Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 10 Juli 2012

Bukan Rezeki Kita



Malam itu, Ibu menyampaikan suatu hal yang cukup penting, hal yang membuat dirinya menjadi resah dan gelisah. Jadilah ia galau. Beliau menceritakan ada tetangga yang merebut usahanya dalam menjual titipan kue untuk lebaran. "Aa.." tanya ibu memulai pembiacaraan. "Mbu nggak lagi jualan kue untuk lebaran tahun ini!"



Memang hampir 2 tahun ini, Ibu sudah dipercayai untuk menjualkan kue lebaran oleh Bu Herni. Para tetangga pun sudah memakluminya dan sudah terbiasa memesan kue-kue tersebut pada Ibu. Pada umumnya, mereka mengambil kue secara kredit dan pembayarannya setiap hari selama bulan Ramadhan.


Hanya saja pada suatu kesempatan Ibu sedang tidak ada di rumah. Tak lama Bu Herni datang ke rumah berniat membicarakan perihal kerja sama seperti tahun-tahun sebelumnya tentang penjualan kue lebaran tersebut. Mendapatkan Ibu tidak berada di rumah, bu Herni sempat kebingungan harus mencari kemana untuk menitipkan produknya. Pada saat itulah, muncul seorang tetangga yang rumahnya bersebelahan menghampiri bu Herni.


Oh, bu Titin mah udah sibuk sekarang, nggak bakal sempat kalau harus berjualan kue bu Herni..!” jelasnya sok tau. “Lah, trus ini gimana, siapa yang mau bantu jualan di daerah sini dong?” tanya bu Herni kebingungan.


Sini aja nggak apa-apa” jawab sang tetangga menawarkan diri. “Iya, minta tolong ya” jawab bu Herni. Bu Herni memang sudah akrab dengan orang-orang sekitar karena sebelumnya beliau sempat tinggal beberapa bulan menjadi tetangga kami. Maka dengan rasa percaya menitipkan dagangannya pada tetangga tersebut.
 
Hingga kabar tersebut sampai pada Ibu, rupanya beliau cukup terpukul. Nggak heran kalau Ibu jadi galau dibuatnya. Ada rasa sesal pada beliau saat saya berbincang dengan beliau. “Udah tau itu buat Ibu, malah diambil” jawabnya dengan nada kesal. “Harusnyakan bilang dulu sama orangnya (Ibu) bener nggak memang tidak ada kesanggupan. Pakai bilang Bu Titin Sibuklah” jelasnya geram.


Berarti itu bukan milik kita tahun ini.” jawabku coba menenangkan. “Kita coba ambil hikmahnya aja Bu, siapa tau ada rezeki kita yang jauh lebih besar ketimbang berjualan kue lebaran. Ayo coba dipikir-pikir aja dulu.” lanjutku.


Ibu mulai berfikir, dengan agak tenang belia menjelaskan, “memang kalau dipikir-pikir, berjualan kue lebaran milik Bu Herni untungnya nggak seberapa, justru masih besar untung berjualan kue daprose*” jelasnya dengan mulai tenang.


Nah itu ada...!!!” saya coba menyambut. “Sejak tahun lalu memang Ibu jadi kewalahan, bahkan tidak sempat membuat daprose tiap bulan puasa karena kecapean. Tahun lalu Ibu harus berkeliling menjajakan kue Bu Herni ke para tetangga. Belum lagi setelah itu dilanjutkan dengan berkeliling tiap hari untuk menagih pembayaran karena pembeliannya secara kredit. Ibu menjajakan dengan membawa sampel beberapa jenis kue yang hendak dijual. Tiap satu toples kue ada Rp. 5.000,- masuk ke kantong ibu. Tahun kemarin Ibu hanya berhasil menjual 75 toples. Itu berarti ada keuntungan Rp. 375.000,- yang diperoleh Ibu selama berjualan kue tersebut.”


