Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 04 Juni 2012

Antri Dulu Ya...





Sore ini, setelah menunaikan shalat maghrib di Masjid Al-Salam Perumnas Bantarjati, saya menyempatkan jalan-jalan di sekitar perempatan Palayu-Pamikul. Bermaksud mencari pengganjal perut setelah seharian menahan lapar, pilihan jatuh pada ketoprak sambal kacang. Bagi saya ini menjadi salah satu makanan favorit. Karena selain murah dan rasanya enak, si Abang yang jualannya pun ramah dan murah senyum pada para pelanggannya. Sehingga nggak jarang kalau jajanan sederhana yang mangkal di perempatan pamikul Bantarjati ini cukup ramai pelanggan. Ya sesuai dengan orang cina bilang "jangan jadi penjual kalau nggak bisa tersenyum" karena itulah salah satu hal yang menentukan laku tidaknya barang yang kita jual nanti.



Gerobak yang dipajang sejak sore, sekitar bada ashar ini langsung diserbu para pelanggannya. Biasanya sih habis manghrib setelah selesai kerja saya 'nongkrong' di lokasi. Dan jika membeli di jam-jam tersebut bersiaplah menunggu pesanan yang diminta agak cukup lama dikarenakan antrian yang cukup panjang.

Saya belum sempat menghitung berapa lama satu porsi ketoprak itu dibuat. mungkin sekitar 5 menit. Jadi jika ada yang membeli 5 orang saja, maka kita harus menunggu sekitar 25 menit. Jika yang membeli lebih banyak lagi tentu waktu yang dibutuhkan akan semakin lama.

Pengalaman barusan, saya menunggu cukup lama hingga antrian 4 orang, setelah saya ada anak umuran 5 tahun kira-kira juga membeli ketoprak. "Bang dibungkus ya, jangan terlalu pedas..?" pesan anak tersebut sambil berdiri di samping si Abang yang jual. "Campur semua dek?" tanya abang penjual. "Iya" jawab sang anak singkat.

Saya melihat anak tadi dengan seksama, sambil memainkan hp jadul yang sedang bermasalah dalam mengirim sms. Bukan karena hpnya jadul loh. Tapi memang sedang ada gangguan jaringan dari profider pusatnya. Jadi walaupun saya banting ini hp tetap aja sms itu nggak kekirim.

Bang Kumis (begitu saya menyebutnya) yang menjual ketoprak ini cukup teliti dan cermat dalam melayani. Walaupun kita datang dan duduk di tempat tanpa memesan maka kita akan tetap didahulukan walau ada yang baru datang dan memesan ketoprak dengan tegas. Dengan ramah penjual itu akan menjawab "Iya, ditunggu ya mbak/mas". Lalu bertanya kepada saya yang duduk, "mas mau beli? makan di sini, pedas atau gimana?" tanyanya. Namun karena menunggu cukup lama, orang tua anak tersebut datang menghampiri. Ia juga merasa penasaran karena anaknya belum juga selesai membeli sebungkus ketoprak.

"Lama amat dek? Belum dapet juga? Di belakangin ya? Dilewatin ya. Sengaja..." tanyanya ketus. Saya yang sudah mendapatkan satu porsi ketoprak dan memakannya di tempat dalam hati beristighfar. Ini bapak datang-datang marah, pake nuduh yang nggak-nggak lagi. "Ini si adeknya belakangan pak" jawab abang penjual dengan ramah

Mungkin ini menjadi salah satu pelajaran buat saya. Dimana kita harus menghargai setiap orang. Kita juga harus berbuat adil terhadap sesama. Jika memang ia datang belakangan ya harus mengikuti nomer urut antrian. Jangan asal main serobot atau merasa ia seseorang yang berpengaruh lalu kita dahulukan. Kita lupa bahwa ada orang yang merasa dirugikan akibat sikap tersebut. Mereka juga memiliki hak dan perasaan yang harus kita jaga. Apalagi bagi seorang pedagang. Ia harus menjaga pelanggannya agar tetap loyal terhadap produk yang ia jual.

Ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan kita. Di zaman yang serba kapitalis ini, dimana uang dan kekuasaan menjadi penentu seseorang bisa mendapatkan kesenangan dunia. Asalkan ada uang semua bisa dibeli. Bil fulus kuluhul mulus, bilaa fulus kuluhul manpus begitu pepatah arab bilang. Lihat aja para pejabat yang datang ke suatu daerah. Mereka diiringi oleh polisi dengan sirine yang cukup meniyita perhatian para pengguna jalan. Lalu tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk mempersilakan mobil para pejabat itu untuk lewat.

Ada lagi mereka yang terlibat kasus korupsi misalkan. Dengan mudah mereka bisa membeli para penegak hukum, agar hukuman yang dibebankan pada mereka lebih ringan dari tuntutan yang seharusnya. Dengan uang, mereka bisa membeli fasilitas yang mewah ketika menjalani masa hukuman di penjara. Di sel tahanan, mereka bisa memilih fasilitas kamar layaknya di hotel.

Ini terjadi karena kita hidup di zaman kapitalis, dimana tolok ukur perbuatannya adalah berupa materi. Sehingga kebahagiaan yang diperoleh adalah sebesar-besarnya manfaat materi. Berbeda ketika Islam dijadikan sebagai landasan hukum dimana sistem Islam akan memberikan keadilan yang merata. memanusiakan manusia. Dan tentunya memberikan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal itu hanya akan didapat ketika penerapan Syariat Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah.

0 komentar:

 

Free Music