Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 16 April 2012

Pencuri di Kereta


Perjalanan pulang kuliah di hari sabtu malam cukup sejuk karena guyuran hujan di wilayah Stasiun Bojong Gede. Seperti biasa, rasa kantuk, lelah pun tak bisa dihindarkan. Kereta ekonomi yang padat penumpang membuat saya harus cukup waspada terhadap keadaan sekitar. Minimal ketika kita berpergian  harus ingat dengan barang-barang yang kita bawa. Klo bisa sih dihafal tuh apa aja barang tersebut. Misal di dompet disimpan di kantong belakang, isinya ada uang 5 lembar seratus ribuan, 7 lembar lima puluh ribuan, dua puluh ribuan dst. Katanya sih dengan seperti itu kita bisa cukup waspada.

Terlepas benar atau tidaknya hal tersebut memang jauh lebih baik jika kita lebih waspada. Tingkat kepekaan terhadap keadaan sekitar pun akan lebih diperhatikan. Karena tingkat kesadaran seseorang sedang dalam keadaan siap. 

Ada sebuah cerita menarik yang saya dapatkan dari seorang teman. Hampir setiap hari ia menggunakan  kereta ekonomi yang mengantarkannya ke tempat kerja. Tentu banyak hal yang ia alami, termasuk mengenali beberapa orang pencuri.

Pada suatu kesempatan ia kebetulan melihat aksi sang pencuri. Ternyata aksi dilakukan dengan lihainya tanpa sedikit pun disadari oleh si korban. Melihat aksi pencuri tersebut, teman yang saya kenal selama perjalanan di kereta ini berniat ingin mengerjai sang pencuri.

Keesokan harinya, ia menyiapkan sebuah dompet kosong yang dalamnya ia olesi dengan (maaf0 tai ayam lancung --sejenis tai ayam berwarna item pekat-- yang baunya heeem, nggak usah ditanya deh. Buat yang pernah bergelut bersama ayam, eh maksudnya pernah memelihara ayam di rumahnya pasti tau betul.

Dompet itu ia simpan di kantung celana bagian belakang. Dan saat di kereta ia pun bertemu dengan si pencuri kemarin. Sepertinya ia tetap menjalankan aksinya dengan enjoy-nya. Merasa nggak punya dosa. Huh.. orang emang klo udah dibutakan dengan kesenangan dunia pasti lupa tuh yang namanya halal-haram. Lupa akan hari pembalasan, dimana setiap amal perbuatan akan dibalas dengan balasan yang setimpal.

Buat contoh juga nih bagi para koruptor kelas kakap, kelas tongkol ataupun kelas cue', mereka yang merasa udah lega bisa bebas dengan mudah dari jerat hukum atau klo mesti di hukum penjara, nggak berat-berat amat. Mereka yang korupsi miliyaran bahkan triliyunan duit negara cuma dikurung paling banter 5 bulan aja. Bandingkan dengan mbok Minah yang cuma mencuri 3 buah kakao seharga Rp. 1.500 perak dipenjara selama 3 bulan.

Jelas hukuman seperti ini sangatlah tidak adil. Ibarat mata pisau yang tumpul di bagian atas dan tajam pada bagian bawah. Ini adalah gambaran bagaimana penerapan hukum yang salah di negeri ini. Hukum yang diterapkan merupakan hukum sampah buatan manusia yang jauh dari rasa keadilan. Hanya akan menimbulkan kesengsaraan bagi sebagian pihak. Tentunya jika hukum itu dikembalikan pada Sang Pemilik Hukum, al-khaliq al-Mudabbir. Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh kehidupan dunia. Hal itu akan terwujud dengan penerapan Syariah dalam bingkai Khilafah.

Eh, ada yang ketinggalan. Gimana nasib pencuri itu? Heem sampai kelewat gitu. Ok kita lanjut aja. Ternyata teman saya itu berdiri di hadapan sang pencuri dengan menaruh dompetnya agak sedikit timbul ke atas di saku celananya. Sehingga akan sangat mudah dilihat bagi mereka yang mempunyai pandangan setajam elang hehe..

Wal hasil, dari keadaan berdesak-desakan terasa memang ada tangan yang mengambil dompetnya dari belakang (karena sudah mempersiapkan diri tadi). ia coba sosok sang pencuri, aksinya dilakukan sesaat sebelum pemberhentian di sebuah stasiun. Jadi ketika aksinya berhasil dengan sekejap saja ia bisa bisa menghilang dan langsung turun dari kereta hingga menjauhi korbannya.

"Kena kau..! kata temanku dengan senyum mengembang. Dilihatnya sang pencuri di depan pintu gerbong paling belakang sedang 'memeperkan' tangannya. Sempat juga di cium-cium...Akhhhh, joroknya... hihihi...

0 komentar:

 

Free Music