Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 08 Maret 2012

Belajar dan Teruslah Belajar

Aku belajar dari kesederhanaan dan kejujuran seorang Ibu.
Dengan sabarnya dan berusaha menerima apa yang sudah Allah amanahkan dalam hidup ini
Tidak sedikit pun aku diajarkan olehnya tentang mengeluh atas beban hidup yang begitu berat.
Kita harus yakin bahwa dalam setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan
Yakinlah, dalam setiap kesulitan pasti akan ada kemudahan
Begitulah Allah menerangkan salah satu ayat-Nya dalam QS. an-Nashr

Pernah suatu ketika melihat Ibu yang hendak berbelanja,
Seorang tetangga, bu Herni namanya menitip belanjaan yang diperlukannya pada Ibu.
Karena ingin menolong dan dirasa tidak terlalu merepotkan, 
Ibu pergi ke warung sekaligus membelikan belanjaan yang dipesan bu Herni tadi.
Namun ternyata dari uang Rp. 50.000 yang diberikan bu Herni masih tersisa sekitar Rp. 7.000-an. Ibu pun mengembalikan uang kembalian itu beserta pesanan.

Aku yang melihat itu pun melontarkan pertanyaan pada Ibu, "Kenapa nggak diambil aja sih?" celetuk saya yang sedari tadi mendengarkan dekat pintu. 

"Toh untung-untung uang capek dan saya rasa bu Herni juga tidak akan mempermasalahkan." lanjut saya.

"Bukan masalah itu..!" jawabnya tegas. 

"Ingat, ini bukan milik kita. Tidak boleh sedikit pun kita mengambil barang yang bukan hak kita" tegas Ibu sekali lagi mengingatkan saya. 

Pernah beberapa bulan yang lalu, saat diminta membantu tetangga yang baru lahiran. Karena sang punya rumah merasa terbantu oleh Ibu, mereka pun meminta Ibu untuk tetap membantu mereka dalam pekerjaan rumah hingga mendapatkan pembantu sungguhan nanti. (jadi ceritanya ibu itu dikontrak untuk mengurusi tetangganya itu). Beberapa pekerjaan seperti mencuci pakaian, piring, mengepel lantai menjadi tugas rutin Ibu. Terutama mengurus si bayi yang masih kecil tentunya, karena ternyata tidak ada yang lebih cekatan mengurus bayi selain Ibu. Dari sinilah sebenarnya sang tetangga menaruh kepercayaan besar pada Ibu yang diharapkan bisa membantu pekerjaan-pekerjaan yang tidak mampu dijalankan oleh pemilik rumah. 

Di sini saya perlu kasih tau bahwa Kebiasaan buruk sang pemilik rumah adalah menaruh dompet dan uang sembarangan (hehe.. bukan maksud menggibah ya, mudah2n bisa mengambil hikmah aja, kalau naruh barang itu jangan sembarangan). Ya, naruh barang berharga seperti uang itu ditaruh di tempat terbuka, seperti di atas kursi, kasur, meja dll. Hingga tak jarang dari uang recehnya masuk ke sela-sela kurs.

Saat berbenah, Ibu selalu menemukan uang receh. Namun semua uang itu dimasukan dalam sebuah kantong dan disoimpan. Tidak dibawa dibelanjakan apalagi dibawa pulang. Pernah dalam kantong plastik itu terkumpul hingga Rp. 40.000 uang receh Rp. 100-500-an. Saat mendengarkan cerita tersebut, aku bertanya, kenapa Ibu tidak ambil aja uang tersebut? 

"Toh cuma uang receh yang mungkin sudah dilupakan oleh pemiliknya." tanyaku

"Ibu nggak mau, itu bukan milik ibu." tegasnya.  

"Lebih baik kelaparan dari pada harus makan dengan uang yang bukan milik kita, walaupun cuma seperak!" lanjutnya dengan penuh keseriusan. Seolah seperti orang sedang menghadapi sebuah masalah yang sangat besar

Kata-kata itu pun menghujam dalam benakku hingga saat ini. Seperti mengalir dalam setiap denyut nadi dan menjalar keseluruh tubuh. Merinding jadinya. Semoga Allah selalu menuntunku dalam setiap langkah dalam menjalani relung-relung kehidupan.

----------------

Aku pun belajar dari kerja keras dan tanggung jawab seorang Ayah
Dengan pengorbanannya selama ini, ia berusaha memberikan nafkah yang halal kepada kami.
Pernah suatu ketika Ayah harus pulang malam. Karena sudah tidak ada kendaraan, maka beliau diperbolehkan membawa mobil bosnya, asalkan besok paginya ia menjemput ke rumah untuk berangkat kerja. Saat itu beliau seorang supir pribadi.

Hal itu terjadi berulang-ulang, hingga tak jarang Ayah harus mengorbankan malamnya untuk tidur di dalam mobil menjaganya agar tetap aman. Maklumlah rumah saya yang masuk kedalam gang sekitar 10 meter jelas tidak ada garasinya dan otomatis harus memarkirkan mobil di pinggir jalan. Jelas itu akan sangat rawan pencurian. Jika dalam seminggu ada lima hari harus pulang malam, maka selama itulah Ayah harus tidur dalam mobil. Semuanya dilakukan karena rasa tanggung jawab. Bisa saja mobil diparkir di pinggir jalan dan kita langsung tidur. Tapi siapa yang bisa jamin kalau besok pagi mobil tersebut masih ada? Lalu siapa yang harus menggantinya? Begitu kira-kira alasannya saat aku tanya.

Tidak sedikit pun aku diajarkan Ayah untuk mencari harta yang haram.
Menghalalkan segala cara untuk membenarkan perbuatan kita. Mencari dalih tanpa dalil.
Tidak peduli apakah sesuatu yang dibenarkan oleh hukum syara atau tidak.
Padahal Allah Swt. telah berfirman dalam salah satu ayatnya.

"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan,
karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
Begitu Allah mengajarkan dalam ayat-Nya dalam QS. al-Maidah:88

Belajar bukan berarti hanya sekolah...
Belajar bukan berarti hanya membaca buku..
Tapi juga belajar dari setiap kejadian..
Belajar dari apa yang bisa dilakukan ...
Agar hidup ke depan lebih baik..

Aku belajar diam dari banyaknya bicara.
Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan.
Aku belajar mengalah dari suatu keegoisan.
Aku belajar menangis dari kebahagiaan.
Aku belajar tegar dari kehilangan

Hidup Adalah BELAJAR.......
Belajar Bersyukur Meski tak Cukup,
Belajar Ikhlas Meski Tak Rela,
Belajar Taat Meski Berat,
Belajar Memahami Meski Tak Sehati,
Belajar Sabar Meski Terbebani,
Belajar Setia Meski Tergoda,
Belajar Memberi Meski Tak Seberapa,
Belajar Mengasihi Meski Disakiti,
Belajar Tenang Meski Gelisah,
Belajar Percaya Meski Susah,

Belajar dan Terus Belajar...
Belajar sampai pada akhirnya Allah yang menyempurnakan..

0 komentar:

 

Free Music