Trus kalau berjualan daprose?” tanyaku. “Kalau daprose, keuntungannya bisa dilihat modal yang dibutuhkan cukup Rp. 25.000,- maka akan didapat 100 buah daprose. Jika harga 1 daprose itu Rp. 500,- maka total omzetnya Rp. 50.000,- dalam satu kali pembuatan. Dari sini saja sudah terlihat bahwa keuntungan berjualan kue daprose itu mencapai 50% dari modal.” tegas ibu


Waah.. ini baru usaha yang menggiurkan namanya...!!! Pengusaha mana yang tidak tergiur dengan keuntungan usahanya yang mencapai 50% dari modalnya?” tanyaku dengan senyum cerah. "Belum lagi yang berjualan daprose itu hanya Ibu di kampung ini. Nggak ada saingan sama sekali. Jadi semua yang mencari pasti datang ke rumah." tambahny.


Mantap deh kalau gitu. Trus mengenai penjualannya? Berapa total kue tersebut habis jika bulan ramadhan?” lanjutku bertanya. “Kalau melihat tahun kemarin, ibu memang kewalahan. Semua yang membeli daprose hanya Ibu kasih setengahnya saja. Tahun kemarin, khusus di bulan ramadhan saja Ibu cuma bisa jual 250 buah.” kenangnya.


Itu berarti sebenarnya Ibu mampu menjual 500 buah daprose?” tanyaku. “Ya, kalau daprosenya ada” selanya. “Heeemm, berarti harus dipersiapkan dari sekarang biar nanti biar kita nggak kewalahan memenuhi pesanan. Target 1000 buah daprose harus laku terjual ramadhan kali ini” jawabku mantap


Bu Yuyun dan Bi Sari saja dari sekarang udah pesan masing-masing 100 buah. Belum lagi yang lainnya, walaupun baru menanyakan stok untuk lebaran ada atau tidaknya” tambah ibu. “ya ibu hanya menjawab, Insaya Allah karena beliau berfikir pasti tidak akan terkejar untuk membuat daprose karena harus keliling menjajakan kue lebarannya Bu Herni.” jelasnya panjang lebar.


Baik, kalau begitu kita harus memfokuskan untuk usaha membuat sebanyak-banyaknya daprose. Agar para konsumen tidak kecewa jika harus sampai kehabisan.” jawabku semangat. “Ibu bukannya bilang dari dulu kek usaha ini” tanyaku.


Ya memang kan dari dulu Ibu jualan daprose. Aa aja mungkin yang selama ini nggak 'ngeh'. Hanya saja Ibu memang kekurangan modal!” jelasnya dengan agak malu. “Jadi Aa modalin ya..!!!” pintanya sambil tertawa. Senang melihat beliau yang tadinya sedih kini dalam keceriaan. “Iya deh, pasti Aa bantuin kok hehe” saya pun ikut tertawa.

Dari peristiwa di atas banyak sekali ibrah yang saya ambil. Pertama; rezeki, jodoh dan maut itu sudah diatur oleh Allah Swt. Tugas kita hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menjemput semuanya. Jangan takut rezeki itu diambil orang. Insya Allah rezeki itu nggak akan ketukar.

Kedua; Jangan mengambil suatu informasi dari orang lain sebelum kita melakukan kroscek terlebih dahulu (tabayyun). Begitu juga informasi yang kita dapat jangan langsung disebarkan pada orang lain sebelum kita yakin informasi tersebut benar. Karena dampaknya akan sangat berbahaya pada orang lain.

Ketiga; kita harus tetap husnuzhan pada Allah atas apa yang memang sudah menjadi qadha-Nya. Baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS. al-Baqarah: 216)

Ingat, Allah nggak memberi apa yang kita inginkan tetapi memberi apa yang kita butuhkan. So. Yuk mulai dari sekarang kita bersemangat dalam menghadapi hidup ini. Yakinlah bahwa baik-buruk yang kita terima pasti akan ada hikmah dibalik itu semua. Jika kita panda mensyukurinya ^_^ 


*kue daprose ternyata cukup langka, saya browsing mencari gambarnya di google nggak ketemu, Insya Allah dipostingan selanjutnya akan saya masukan gambar + cara membuatnya.

0 komentar:

 

Free Music