Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sabtu, 14 Januari 2012

Rindu

Hari yang indah. Walaupun tak seindah cuaca pagi itu. Hujan yang mengguyur sejak jumat malam membuat mata ini seolah tidak mampu mengangkat kelopak mata ini. Selimut hangat senantiasa memeluk erat tubuh ini hingga tak bisa bergerak bangkit.

Suara alarm terus bersahutan mencoba membangunkan. Memang sengaja saya men-setting dalam lima waktu yang berbeda, berharap jika bunyi yang pertama terlewat, mudah-mudahan masih bisa mendengar bunyi yang kedua atau bunyi yang selanjutnya. Tentu dengan nada yang berbeda agar tidak merasa bosan dengan bunyi-bunyi terebut, yang ada malah jadi tambah khusyu' tidurnya.



Jumat pukul 02.00 pagi baru bisa memejamkan mata tak tau kenapa?. Sengaja tidak mencari pewe (posisi wuenaak) supaya nggak kebablasan. Benar saja tak lama mata ini pun terbangun kembali. Rasanya baru sedetik mata ini terpejam. Kulihat jam di dinding menunjukan pukul 04.30 subuh.

Coba berusaha mengangkat tubuh ini dan menggiringnya ke kamar mandi. Terlihat banyak air yang terbuang percuma dengan kran air yang terbuka. Ini karena saluran air sumur yang digunakan oleh tiga keluarga, saya dan dua orang bibi yang rumahnya bersebelahan. Jika pompa air dinyalakan, maka air akan mengalir pada jalur melewati rumah saya, hingga mengalir  rumah bibi yang di sebelah.

Shubuh yang begitu indah. Lantunan ayat suci yang diiringi gemericik air hujan menambah kesyahduan saat komunikasi dengan Sang Khaliq. Gemuruh dzikir yang terucap berulang mengingatkan akan banyaknya dosa yang selama ini dilakukan. belum siap rasanya diri harus berhadapan dengan-Nya membawa segala kekurangan dalam hal ibadah. Tak terasa hati ini rindu akan sosok Baginda Nabi Muhammad Saw. Ingin rasanya berkumpul di barisan umatnya di hari akhir kelak sebagai para pejuang Islam yang terpercaya.

Rindu Kanjeng Rasul

Rasulullah Saw. adalah manusia pilihan dan pembawa cahaya kebenaran. Atas perjuangannyalah Islam sampai kepada kita. Tidakkah kita merindukannya?

Marilah kita melayang ke belakang sebanyak 1450 tahun. Saat itu kita berada di Makkah dengan gurun Sahara yang luas terbentang. Masyarakat arab ketika itu menyembah bintang, mengkultuskan api, dan menganggapnya sebagai unsur kebaikan. Di sebelah utara Jazirah Arab ada yang beragama Nasrani, di Yaman ada Yahudi. Di Makkah sendiri, masyarakat kebanyakan menganut paganisme; menyembah berhala.

Suatu waktu datanglah kepada kita seseorang yang bernama Muhammad, sang Rasul pilihan. Dia datang dari jauh mendekati kita. Tampak, Beliau adalah orang yang sangat sederhana dalam penampilan. Sekalipun pakaiannya menyempurnakan kewibawaannya, pakaian yang dikenakannya tidakla terlalu mahal. Sungguh, amat Beliau mempesona siapapun yang melihatnya.

Rambutnya panjang mencapai dua bahu. Kadangkala Beliau memotongnya sehingga tidak sampai sebahu. Janggutnya hitam, tidak lebih dari segenggam tangan. Kumisnya tampak rapi. Beliau selalu memotong kumisnya supaya tidak sampai pada bibirnya sehingga bisa merusak pandangan ketika makan. Beliau tidak membuat ciri khusus dalam penampilannya; sama saja dengan para Shahabatnya. Karena itu, andai saja kita datang pada suatu waktu ke tengah-tengah Shahabat, kita tidak dapat mengenali Nabi. hingga bertanya-tanya, "Manakah orangnya yang bernama Muhammad Saw. itu?"

