Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Rabu, 20 Juni 2012

Mesti Banyak Belajar



Tulisan ini berawal dari diskusi hangat saya dengan seorang teman di Situs Jejaring Sosial. Awalnya saya meng-update status tentang kewajiban seorang Muslim dalam menegakan hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Seorang mukmin wajib menjunjung tinggi al-Quran dan Sunnah.
Ia hanya akan berhukum dengan aturan-aturan Allah swt.
Sebab, berhukum kpd al-Quran dan Sunnah adalah kewajiban mendasar seorang muslim, sekaligus refleksi keimanannya kepada Allah swt.”


Tak lama berselang, ada yang me-like status ini. Beberapa teman lain pun ada juga yang berkomentar. Namun ada komentar dari seorang teman yang cukup membuat saya memutar otak. Mencoba meresapi makna di balik kalimat yang diajukan teman yang bertanya tersebut.

Al Qur'an dan Sunnah, Dengan Pemahaman Siapa?”

Jleb.. saya merasa ada sesuatu yang dimaksud sang penanya. Tentu semuanya tergantung dari jawaban yang saya berikan. Cukup lama saya memahami. 'Siapa' yang dimaksud di sini? Awalnya saya coba menebak-nebak bahwa yang diinginkan sang penanya adalah saya terpancing untuk menjawab suatu kelompok sehingga dipandang ashobiyah (fanatisme golongan).

"dg pemahaman org2 yg diberi petunjuk.."

Hehe... jawaban yang masih terlalu umum memang, tapi setidaknya ini membuyarkan sang penanya untuk menjuruskan pada perdebatan yang nggak jelas. Lalu menuduh saya dan teman-teman yang berjuang bersama sebagai orang yang paling benar. Namun ternyata, sang penanya masih meneruskan pertanyaannya,

Siapa Orang-orang yang diberi petunjuk pertama kali setelah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Dengan pertanyaan di atas, saya agak mulai lega. Setidaknya ini sudah jauh dari skenario untuk menjuruskan kita pada tindakan ashobiyah. 

"Ini kaya soal wkt ujian sekolah aja :D Bentar sy calling guru sekolah dulu :D:D" celetuk saya 

Sepertinya untuk menanggapi pertanyaan di atas, saya harus membuka kitab sirah agar jawabannya nggak asal.  Ini mencegah kekeliruan dalam memahami Islam. Semua harus dipertanggungjawabkan dengan jelas. Semua informasi harus jelas dan mempunyai dalil yang kuat. Bukan begitu?

"Ketika Rasul diutus, beliau mengajak istrinya, Khadijah, lalu dia beriman. Kemudian beliau mengajak putra pamannya (Ali), lalu dia beriman. Beliau mengajak maula (budak)-nya, Zaid, lalu dia beriman. Beliau mengajak sahabat karibnya, Abu Bakar, lalu dia pun beriman." jelas dalam kitab Daulah Islam.

" Lalu di tangan Abu Bakar.. Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah memeluk Islam. Kemudian ada Abu 'Ubaidah, Abu Salamah, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Mazh'un dan beberapa org lainnya juga masuk Islam." jelas saya panjang lebar. Inginnya saya menyebutkan semua para shahabat awal dalam status tersebut, lengkap dengan umur mereka. Namun saya juga ingin tahu tanggapan sang penanya selanjutnya.

"Jadi. Pemahaman Orang-orang yg diberi petunjuk yg di maksud @Kang Kos itu Siapa?" tanya laki-laki yang menggunakan akun ahad plus

"dg melihat pertanyaan antm & menyesuaikan dg jwban ane, Ya.. Ahlu Sunnah wal Jamaah :)" jawab saya.

Saya kira dengan pertanyaan ini, diskusi sudah bisa terselesaikan. Namun saya salah. Justru muncul pembahasan baru

"Apakah Ciri Khas Ahlu Sunnah Wal Jamaah, krn istilah ini juga banyak dipakai?" tanyanya

Hampir sama dengan pertanyaan di awal tadi. Saya sempat dibuat bingung dengan pertanyaan tersebut. Saya coba resapi tiap-tiap untaian kata yang terselip dari pertanyaan di atas. Saya tidak ingin gegabah.

