Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 16 Januari 2012

Life is Choise

 
Sore itu tampak berbeda dalam suasana di ruang kuliah. Ternyata ada penggabungan antara gelombang pertama dan kedua. untuk semester baru ini. Suasana ruang kuliah pun menjadi tampak ramai dengan hal itu. Suasana yang hampir sama ketika kita baru masuk ruang kuliah untuk pertama kali. Karena kita belum mengenal satu sama lain. Keakraban pun terjalin sore itu.

Di semester yang baru ini pun di tengah-tengah para mahasiswa sudah hadir seorang dosen baru. Seorang wanita cantik asal Bogor. Ibu Laila Cipta Ningrum, SE. Beliau memegang mata kuliah Akuntansi Syariah.



Untuk para mahasiswa Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Perbankan Syariah Yasadir Alam, tentu kehadiran Dosen wanita menambah warna baru di kampus yang berada di kawasan Terminal Depok Baru ini. Pasalnya memang baru pertama kali lah semua Mahasiswa di bimbing oleh dosen wanita.

Begitu juga dengan saya,  bukan karena beliau seorang wanita lantas saya bersemangat ketika dibimbing olehnya. Tidak. Lebih dari itu, saya tertarik dengan cara bagaimana Beliau memaparkan materi dan isi materi yang disampaikan tentunya. Sebelum masuk pada materi inti yakni Akuntansi Syariah, Beliau mengawali dengan icebreaking atau semacam intermezo pertanyaan tentang identitas masing-masing Mahasiswa.

Pertanyaan masih termasuk hal yang sederhana seputar: Nama, Tempat Tanggal dan Lahir, Alamat, Status, Cita-cita yang sudah tercapai dan yang belum tercapai dan Motivasi Kuliah di Yasadir Alam. Tentu pertanyaan-pertanyaan tadi cukup sederhana dan saya rasa tidak mesti sampai mencontek sama teman sebelah :p. Namun tetap ada saja Mahasiswa yang bingung untuk mengisi soal-soal yang diminta ditulis di kertas selembar itu.

Setelah hampir semua soal tadi dikumpulkan, Beliau pun sekalian menyebutkan nama masing-masing Mahasiswa agar sekaligus mengenali langsung wajahnya . Sedikit membahas apa yang memang menjadi jawaban masing-masing Mahasiswa dan mengarahkan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh banyak orang.

Beliau membahas tentang poin cita-cita dan Motivasi Kuliah. Karena untuk pertanyaan seputar Nama, Alamat dan Tanggal Lahir saya yakin semuanya sudah bisa menjawabnya. Nggak perlu diajarkan.:D

Sebelumnya kami diarahkan pada sebuah pemahaman bahwa hidup itu pilihan (Life is Choise). Anda berada di sini (duduk di bangku kuliah) itu pasti tanpa paksaan. Anda datang ke sini tentu atas kehendak sendiri. Bukan karena paksaan siapapun. Terlihat semua Mahasiswa mengangguk.

Berbagai macam pertanyaan pun terus terlontar dari mulut sang Dosen. Anehnya pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah memang sudah bisa dipastikan jawabannya atau yang lebih dikenal dengan pertanyaan retoris (pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban).

Masuk kuliah sore hari pilihan bukan? Anda mendapatkan nilai bagus pilihan bukan? Sukses itu pilihan bukan? Hingga masa depan itu pilihan bukan? Surga dan neraka itu pilihan bukan? Kurang lebih seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang terus diberikan sang dosen.

Lalu jika semuanya pilihan, kira-kira apa yang kita pilih? Seolah membaca jalan pikiran kami sang dosen pun menjawab tentu hal-hal yang terbaik untuk kita. Tidak mungkin seseorang menginginkan sesuatu yang membuatnya rugi bahkan celaka. Dengan sekuat tenaga pasti mereka akan mengusahakan agar mendapatkan predikat terbaik dalam hidupnya. seperti lulus dengan predikat Mahasiswa terbaik, sukses dalam karir dan hal-hal yang baik untuk pribadinya.

Lebih dari itu, ternyata Bu Laila, begitu panggilan akrab dosen cantik berkacamata itu lengkap dengan jilbab rapinya, mengarahkan kami buka hanya dengan sesuatu yang ada di dunia saja, melainkan jauh hingga akhirat sana (akhirat oriented).

Beliau mengambil contoh tentang seorang teman atau mungkin dosennya saya lupa. Temannya itu mempunyai cita-cita sejak ia kecil, yaitu ingin naik haji dengan biaya sendiri. Dengan bekal semangat, fokus dan tetap istiqomah dalam menggapai cita-citanya, anak dari keluarga yang kurang mampu ini bekerja keras untuk mendapatkannya. Ia belajar dengan tekun hingga mendapatkan bea-siswa S1 di salah satu perguruan tinggi di Indonesia hingga melanjutkan S2 dan S3 di luar negeri.

Saat lulus S2 ia masih ingat dengan cita-citanya dulu. Naik haji dengan ongkos sendiri. Suatu impian yang sangat mustahil bagi anak kecil dengan ekonomi yang pas-pasan. Ditambah lagi ia sudah ditinggal leh sang ayah yang harusnya menjadi tulang punggu keluarga. Tapi kini ia tampil sebagai orang yang sukses karena sudah bekerja sebagai dosen. Jangankan menyediakan biaya untuknya nnnaik haji, ia sudah mampu membawa ibu, isteri dan keluarga lainnya berangkat bareng ke tanah suci.

Hal yang bisa kita ambil dari kisah di atas adalah bagaimana kita menciptakan sebuah cita-cita kemudian bagaimana caranya untuk mewujudkan cita-cita yang dibuat tadi. Dan apakah cita-cita tadi adalah sesuatu yang mampu mendekatkan diri kita pada sang Pencipta atau tidak?. Apakah sesuatu yang kita usahakan tidak mengurangi ketaatan kita kepada Allah? Seluruh aktivitas dan kesibukan kita sehari-hari menyita waktu kita untuk beribadah pada Sang Pemberi Rizki? Lebih lanjut untuk apa kalau apa yang kita usahakan juga tidak mampu memberikan manfaat bagi orang di sekitar kita.

Jadilah pribadi yang sukses,  bukan hanya di dunia melainkan juga sukses di akhirat. Dan membawa orang-orang di sekitar kita mendapatkan manfaat atas semua kebaikan yang kita lakukan. So... Tentukan pilihanmu sekarang.

0 komentar:

 

Free Music