Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 26 Maret 2012

Semalam di Villa Perjuangan




Hai semuanya, ketemu lagi nih. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu wasilah kita untuk tetap menjalin silaturahim. Sobat semua, pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman saat saya bersama teman-teman mengadakan perjalanan ke Curug Nangka. Yup, udah tau kan kira-kira dimana tempatnya. Langsung aja deh.

Curug nangka, merupakan salah satu curug andalan kabupaten Bogor di samping Curug Luhur dan Curug Cilember. Hal ini terlihat dari foto-foto peta wisata yang menampilkan dan disandingkan dengan kedua curug tersebut pada pintu masuk ke lokasi

Namun pada kesempatan ini, saya tidak akan terlalu banyak menceritakan seperti apa Curug Nangka itu. Karena saat perjalanan pertama saya ke tempat tersebut, gagal menemukan curug tersebut :(( Tapi dari perjalanan itu, banyak sekali pelajaran, pengalaman dan tantangan yang saya dapatkan.

Diawali dengan acara MABIT (artinya: bermalam, tapi saya lebih senang menyebutnya dengan Malam Bina Iman dan Taqwa) di salah satu rumah teman di desa Kedung Malang Ciampea Bogor atau apa saya lupa namanya. Beliau mengikhlaskan tempat tersebut digunakan untuk keperluan aktivitas dakwah teman-teman. Rumahnya tidak terlalu mewah karena memang bukan villa. Hanya sebuah rumah kecil berukuran mungkin 6x12 meter yang dilengkapi 2 kamar tidur, dapur dan kamar mandi yang airnya langsung dialirkan dari mata air pegunungan. Pernah saya bertanya pada Si Ibu, orang yang dipercaya untuk menjaga rumah tersebut. "Bu, ini airnya udah penuh di bak mandi, matiin airnya dimana ya?" tanyaku. Si Ibu hanya tersenyum, "nggak usah dimatiin mas, itukan air dari gunung langsung, jadi nggak habis-habis" jelasnya.

Teman-teman fokus pada materi
Air yang melimpah sangat mudah didapat, sangat berbeda dengan tempat tinggal saya. untuk mendapatkan air harus menggali sumur yang dalam, kemudian kalau memang tidak mau menimba, ya pakai pompa air untuk mengalirkannya ke kamar mandi. Jelas ini akan membutuhkan tambahan biaya untuk listrik. Apalagi di kota-kota besar. Mendapatkan air bersih cukup susah dan jika ada pun harganya lumayan mahal. Bersyukurlah bagi mereka yang masih diberikan kemudahan oleh Allah dengan nikmat yang berlimpah tersebut. Gratis!

Sabtu pagi, sekitar pkl. 09.00 kami sudah sampai di Villa Perjuangan, begitu kami menyebutnya. Setidaknya sebutan tadi menggambarkan betapa kami membutuhkan perjuangan extra untuk sampai ke alamat tersebut. Rumahnya terletak hampir 3 meter di atas jalan yang kami lalui. Dengan melewati tiga tanah lapang yang bertingkat, rumah itu berada di posisi paling atas. Ada beberapa teman yang menggunakan sepeda motor yang kewalahan untuk melewati jalan berumput yang tersiram air hujan semalam, sehingga butuh didorong dari belakang. 

Tanah lapang tadi biasa digunakan anak-anak bermain sepak bola. Jika sudah melihat asyiknya bermain sepak bola, kurang afdol kayaknya kalau saya tidak turun ke lapangan. Untungnya sudah saya persiapkan kaos team warna orange bernomer punggung 11. Ini merupakan kaos team yang saya dan teman-teman buat untuk sepakbola antar RT dulu. Padahal saya mempersiapkan itu untuk rencana ke Curug Nangka.

Setelah capek bermain bola, dan jam pun sudah menunjukan pukul 11.30 WIB, kami sitirahat sebentar, sambil bersiap untuk shalat dzuhur. Ada sebuah Mushola kecil untuk shalat berjamaah bagi peduduk sekitar. Saya memang tidak melihat masjid di sekitar desa, tapi untuk ukuran penduduk sekitar rasanya cukup dipakai untuk berjamaah shalat wajib. Apalagi selama saya berada di sana jamaahnya juga kurang sekali yang shalat di Mushola. Saya hanya bisa berhusnudzan bahwa mereka shalat di rumah atau masih dalam keadaan bekerja, yang kebanyak sepertinya bertani. Jadi ya harus bersih-bersih dulu mungkin.

Selesai shalat berjamaah, memang dari kami tidak semua shalat ke Mushala, ada sebagian yang ternyata shalat di rumah. Wal hasil, sebagian yang lain sudah berkumpul pesiapan makan siang. Menunya hanya nasi, ikan teri, telur dadar dan kerupuk. Tidak lupa lalapan dan sambal cukup menggoyang lidah kala siang itu. Makanan yang sederhana itu terasa nikmat karena disantap saat perut memang lapar. Saya termasuk orang yang terakhir kebagian makanan, hanya tersedia sedikit nasi dan lalap sambal dan kerupuk. Ikan teri dan dadar telurnya habis.Ah tidak. Namun sungguh bersyukur ada sebagian teman yang membagi sedikit jatah mereka pada saya, sehingga masih bisa merasakan lauk tersebut.Oh, indahnya berbagi. Saya sadar bahwa memang Allah lah yang memberikan nikmat dalam makanan itu. Bukan dengan apa kita makan.

