Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 27 Juli 2012

Ambil 1 Pohon Dipenjara 165 Hari, Balak Hutan Miliaran Rupiah Bebas Melenggang Di Luar Negeri



Petani hutan Kendal, Jawa Tengah, Rosidi (41) menyungging getir usai sidang. Ayah 3 orang anak ini akhirnya dihukum 165 hari karena mengambil 1 pohon jati. Kasus ini mengingatkan publik kepada Adelin Lis, terpidana pembalak hutan dengan kerugian negara hingga triliunan rupiah yang kini masih bebas melenggang di luar negeri.



Adelin sempat dihukum bebas oleh Pengadilan Negeri Medan pada 5 November 2007 silam. Pada hari yang sama, Adelin keluar dari tahanan menjelang tengah malam dengan surat perintah yang ternyata sudah dipersiapkan sebelumnya, 3 November 2007.
Polisi lantas berusaha menahan kembali Adelin dengan mengusut kasus pencucian uang pada 6 November 2007. Namun Adelin raib dan tidak diketahui keberadaannya, hingga saat ini.


Tiak berapa lama, Mahkamah Agung (MA) memvonis Adelin Lis dengan hukuman 10 tahun penjara. Dia terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam kasus perambahan hutan di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara. Adelin juga harus membayar denda Rp 1 miliar dan uang pengganti Rp 119,8 miliar dan US$ 2,938 juta.


Namun apa lacur, Adelin hingga kini tidak diketahui rimbanya. Kerugian negara pun tidak jelas kemana larinya.


Beda Adelin, beda pula yang dialami Rosidi. Keduanya sama-sama dikenakan dakwaan pembalakan liar. Bedanya Rosidi hanya mengambil 1 pohon jati yang telah teronggok di hutan pada 5 November 2011.


Anehnya, Rosidi baru 4 bulan setelah itu dia ditangkap dan dipenjara atas laporan Perhutani setempat. Akibat tuduhan tersebut, Rosidi meringkuk di penjara sejak tertangkap, yakni 22 Februari 2012 hingga saat ini.


"Bagi masyarakat petani, ini merupakan preseden buruk. Selama ini masyarakat yang memanfaatkan hutan, ketimpangan ekonomi juga masih muncul," ungkap kuasa hukum Rosidi, Slamet Haryanto.(detiknews 26/07/2012 07:27 WIB )



Komentar: Kapasitas saya bukan membenarkan perbuatan petani di atas. Kejahatan tetaplah kejahatan, pelakunya harus dikenakan sanksi. Hanya saja kita perlu memahami kondisi tersebut dengan kacamata Islam.

Hukum di Indonesia layaknya pisau dapur yang hanya tajam ke bawah, tetapi tumpul di atas. Hal ini telah diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW. Saat itu Usamah bin Zaid membujuk beliau agar tidak menghukum seorang puteri bangsawan Bani Makhzum yang kedapatan mencuri. “Apakah kalian akan mengabaikan satu hukum dari hukum-hukum Allah?” Kemudian beliau berdiri, lantas bersabda, “Wahai umatku, sungguh telah membinasakan generasi sebelum kalian kebiasaan mereka. Jika orang berpangkat yang melakukan tindak pencurian, mereka mengampuninya. Sebaliknya, jika orang lemah melakukan tindak pencurian, maka mereka menjatuhkan hukuman. Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akan kupotong tangannya” (HR. Al-Bukhari).


Hal tersebut hanya terjadi pada sistem demokrasi, buah dari sistem Kapitalisme yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Keadilan selamanya hanya akan menjadi mimpi bagi seluruh rakyat jika Islam belum menjadi sistem aturan satu-satunya yang digunakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pasalnya dengan sistem Kapitalis yang bobrok itulah akan memberikan peluang besar bagi siapapun untuk melakukan kejahatan, dikarenakan hukuman yang diterimanya tidaklah memberikan efek jera.

Maka dari itu, sudah saatnya lah kita memperjuangkan sebuah aturan yang lahir dari Sang Maha Adil. Sistem aturan yang hanya diridhoi-Nya. Hanya syariah dan Khilafahlah yang mampu memberi keadilan tersebut.

0 komentar:

 

Free Music