Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 15 Mei 2012

Mengingat Mati



Saat pulang malam jum'at kemarin, saya dikejutkan dengan kabar duka. Pasalnya ada seorang kerabat meninggal dunia pada hari selasa pagi. Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Almarhum merupakan anak dari kakaknya kakek saya (hemm, apa ya sebutannya..?) 

Padahal rasanya baru kemarin kami berpapasan di jalan. Rumahnya yang berada di pinggir jalan raya menjadi pemandangan yang tidak bisa saya alihkan setiap kali lewat dalam berkendara. Jika kebetulan berjalan kaki dan melihat almarhum duduk di depan rumah, tentunya saya akan mampir dulu dan menyalaminya.
------

Sebelumnya, Sebuah sms mendarat di hp ku dengan bunyi salah satu iklan susu dengan suara anak kecil. Pesan singkat dari nomer Bapak. Isinya meminta saya untuk membelikan bakso..!! Bening, tanpa campuran mie. Setelah membaca sms tersebut, saya sangat familiar dengan gaya penulisannya, seperti orang yang baru belajar sms. Haha, ini pasti Vina, adik bungsu saya. Dengan sedikit tersenyum, saya balas smsnya, "Kakak pulangnya agak malem, takut kelamaan mending minta Kak Tedi aja beli ke pertigaan!"  pinta saya dengan sedikit khawatir, karena biasanya ada sesuatu yang terjadi padanya, seperti sakit. Ini jarang dilakukannya dalam kondisi normal. Karena kalau biasanya dia disibukan dengan jadwal main bersama teman-temannya. Huuh kalau udah main, pasti lupa deh ama segalanya. Tentu saja dia juga nggak ingat kapan kakaknya ini pulang ke rumah.

Benar saja, sudah dua hari Vina mengalami demam panas. Saat melihatnya, wajahnya pucat sekali. Dan sayangnya dia itu paling susah minum obat. Pengennya yang manis-manis. Mana ada obat yang manis? Makanya dia lebih suka dibelikan obat anak penurun panas yang dijual di warung. Sudah delapan biji obat itu dia 'telen', namun tidak ada reaksi apa-apa. Takutnya berdampak buruk bagi kesehatannya, akhirnya kita stop tidak memberikan obat tersebut lagi. Bukannya sembuh malah bikin parah nantinya.

Saat saya sampai kerumah, terlihat semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu. Kusalami semua yang ada di ruangan hingga kucium tangan Bapak, Ibu, Tedi dan tentunya si kecil Vina. Agak lama saya berada dekat dengannya sambil mengusap-usap kepalanya. "Neng kenapa?" tidak ada jawaban yang terucap padanya. "Itu demam, dari hari selasa." ibuku menjelaskan. "Berarti udah dua hari ya" sambungku sambil mengusap kepalanya "... dan dua hari juga vina nggak masuk sekolah. Hemm, sayang banget ya.." yang sesekali aku cubit pipinya.


Wajahnya masih terlihat murung, aku coba cari tau penyebabnya. Kulihat ada semangkok bakso yang sedang di habiskan oleh ibu. "Lha, ini yang mau bakso siapa? Kok ibu yang makan sih?" tanyaku bingung. "Iya, kata Aa kan pulangnya mau malem, yaudah titip ke Tedi sambil dia lewat pertigaan." ibu menjelaskan. "Eh, nggak taunya salah beli. Kan mintanya bakso aja, nggak pake mie. Ini malah dicampur." jelas ibu panjang lebar.


Dengan senyum simpul aku bertanya pada vina, "Neng masih mau bakso nggga?" sambil mengambil tas ranselku yang ditaruh dekat lemari. "Ini diaaaa... Ayo siapa yang mauuuuu...?" Kukeluarkan satu bungkus plastik hitam yang berisi empat bungkus bakso. Dua dicampur dan dua lagi cuma baksonya aja. Dan akhirnya senyum simpulpun keluar dari wajah adikku yang manis ini. "Nah gitu donk, senyum..^_^ jangan cemberut terus" sambil sesekali meledeknya. "Udah ya, abisin deh ama Neng semua hehe.." 


Saat semua menikmati bakso, ada yang aneh diantara ekspresi semua anggota keluarga. Ekspresi mereka yang terlihat nyengir nggak karuan. Sama sekali nggak jelas. Saya yang baru bergabung yang sebelumnya menyelesaikan shalat isya di kamar. Kutanya adapa apa? "Heem, rasanya sangat asin. Ini yang bikin kayak baru pertama kali bikin bakso aja" komentar ibu saat mencicipi satu mangkuk bakso yang dicampur. Namun karena kebersamaan itu, rasa kurang enak dalam satu mangkuk bakso nggak kerasa sama sekali. Semuanya Habis. Masing-masing satu mangkok. Cuma Vina aja yang masih tersisa banyak. Maklum dia kurang sehat, kalau aja dalam kondisi normal, huuuh jangan ditanya. dua mangkuk juga masih minta nambah hehe...

