Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 21 Juni 2012

Bersatulah




"Bang.. bang..?" sebuah suara dari tempat duduk di belakangku berusaha memanggil. "Iya, ada apa?" tanyaku sambil memalingkan wajah ke arah suara. 

"Abang itu tau kenapa diam aja, masa ilmu dipendam aja. Harus diamalkan dong!" tegurnya pada saya. Sejenak saya berfikir apa yang harus saya ungkapkan. Bingung mesti mulai dari mana?

Semua berawal dari aktivitas rutin kuliah sabtu sore. Mata kuliah saat itu harusnya  bahasa Inggris. Namun dosennya berhalangan hadir dikarenakan sakit. Setelah saya konfirmasi, Eyang Pranoto, begitu kami menyapanya. Dosen berumur lebih dari 70 tahun ini sedang pergi ke Bandung. Namun belum bisa pulang karena sakit. Sehingga otomatis pelajaran pun diganti oleh dosen lain.

Yang berkesempatan mengajar kami adalah Drs. Heiri Mulyana. Beliau merupakan pimpinan Yayasan sekaligus merangkap jadi dosen. Sudah kebiasaan memang, jika ada dosen yang berhalangan hadir, jam kuliah hari itu diganti dengan ulangan atau belajar biasa dengan beliau.

Pa Haji, begitu sapaan akrab beliau, tidak lantas mengajar sesuai mata kuliah pada hari tersebut. Tentu beliau memberikan mata kuliah sesuai keahliannya. Manajemen Syariah. Tentu hal ini cukup membuat kami belum mempuanyai persiapan untuk kuliah dadakan seperti ini. Namun itu jauh lebih baik daripada aktivitasnya nganggur ga karuan.

Hanya sedikit beliau menjelaskan tentang manajemen Syariah. Beliau lebih banyak bercerita tentang masalah lain, seperti aktivitas ibadah masyarakat saat ini yang terlalu banyak menyimpang dari sunah. Kebanyakan mereka beramal dengan amalan yang tidak pernah diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.

Namun ada yang saya kurang setuju dengan pendapat beliau. Yakni tentang siapa orang-orang yang menyimpang itu. Sempat disebutkan mereka yang melakukan bid'ah di antaranya, mereka yang suka tahlilan, yasinan, merayakan isra wal mi'raj, maulid Nabi, perayaan ulang tahun, shubuh pake qunut, dzikir secara berjamaah atau sambil nangis-nangis dll. Mereka beliau anggap mengamalkan sesuatu yang tidak ada dalilnya. Rasulullah tidak pernah mencontohkan hal tersebut, sehingga mereka dianggap sebagai orang yang mengada-adakan perkara yang baru (bid'ah).

Teman saya berpindah tempat duduk yang tadinya dibelakang, sekarang berada di samping saya. "Ayo bang, apakah yang beliau katakan itu benar?" tanyanya polos. "Saya ini orang awam dan memang tidak tau apa-apa tentang Islam, jadi tolong abang bantu saya!" pintanya melanjutkan.

Saya menghela nafas, "Nanti kita jelaskan ini lain waktu." jawabku singkat. "Ah, abang. Sekarang aja biar semuanya jelas" pintanya sedikit memaksa. "Saya merasa belum mampu untuk menjawab permasalahan ini" jelasku memberi alasan. "Ini masalah furu'iyah, masalah cabang. Semua ada dalilnya." jelasku. 

"Saya nggak mau ambil pusing tentang masalah ini. Selama seseorang beribadah dan mampu menyebutkan dalilnya, saya kira itu cukup. Tinggal kita menimbang apakah dalil yang ia gunakan shahih atau tidak? Ditambah lagi dalam perkara ibadah, boleh-boleh saja kita mengamalkan hadist dhoif (lemah). namun jika ada dalil yang jauh lebih kuat, ada baiknya kita mengambilnya dan meninggalkan amalan dengan dalil yang lemah tadi." jelasku panjang lebar.

"Lagian jika saya berusaha bertanya atau menanggapi persoalan ini, pasti nggak akan pernah selesai. Ini hanya akan menjadi debat kusir saja yang ujung-ujungnya saling menyalahkan (baca:mengkafirkan)." tambahku. Saya udah capek berurusan dengan orang-orang seperti ini. Mereka sibuk dengan memperkarakan masalah yang sepele seperti qunut nggak qunut; dzikir tahlil dll. Maksudnya, di luar sana masih ada banyak permasalahn umat yang harus kita selesaikan seperti; bagaimana Islam mengatur persatuan dan kesatuan seluruh kaum Muslim, menjamin seluruh kebutuhan hidup. Masih banyak permasalahan sosial yang harus segera ditangani. Belum lagi cmpur tangan asing dalam pengelolaan kekayaan negeri ini. Harusnya ini menjadi fokus kita saat ini sehingga terbebas dari jerak kemiskinan dan kesengsaraan. Penahkah terbayangkan, dengan banyaknya masayarakat yang miskin tentu akan mendekatkan mereka pada kekufuran sebagaimana aktivitas yang dilakukan pada para missionaris. Ini jauh lebih penting bung karena sudah menyangkut masalah akidah umat" tambahku dengan menggebu-gebu.

Lalu jika kita masih mempermasalahkan masalah furu'iyah (cabang) antar golongan, tentu masalah terbesar umat ini tidak akan pernah terselesaikan. Yakni menerapkan seluruh hukum-hukum Allah dalam institusi Daulah Khilafah. Inilah yang perlu disadari oleh kaum Muslim pada umumnya.

Marilah saat ini kita lepaskan sekat-sekat nasionalisme yang merenggut rasa persatuan kita sebagai satu tubuh yang satu. Kepentingan golongan, mazhab dan gerakan yang membuat kita saling beradu, mencaci dan mengkafirkan sesama Muslim. Ingat, Tuhan kita satu yakni Allah Swt. nabi kita satu, yakni Baginda Nabi Muhammad Saw. Kitab kita satu, yakni al-Qur'an. kiblat kita pun satu, yakni ka'bah. Mari singsingkan lengan baju kita untuk menggapai ridha Allah dengan menerapkan seluruh perintahnya dalam naungan Daulah Khilafah.

0 komentar:

 

Free Music