Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 16 April 2012

Teman di Kereta



...
Sampai stasiun kereta pukul setengah dua
Duduk aku menunggu tanya loket dan penjagaKerta tiba pukul berapa?


Biasanya kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa (rusak lo)


Biasanya kereta terlambat
Dua jam cerita lama (Iwan Fals: Kereta Tiba Pukul Berapa?)



-----------


Masih bercerita tentang seputar perjalananku di kereta kelas ekonomi. Kendaraan yang saya naiki 2x dalam seminggu. Memang ada dua jenis kereta yang beroperasi di Stasiun Bogor, yaitu Kereta kelas ekonomi dan Commuter Line. Namun sepertinya saya lebih memilih untuk naik kereta kelas ekonomi. Maklum, kantong saya belum cukup tebal untuk membeli karcis Commuter Line yang harganya nyampe Rp. 7.000,- untuk satu perjalanan. Kalau ke depok mungkin cuma Rp. 6.000,- an aja. Jurusannya Bogor-Jakarta.



Stasiun yang menjadi tempat peralihan para penumpang adalah Stasiun Manggarai. Dari stasiun ini akan menuju Jakarta Kota untuk jalur sebelah kanan dan jurusan stasiun Tanah Abang untuk jalur sebelah kiri. Dari Stasiun Bogor pun sebenarnya sudah disebutkan dari awal oleh petugas stasiun bahwa kereta yang berada di jalur 2 akan diberangkatkan jam sekian menuju Jakarta Kota. Ya siap-siap aja melatih pendengaran kita dengan baik apa yang disampaikan oleh petugas stasiun tersebut.


Walaupun kereta Commuter Line dilengkapi fasilitas AC (Air Conditioner), ternyata saya lebih senang naik kereta ekonomi biasa aja walaupun fasilitasnya cuma AG alias Angin Gelebeeerrr.


Tentunya kendaraan yang satu ini jauh lebih sehat, dibandingkan kendaraan umum yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Polusi yang ditimbulkan bisa kita lihat dari kebulan asap yang mengganggu sistem pernapasan. Buat saya yang nggak merokok akan sangat tersiksa sekali.


Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, lalu lintas dalam hal ini kendaraan bermotor, mempunyai andil yang besar dalam memberikan kontribusi pada populasi udara. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, bandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain.


Polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia melalui berbagai cara, antara lain dengan merangsang timbulnya atau sebagai faktor pencetus sejumlah penyakit. Kelompok yang terkena terutama bayi, orang tua dan golongan berpenghasilan rendah biasanya tinggal di kota-kota besar dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk.


Oleh karena itu, diharapkan ketika kita berpergian menggunkaan kendaraan jangan lupa menggunakan masker. Upaya sebagai penyaring udara kotor yang masuk tidak terlalu banyak. Masker yang dijual lalu lalang didalam kereta ekonomi ini cukup murah. Hanya Rp. 5.000,- saja kita mempunyai berbagai variasi warna dan gambar-gambar kartun kesayangan. Mulai dari Naruto, Shaun the Seep, hingga Bernard dll.


Sempat dalam hati mengeluh kenapa saya tidak membeli kendaraan saja, sehingga mempermudah melakukan aktivitas yang membutuhkan transportasi. Bukankah menggunakan kendaraan sendiri seperti motor misalkan akan lebih memudahkan kita dalam menjangkau berbagai tempat yang cukup jauh dengan waktu dan biaya sehemat mungkin.


Ada beberapa tempat yang jelas tidak bisa diakses dengan kendaraan pribadi. Misalkan saya yang harus ke Depok untuk kuliah atau ada acara yang harus saya ikuti di Jakarta agak susah menggunakan kendaraan pribadi. Pasalnya jarak antara Bogor-Jakarta cukup jauh sehingga akan menguras banyak tenaga kita yang seharusnya digunakan di lokasi tujuan.


