasukan dikerahkan. Seluruh pasukan diperintahkan menyerbu tembok memberikan serangan yang terakhir. Seluruh pasukan masing-masing mengeluarkan seluruh kekuatan mereka. Dan sebelum matahari bersinar semua sudah selesai. Pasukan Muslim menang.



Muhammad al-Fatih masuk melalui pintu Konstantinopel dan mengucapkan, “Alhamdulillah, semoga Allah merahmati para syuhada, memberikan pada mujahidin serta memberikan kebanggaan dan syukur pada semua rakyatku.” Gemuruh Takbir pun menggema di seluruh kota Konsntantinopel.

------

Sebuah hal bagi kita semua adalah sebuah dongeng. Namun menjadi kenyataan ditangan orang-orang yang percaya akan janji Allah. Bagi seorang Muslim, tidak masalah bagi mereka berapa lama mereka harus berjuang. Tidak masalah berapa banyak yang harus mereka keluarkan. Karena permasalahannya tidak terletak pada berapa lama dan berapa banyak mereka berjuang tapi seberapa besar mereka percaya atas keyakinan pada bisyarah Rasulullah Muhammad Saw.

Hagia Sopia

Bisyarah yang diyakini oleh Kaum Muslimin, diperjuangkan dalam 54 hari perang, 825 tahun penantian semenjak keluar dari lisan Rasulullah Muhammad Saw. yang mulia,


Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya,” 
(HR Ahmad)


Pada saat itu tidak ada satupun Muslim yang berhenti percaya bahwa mereka akan menaklukan Konstantinopel. Hari demi hari, tahun demi tahun, generasi berganti demi generasi. Mereka selalu menyetorkan darah dan harta mereka, menuju sesuatu yang dijanjikan hanya karena ada satu jaminan dari Rasulullah Saw. bahwa Konstantinopel akan takluk di tangan mereka. Mereka berebut akan kemulian itu, mereka menginginkan akan kemulian itu. Maka bagi Kaum Muslimin, Konstantinopel tidak takluk pada 1453, melainkan takluk ketika lisan Rasul yang mulia mengucapkan, “Kontantinopel akan ditaklukan oleh kalian…”


Oleh karena itu, tidak peduli berapa banyak orang berkata ‘Tidak’, ketika Rasulullah berkata ‘Iya, It’s enough!’ Itu cukup. Cukup dengan itu saja. Bisyarah Rasulullah telah memotivasi Muhammad al-Fatih menaklukan Konstantinopel, pada saat itu usianya belum genap 21 tahun. Ini merupakan gabungan dari keyakinan utuh seorang Muslim, kebulatan tekad, usaha keras tak kenal lelah, pantang menyerah, strategi perang jitu dan kesabaran yang menjadikan seorang Muhammad Al Fatih berhasil menaklukkannya. [berdasarkan penuturan Ust. Felix Siauw dalam acara MEF 2012]

Hagia Sopia yg diubah menjadi masjid

Buku ini ditutup dengan epilog yang sangat indah (bagian yang paling saya suka dari buku ini), paragraf pertama epilognya,

“Ketika ada yang bertanya kepada saya (penulis), sikap mental apakah yang paling menonjol pada seorang Mehmed Al-Fatih, saya segera menjawab “see beyond the eye can see”, Melihat lebih daripada yang bisa dilihat oleh mata. Lebih jauh lagi, bahkan saya katakan ini adalah sikap mental yang terkait dengan inti ajaran Islam, aqidah Islam. Sebagian besar perkara keimanan di dalam Islam tidak dapat dilihat oleh mata dalam meyakininya menuntut seseorang untuk bisa melihat lebih dari mata. Eksistensi Allah, Malaikat, Hari Kiamat, Surga dan Neraka dan perkara-perkara lain yang tak kasat mata.

Felix Siauw, seorang mualaf yang telah mewakafkan dirinya hanya untuk Islam, meracik kata demi kata dengan piawai dalam buku ini. Pemilihan kata yang digunakan tak sekadar enak untuk dibaca tetapi lebih dari itu, kata-kata yang digunakannya menyebarkan semangat (ghirah) keislaman yang tinggi. Inilah buku Motivasi dan Inspirasi yang luar biasa menurut saya.


2 komentar:

yulyan mengatakan...

Tks atas informasinya. Sangat berguna membangun kepercayaan diri terhadap kebesaran Islam......barakallah

kang kos mengatakan...

Sama-sama

 

Free Music