---

Menjelang malam, Setelah shalat isya, saya duduk santai menghilangkan rasa lelah di ruang tamu bersama keluarga tercinta. Sungguh indahnya melihat kebersaaan ini. Ada moment dimana saya berdiskusi hangat dengan Ibu. Semacam curhat-curhat gitu deh. Tapi bukan ajang nge-galau abis, karena saya udah punya antivirus galau. Hal ini memang hampir sering saya lakukan dengan Ibu. Beliau adalah wanita yang siap sedia mendengarkan segala curhatan anaknya. Celotehan, humor hingga mimpi besar sering kami diskusikan.

Namun malam itu, belajar banyak tentang makna hidup. Saya mendapatkan kabar buruk. Ibu bercerita bahwa hari selasa kemarin Paman Ahmad telah berpulang kehadirat Allah, Dzat yang menggenggam jiwa-jiwa para hamba-Nya. Saya serasa nggak percaya mendengarnya. Karena menurut cerita ibu, sama sekali nggak ada tanda-tanda almarhum akan meninggal.

Sudah merupakan sunnatullah bahwa setiap diri akan mengalami kematian. Namun yang menjadi misteri adalah kita tidak pernah mengetahui kapan, dimana dan dengan cara seperti apa kematian datang menjemput kita. Intinya semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, hanya caranya saja yang berbeda.

Seseorang yang sehat-sehat saja bukan hal yang mustahil dikunjungi malaikat maut, sang algojo yang membawa titah Tuhannya sebagai tugas yang harus dilaksanakan. Mencabut nyawa makhluk Allah yang masa hidupnya sudah habis di dunia. Termasuk paman saya ini, yang sebelumnya pihak keluarga sama sekali tidak menyangka, karena malam harinya almarhum masih dalam keadaan sehat wal afiat. Hingga menjelang shubuh, almarhum dibangunkan oleh sang isteri untuk segera bersiap-siap shalat. Namun yang terjadi sebuah tubuh tanpa nyawa terbujur kaku. Ketika digerakan, bergerak semua badannya. Sontak menjadikan seisi rumah menjadi histeris.

Kematian juga bisa saja menghampiri anak muda. Lihat saja generasi saat ini, bisa kita temukan remaja yang tidak sedikit jumlahnya sudah menghadap Sang Ilahi. Ada yang kecelakaan, over dosis peke obat, tawuran dll.

Kecelakaan maut di darat, di air atau di udara hanyalah salah satu cara Allah mengambil nyawa makhluk-makhlukNya. Yang baru-baru ini juga dikabarkan sebuah Pesawat Sukhoi Jet 100 yang jatuh di puncak Gunung Salak hanya sebagian kecil tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang menjadi tanda tanya besar adalah sejauh manakah kita telah mempersiapkan  kematian yang merupakan gerbang awal kehidupan abadi. Sayangnya hanya sedikit dari kita yang mengerti bahwa kematian akan datang tanpa kabar berita kapan, dimana dan bagaimana? 

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati…(TQS. Ali Imran 185)
Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu) . Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun (TQS. Al Araf : 34)

….Dan tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya esok, dan tidak seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati….(TQS. Al Luqman : 34)

Sungguh ayat-ayat diatas merupakan kemurahan dan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya agar  kita semua bersiap siap dengan matang menghadapi akhir kehidupan kita. Karena pasti semua manusia ingin hidupnya berakhir dengan husnul khotimah.

Ulama Ibnul qoyyim mengatakan “ Orang yang paling cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan kematiannya dengan matang”.

Usia dan kesempatan adalah dua hal penting yang diberikan Allah sebagai investasi semasa hidup di dunia. Dengan usia yang terbatas tentunya kita harus pandai-pandai mengalokasikan usia ini untuk hal-hal yang bermanfaat dan menguntungkan kita di kehidupan selanjutnya.

Maka uraikan dan rencanakan ending hidup kita dengan seindah-indahnya agar kita menjadi hamba Allah yang selamat di dunia dan akhirat.

2 komentar:

kangkos mengatakan...

Sebaik-baik manusia adalah orang yg mengingat mati...

yasmin mengatakan...

Sungguh tidak sebanding pengorbanan kita untuk kehidupan dunia jika dibandingkan dengan pengorbanan untuk kehidupan akhirat

 

Free Music