"Buat saya tidak ada ciri khas/khusus, selama seorang Muslim memahami hakekat Ahlu Sunnah wal jamaah itu sendiri, Insya Allah tdk akan ada perseturuan yg akhirnya saling mengkafirkan sesama Muslim. Mengklaim dirinya paling benar dan yg lain salah. Na'udzubillah."

Melihat komentar saya, seorang teman dengan akun  Endah Rahayu W mengomentari,

"stuju...
Allahu qhoyatuna
Ar rasulu qudwatuna
Al Qur'an dusturuna
Al jihadu sabiluna
Al mautu fi sabilillah, asma amanina....." hore like abis deh buat Endah hehe.

--------

Dari perbincangan santai di situs jejaring sosial facebook di atas, saya jadi teringat akan pengalaman yang pernah di alami beberapa tahun yang lalu. Saya lupa kapan, yang jelas ba'da shalat dzuhur. Saya dan beberapa teman jama'ah majlis ta'lim al-Amin Cibatok. Awalnya saya hanya sekadar bertanya tentang kesibukan mereka atas kajian keislaman yang kita adakan di dalam Majlis tersebut.

berbagai macam alasan dikeluarkan, namun saya belum terlalu yakin dengan alasan yang mereka kemukakan. Pasalnya ucapannya itu kurang mantap dan terkesan dibuat-buat. Setelah beberapa waktu didesak akhirnya mereka buka mulut juga (hehe, kaya interogasi tersangka maling aja).

Ternyata kasusnya sepele. Ustadz yang mengajar tidak sepemahaman dengan mereka. Penjelasannya terlalu rumit dan tinggi. Masih dari alasan mereka, "Siapa sih ustadz fulan? Lulusan pesantren mana? Diminta baca kitab kuning aja pasti belum mampu." sambung mereka.

Saya menghela nafas cukup panjang. Ingin rasanya saya "menghajar" dan "mematahkan" pandangan mereka dengan pemahaman yang benar. Namun, mengingat ini merupakan sebuah amanah dari sang Ustadz agar saya coba mendekati mereka, sekadar mencari tahu apa sebenarnya masalah mereka.

Sebelunya, sang Ustadz dengan rendah hati mengatakan, "Jika ada kata-kata saya yang salah dan kurang berkenan di hati mereka saya mohon maaf" pesannya pada saya.

Sayangnya kesabaran saya hilang saat mereka melanjutkan pernyataannya, "Kos, hati-hati. Sekarang itu banyak sekali golongan-golongan baru yang mengaku Islam, padahal bertentangan dengan Islam." tegas mereka. "Maksudnya?" tanya saya kurang mengerti.

"Ente tau nggak, kan ada hadist yang mengatakan, 'Di akhir zaman kelak umatku akan terpecah ke dalam 73 golongan dan masuk syurga cuma satu, yaitu Ahlu Sunnah wa al-Jama'ah.” Hadist lengkapnya sebagai berukut:

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Orang-orang Yahudi terpecah kedalam 71 atau 72 golongan, demikian juga orang-orang Nasrani, dan umatku akan terbagi kedalam 73 golongan.” HR. Sunan Abu Daud.

Dalam sebuah kesempatan, Muawiyah bin Abu Sofyan berdiri dan memberikan khutbah dan dalam khutbahnya diriwayatkan bahwa dia berkata, “Rasulullah SAW bangkit dan memberikan khutbah, dalam khutbahnya beliau berkata, 'Millah ini akan terbagi ke dalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, (hanya) satu yang masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan dari kalangan umatku akan ada golongan yang mengikuti hawa nafsunya, seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, urat nadi (pembuluh darah) maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya.” HR. Sunan Abu Daud.

Dari Auf bin Malik, dia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:"Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, satu golongan di surga dan 70 golongan di neraka. Dan Nashara telah berpecah belah menjadi 72 golongan, 71 golongan di neraka dan satu di surga. Dan demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam tangan-Nya umatku ini pasti akan berpecah belah menjadi 73 golongan, satu golongan di surga dan 72 golongan di neraka." Lalu beliau ditanya: "Wahai Rasulullah siapakah mereka ?" Beliau menjawab: "Al Jamaah." HR Sunan Ibnu Majah.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda: Orang-orang Bani Israil akan terpecah menjadi 71 golongan dan umatku akan terpecah kedalam 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, kecuali satu, yaitu Al-Jamaa’ah.” HR. Sunan Ibnu Majah.