Beliau berjalan penuh dengan keseriusan dan kekuatan. Jika kita melihat Rasul berjalan, akan nampak betapa cepatnya laksana menuruni lembah. "Aku belum perna melihat orang yang lebi cepat jalannya daripada Rasulullah Saw. seolah bumi akan melibasnya. Kami berusah payah tetapi Beliau tidak memperdulikannya," tutur Abu Hurairah. (HR at-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, "Andaikan kita ikut berjalan bersama, Rasul, niscaya kita akan digiring oleh beliau. Jika berjalan bersama, Rasullullah membiarkan para Shahabat berjalan di depannya dan meninggalkan punggungnya bagi para malaikat." (HR Ibnu Majah).

Beliau berbeda dengan para penguasa yang diapit oleh para ajudannya; Beliau jauh berbeda dengan kebanyakan pejabat saat ini yang lebih mengagungkan dirinya. Kita akan merasa aman berjalan bersamanya.

Bayangkan oleh kita, andai kita bertemu dengannya. Beliau akan segera mendahului mengucapkan salam kepada kita sebelum kita sempat mengucapkan salam kepada Beliau. Padahal Beliau adalah manusia pilihan Allah. Tentu, hati kita akan merunduk malu menyaksikan keluhuran sikap ini. Tangan kita akan segera digenggam erat dan disalami penuh kasih sayang. Beliau tidak akan melepaskan genggaman kita seraya Beliau berutur kata. Saat berbicara, tutur katanya pun demikian manis; tidak akan pernah kita temukan sesuatu  pun yang buruk di dalamnya. Ungkapan "Kamu salah," atau "Alangkah buruknya apa yang kamu perbuat itu," tidak pernah Beliau ucapkan. Jika beliau mengingkari sesuatu yang dilakukan atau diucapkan oleh Shahabat, Beliau hanya berkata, "Sebaiknya begini.." (HR. Ahmad)

Orang-orang yang berada di sekelilingnya merasa aman dan damai. Kesabaran senantiasa tampak dalam setiap pembiacaraannya. Bicaranya fasih. Kita akan dapat menghafal ucapannya. "Beliau tidak pernah mengucapkan sesuatu dengan cepat seperti kalian ini. Akan tetapi , Beliau berbicara dengan perkataan yang jelas, rinci dan bisa dihafal oleh teman duduknya," kata ibunda Aisyah (HR. at-Tirmidzi)

Andai kita berada di dekatnya, kita akan tahu bahwa Beliau senantiasa tersenyum dalam berkata-kata (Lihat: Abu asy-Syaikh, Akhlaq an-Nabi, hlm. 92). Muka masam tak tampak pada wajah Beliau. Ketika kita bertanya tentang hal itu, Rosulullah Saw. menjelaskan, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah." Diri beliau enak dipandang. Beratnya tugas sebagai seorang Rasul tidak lantas membuat menjadikan Beliau bermuka tegang ataupun masam. Sebaliknya, rasa humornya pun demikian tinggi (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

Kedudukannya yang luhur bukan alasan untuk gila kekuasaan, penghormatan dan popularitas. Kita akan melihat Beliau tidak senang Shahabatnya berdiri dari tempat duduk untuk menghormatinya (HR. Abu Dawud). Barang-barang Beliau selalu dibawanya sendiri. "Pemilik suatu barang lebi berhak membawa barangnya sendiri, kecuali jika ia lemah sehingga tidak mampu memikulnya, maka saudaranya yang Muslim harus menolongnya." Itulah yang beliau katakan (Lihat as-Suyuthi, Al-Jami' ash-Shaghir). Karena itu, jangan berharap kita dapat mengelu-elukannya sebagaimana orang sekarang mengelu-elukan pemimpinnya. Sunguh, itulah akhlaq yang indah tiada tara.

Apa yang kita rasakan bila kita hidup bersama Rasul saat itu? Ya, kita akan ingin selalu berada di dekatnya. Kalaupun Beliau berangkat ke luar daerah, hati rindu ingin segera bertemu. Kerinduan pun semakin dalam. Kini, kita hidup jauh setelah Beliau wafat. Namun, sosok mulia itu senantiasa hadir di hati. tergambar dalam bayangan. Hati merasa Sang Nabi seakan-akan hadir di sini. Lidah pun penuh kesyahduan tak terasa berucap:

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya surga
Dapatkah kami membalas cintamu
Secara bersahaja

Rindu kami padamu ya rasul
Rindu tiada terpera
Berabad jarak darimu ya rasul
Serasa dikau di sini

Dipopulerkan: Bimbo

0 komentar:

 

Free Music