Sehingga alternatif kendaraan yang bisa kita gunakan adalah angkutan umum seperti kereta dan bus. Di dalam kendaraan tersebut kita bisa istirahat atau mengumpulkan tenaga dan ide yang bisa kita tuangkan di tempat tujuan kita nanti. Kita bisa belajar dari perjalanan yang kita lewati. Bertemu dengan berbagai macam sifat manusia yang aneh-aneh bahkan mungkin bisa dibilang unik.


Sebagai contoh, selama saya bekerja di PT. Panasonic Manufacturing Indonesia di Gandaria Jakarta Timur, sehari-hari saya menggunakan kendaraan bus untuk berangkat dari Depok-Jakarta. Selama itu saya tinggal di rumah paman dan bibi beserta lima orang anaknya tinggal di Depok. Hingga tiba waktu libur tiap hari minggu, kadang seminggu sekali atau dua kali saya menyempatkan pulang ke Bogor. Karena saya tidak bisa memendam rasa rindu terlalu lama sama bidadari kecilku Vina Oktaviani, adik saya yang saat ini duduk di kelas dua SD.


Hingga berada di tempat kerja yang baru di Grosir Pulsa Bogor. Di sela-sela kesibukan kerja, saya berusaha untuk tetap masuk kuliah. Semuanya saya lakukan dengan mengatur jadwal sedemikian rupa. Oleh karenanya saya ingin mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan kerja yang sudah membantu mengatur jadwal kita masing-masing agar tetap bisa melakukan tugasnya sebagai karyawan. Toha Saefuloh, Iwon gunawan dan faisal Pribadi. Serta tak ketinggalan pada Bos Hasan Sunarto yang lebih akrab kami panggil Bang Has.


Dalam perjalanan ke kampus yang terletak di tengah terminal Depok Baru, saya lebih sering menggunakan transportasi kereta. dari segi jarak lebih mudah karena ketika turun di Stasiun Depok Baru, jalan sebentar akan sampai di kawasan Sekolah Master. Begitu orang-orang sekitar menyebutnya. Karena aktivitas awal kegiatan belajar-mengajarnya di dalam Masjid yang terletak di tengah Terminal Depok (Master = Masjid Terminal). 


Perjalanan sore itu agak berat. Saya harus memilih antara kuliah dan mengisi kajian di STAIT Sahid Bogor. Kajian keislaman yang baru kita gelar 2x pertemuan ini kami namakan dengan Islamic Coaching. Sebuah kelanjutan dari acara Basic Islamic Leadership Training (BILT) yang kami gelar hari sabtu-minggu, 24-25 maret 2012 di Asrama STAIT Sahid yang lalu.


Acara Islamic coaching tersebut berbarengan dengan jadwal kuliah, ahad sore pukul 16.00. hanya memang ada yang membuat saya lebih berat memilih untuk kuliah karena sebelumnya di informasikan kepada seluruh mahasiswa untuk hadir. Bahwa hari tersebut akan diadakan Ujian Semester Tiga Mata Kuliah Bahasa Arab. Akhirnya saya lebih memilih untuk kuliah.


Di perjalanan dalam kereta jurusan Bogor-Depok, saya berkenalan dengan dua orang teman yang kuliah di Jogya. Kharim namanya. Kami langsung bertukar nomer hp dan saya lupa namanya yang satu lagi. Keduanya hendak berbelanja ikan segar/ yang masih hidup untuk di masak di rumah oleh kakaknya. Langsung saja saya ajak mereka ke pasar di Terminal Depok Baru. Dengan memperkenalkan diri dan tujuan saya ke depok itu untuk kuliah, mereka penasaran dengan kampus saya. Setelah saya memberitahu letak pasar yang bisa membantunya menemukan barang yang mereka cari, saya mengajak mereka ke kampus sederhana saya. Mereka sangat kagum ada tempat kuliah di keramaian aktivitas terminal.


Semoga apa yang kita usahakan selama ini mendapatkan ridha Allah SWT. Dalam setiap langkah kita akan senantiasa diberikan kemudahan dan ditetapkan pada jalan-Nya yang lurus. Aamiin.

0 komentar:

 

Free Music