Bahwasannya bani Israel telah berfirqah sebanyak 72 firqah dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya akan masuk Neraka kecuali satu.”  Sahabat-sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya: “Siapakah yang satu itu Ya Rasulullah?”  Nabi menjawab: ”Yang satu itu ialah orang yang berpegang sebagai peganganku dan pegangan sahabat-sahabatku.” HR Imam Tirmidzi.

Abdullah Ibnu Amru meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Umatku akan menyerupai Bani Israil selangkah demi selangkah. Bahkan jika seseorang dari mereka menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, seseorang dari umatku juga akan mengikutinya. Kaum Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, seluruhnya akan masuk neraka, hanya satu yang masuk surga.” Kami (para shahabat) bertanya, “Yang mana yang selamat ?” Rasulullah Saw menjawab, “Yang mengikutiku dan para shahabatku.” HR Imam Tirmidzi.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:  “Orang-orang Yahudi terbagi dalam 71 golongan atau 72 golongan dan Nasrani pun demikian. Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan.” HR Imam Tirmidzi.

Diriwayatkan oleh Imam Thabrani”Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad di tangan-Nya, akan berpecah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk Syurga dan yang lain masuk Neraka.” Bertanya para Sahabat: “Siapakah (yang tidak masuk Neraka) itu Ya Rasulullah?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal Jamaah.”

Mu’awiyah Ibnu Abu Sofyan meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :  “Ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dalam masalah agamanya terbagi menjadi 72 golongan dan dari umat ini (Islam) akan terbagi menjadi 73 golongan, seluruhnya masuk neraka, satu golongan yang akan masuk surga, mereka itu Al-Jamaa’ah, Al-Jamaa’ah. Dan akan ada dari umatku yang mengikuti hawa nasfsunya seperti anjing mengikuti tuannya, sampai hawa nafsunya itu tidak menyisakan anggota tubuh, daging, pembuluh darah, maupun tulang kecuali semua mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang Arab! Jika kamu tidak bangkit dan mengikuti apa yang dibawa Nabimu…” HR.Musnad Imam Ahmad.

------

Dengan semangat menggebu-gebu mereka coba meyakinkan saya untuk tidak ikut dengan Ustad yang mengajar nagji tersebut. Mereka coba memalingkan saya agar ikut dengan perkataan mereka. Jadi secara garis besar

Saya kembali menghela nafas dalam-dalam. Lebih dalam dari yang pertama tadi. Saya pikir mereka sudah keterlaluan dan harus segera dibereskan agar tidak ada kesalah-pahaman dikemudian hari.

"Lalu kalau begitu, apa itu Ahlu sunnah wa al-Jama'ah?" tanya saya dengan sedikit penekanan.

Sejenak mereka diam. Menatap saya seperti orang bingung. Sesekali mereka saling menatap. Mungkin sedang mencari jawaban di antara jidat mereka. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka berani menjawab juga.

"Ahlu sunnah itu ya... KITA!!!" jawab mereka agak ragu. "Saya tanya serius, apa itu ahlu sunnah?" kembali saya ulangi pertanyaannya hingga lima kali. Namun jawaban mereka tetap sama.

"Ya kita ini, Ahlu Sunnah wa-Al-Jama'ah, sering makan bersama, Dzikir dan Tahlil trus berkatnya kita bareng-bareng makan deh. Ini namanya kebersamaan. Wa al-Jama'ah.” jawab mereka.

"Astaghfirullah... Jadi cuma itu aja yang kalian tau?" tanya saya dengan terkejut. "Cuma dengan pemahaman dangkal seperti itu kalian dengan mudah mangatakan Ustadz anu menyimpang. Hanya karena mereka tidak ikut Dzikir dan Tahlil lantas mereka bukan Ahlu Sunnah wa al-Jama'ah?" lanjut saya.

"Kalian harus lebih banyak lagi menimba ilmu, ngaji yang bener...!" dengan rasa jengkel saya tinggalkan mereka untuk persiapan adzan shalat ashar.

0 komentar:

 

Free Music