Setelah semalam kita menginap di Villa tersebut hehe, biar sedikit keren. Pagi hari kita mulai dengan olahraga ringan. Hal ini dimaksudkan agar tubuh kita sudah siap untuk perjalanan jauh nantinya. Karena rencana awal, kita akan berjalan hingga menemukan curug. Apa menemukan curug? ga salah nih? Jadi diantara kita memang belum ada yang tau jalan mana yang harus dilewati agar sampai ke Curug Nangka. Heemm, di sini perasaan saya udah nggak enak nih. Tapi nggak apa-apa lah, untung-untung refresing jugakan. Let's go.

Kami hanya diberikan arah oleh Si Bapak (suami dari si Ibu penjaga rumah) hehe, maklum saya lupa nanyain nama mereka. Si Bapak menunjuk ke arah hutan pinus yang merupakan salah satu jalur untuk kita sampai ke Curug. Akhirnya perjalanan pun di mulai. Lho, udah sepanjang ini tulisan, baru mulai cerita perjalanan ke Curugnya, huft.

Mau dilanjut ga nih ceritanya? Singkat cerita, perjalanan melewati hutan pinus pun di mulai. Kiri-kanan kulihat saja banyak pohon cemara hehe. Setidaknya kita memang lagi naik ke puncak gunung. Karena Curug  Nangka memang terletak di kaki Gunung Salak, saya ulangi kaki Gunung Salak. Perjalanan cukup jauh dan menanjak (ya iyalah, namanya juga naik gunung). Sesekali kami berhenti, bukan untuk istirahat, bukan. Tapi untuk mengambil gambar foto kita bersama dalam perjalanan ini. (hehe nasis banget).

Sedikit berpose

Dan sampailah kami di sebuah mata air. Sebuah sumber air yang sengaja dialirkan ke penampungan yang dibuat kotak persegi. Dengan lubang yang ditancap selang-selang berukuran kecil, sedang hingga besar. Dari sinilah para penduduk sekitar memanfaatkan air tersebut dengan selang yang mereka masukan ke lubang-lubang kecil tersebut. Jika selangnya (pipa) berukuran besar, biasanya hanya untuk mengalirkan hingga melewati hutan pinus hingga perbatasan rumah penduduk terdekat dan dibuatlah penampungan baru dengan lubang-lubang kecil yang lebih banyak, mungkin satu keluarga bisa satu lubang air untuk kebutuhannya sehari-hari.

"Lho kok, di sini?" tanyaku heran pada Pak Mas Hadi, sebagai amir safar (pemimpin rombongan). "Iya kita di sini saja, kan sama mata air juga yang keluar langsung dari pegunungan." jawabnya. Seakan tak percaya teman-teman yang lain pun tidak terlalu lama berdiam diri di tempat tersebut. Karena memang yang menjadi tujuan kita semua adalah Curug Nangka. Bukan Curug yang nggak keurus kayak gini. Alirannya kecil, mungkin hampir sama dengan Curug Nangka jadi terlihat kecil karena tidak terurus. Tidak ada jalan khusus yang disiapkan untuk mencapai sumber air. Banyak semak belukan tumbuh di sekitarnya sehingga aliran airnya tidak terlihat indah sebagaimana seharusnya sebuah kawasan wisata curug. Yang hampir menyamakannya memang ada pohon nangka yang tumbuh di samping jalan yang kita lalui itu. tapi bukan berarti itu disebut Curug Nangka hehe.

Saya merupakan orang yang terakhir bersama Pak Mas Hadi dalam meninggalkan tempat tersebut. Kami ngobrol sedikit tentang tempat yang barusan kami lalui itu. Usut punya asep, eh maksunya usut punya usut laki-laki yang menjadi guru saya sewaktu sekolah menengah pertama ini mempunya rencana dengan sumber mata air itu. Ia ingin kami semua kerja bakti untuk membersihkan tempat itu. Menjadikan tempat tersebut lebih enak dipandang sehingga mampu menjadi salah satu tempat yang menarik minat wisatawan. Siapa tau dengan itu kita bisa membantu masyarakat sekitar sebagai tambahan penghasilan. Bisa jadi sebenarnya sudah ada pemikiran seperti itu pada masyarakat sekitar untuk menjadikannya tempat wisata. Hanya saja tidak ada dukungan dan motivasi agar usaha itu terwujud. Mungkin tugas kita hanya memberi dorongan awal agar mereka termotivasi untuk melakukannya. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu tambahan amal sholeh kita yang akan senantiasa mengalir pada kita.


Makan siang setelah perjalanan panjang
Ternyata mendengar penjelasan Pak Mas Hadi, saya jadi kagum padanya. Beliau mempunyai sebuah visi yang luar biasa. Sebuah cita-cita yang mulia, yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh saya dan teman-teman yang lain. Heem, Insya Allah pada kesempatan lain, kita akan mengagendakan untuk membersihkan curug tersebut. Saya pasti mendukung pak!

0 komentar:

 

Free Music