Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Kamis, 08 Desember 2011

Mahasiswa di Kampus


Belajar dari pengalaman, tentu asyik. Kata orang, pengalaman adalah guru yang nggak pernah marah.

Pengalaman itu penting. Pelajaran dari pengalaman lebih membekas. Kesan yang ditinggalkannya lebih mendalam. Teori beda lagi. kalau sekadar teori, ia tidak begitu membekas. Gampang hilang dari ingatan.

Namun untuk memetik pelajaran dari pengalaman, nggak mesti kita sendiri yang melakoni. Bisa aja kita memanfaatkan pengalaman orang lain. Nah, di sini letak pentingnya berbagi cerita; pentingnya berbagi pengalaman.

Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang pengalaman di kampus. Yup, memang tidak semua orang bisa merasakan jenjang pendidikan yang satu ini. Salah satu alasan mungkin mahalnya biaya.

Memang tidak aneh sih, di zaman kapitalistik saat ini, semua diukur dengan uang. Fasilitas umum; seperti kesehatan dan pendidika yang harusnya diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat mesti dibayar mahal. Hingga ada anekdot yang mngatakan bahwa 'orang miskin ga boleh sakit'. Ironis!

Pada kesempatan ini saya nggak akan ngebahas kebijakan pemerintah tentang pendidikan saat ini. Namun lebih ke arah bagaimana para mahasiswa memaknai kampus saat ini? Lalu bagaimana kita mensikapinya sesuai dengan posisi saya sebagai seorang remaja Islam?

"Kita ke kampus itu maksudnya tentu saja untuk belajar" kata seorang teman mengawali obrolan.

"Namun belajar di sini jangan diartikan hanya mempelajari hal-hal yang akademis saja, tetapi non akademis juga. Saya aja masuk kampus mempelajari semua hal. Karena, kayaknya kita bisa dapat pelajaran lebih banyak dari luar ruang kuliah. Di ruang kuliah itu kita dapatkan teorinya, sebisanya kita praktekkan di luar ruang kuliah, " kata Ridwan, seorang mahasiswa di Salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah di Depok.

Menurutnya, kampus adalah wadah kita mempraktekkan langsung ilmu yang kita dapatkan di ruang kuliah. Sebab menurutnya ketika praktek di dunia kampus kita lebih diuntungkan dibanding di masyarakat, yaitu dalam hal resiko. "Resiko yang akan kita terima lebih kecil." tutur Duan ketika ditanya saat ada pemilihan Ketua Jamiatul Majlis Kampus. "Iya ketika kita bikin kesalahan, orang akan memaklumi bahwa kita mahasiswa."

Belajar yang dimaksud di sini adalah menggali potensi diri. Setiap dari kita pasti memiliki potensi diri.

"Bagi teman-teman yang saat ini menjadi mahasiswa atau pun nanti yang baru mau menjadi mahasiswa, harus menggali potensi diri." demikian pesannya Duan

"Kalau kita ke kampus hanya kuliah saja, ada banyak kesempatan lain yang terlewatkan. Kita akan rugi nanti." tambahnya

Gali Potensi dengan Berorganisasi.

Gali potensi dengan berorganisasi itu udah jelas. Udah banyak yang ngomong kayak gitu. Kebenarannya udah demikian terang, seterang sinar mentari di siang hari.

Sebuah organisasi punya ketua, di sini kita belajar menjadi pemimpin, belajar menjadi direktur atau manajer. Sebuah organisasi punya sekretaris, di sini kita belajar jadi sekretaris 'beneran'. Sebuah organisasi punya bendahara, di sini kita belajar mengelola uang. Sebuah organisasi punya seksi dana dan usaha, ini adalah tempat bagi kita membangun relasi bisnis dengan pihak lain, apakah perorangan atau perusahaan. Selain itu, kita bisa belajar berwirausaha sendiri.

Sebut saja Ustadz Ahmad Muadzin yang saat ini menjadi dosen bahasa arab saya di kampus. "Keuntungannya banyak sekali yang saya rasakan, beberapa jajaran pemerintahan kenal dengan saya. Berulang kali saya ditawari untuk masuk menjadi pegawai negeri dengan sangat mudah di Pemda Depok, belum saya terima. Saya masih ingin kuliah, menunut ilmu." tutur lelaki yang masih menjabat ketua KAMMI di wilayah Depok ini.

Dengan berorganisasi, kita juga sering mendapat kemudahan dari para relasi kita. Contohnya ketika salah satu temannya di Depag mengajaknya ke IBF di Senayan beberapa waktu lalu. "Ust. pilih aja buku-buku yang dibutuhkan, nanti biar yang bayar saya." tuturnya saat berkunjung ke Islamic Book Fair.

Dengan ikut aktif di sebuah organisasi mahasiswa, kita bisa belajar ngungkapin kritik, usul atau masukan secara profesional. Kita bisa belajar menghargai pendapat orang lain yang berbeda
de es be. Pokoknya banyak banget deh pelajaran yang kita dapetin. So, pasti semua itu akan bermanfaat pas ntar kita terjun di masyarakat!

Nah, berorganisasi bagi seorang Muslim, tentu mikirnya nggak sekadar untuk kepentingan pribadi aja. Kita harus memperhatikan masyarakat kita. Sabda Rasulullah Saw.:

"Siapa saja yang bangun di pagi hari tetapi tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin maka ia bukan termasuk golongan ku (HR. Muslim).

Hadist ini ditujukan bagi setiap orang yang beriman, nggak terkecuali mahasiswa. Setidaknya, kita harus belajar memperhatikan kondisi masyarakat kita. Dalam hal ini, ikut organisasi adalah wadah yang tepat.

Dengan berorganisasi, selain bisa lebih mencuatkan potensi diri kita, juga bisa bernilai ibadah. Maksudnya dengan berkecimpung dalam organisasi, kita bisa lebih deket dengan Allah. hati kita juga lebih tenang. Kenapa? Karena di situ kita dapatkan ilmu yang banyak yang terkait dengan akhirat. Di situ kita bisa berbuat demi kepenitngan Islam dan umatnya.

Ikut Pergerakan, Oke Juga Tuh!

Semasa mahasiswa ikut pergerakan? Ini juga sangat penting alias membantu kehidupan kita kelak. Selain ikut organisasi-organisasi profesi yang jumlahnya seabrek di kampus, ikut pergerakan mahasiswa juga nggak ada salahnya. Bahkan katanya sih, belum lengkap deh menjadi mahasiswa kalo belum ikut pergerakan mahasiswa.

Banyak contoh figur-figur yang semasa mahasiswa beliau ikut pergerakan dan kemudian hari menjadi okoh-tokoh besar di dunia. Soekarno misalnya. siapa sih yang nggak kenal beliau? Presiden pertama RI tersebut semasa mahasiswa begitu aktif adalam dunia pergerakan. Jadi beliau tidak hanya mempelajari Teknik Sipil. Kalau memang beliau hanya mempelajari hal yang bersifat akademik tersebut, tentu ceritanya menjadi lain. Barangkali kita tidak akan mengenal beliau sebagai Presiden RI I atau Proklamator.

Begitu pun , Muhammad Hatta. Tokoh yang satu ini juga aktif dipergerakan mahasiswa. Beliau menggalang kekuatan mahasiswa pula sewaktu kuliah di negeri Belanda. Huebat!

Nggak beda dengan dua contoh di atas, tokoh-tokoh yang memperjuangkan Islam pun, 'mematangkan' dirinya di dunia kampus dengan ikut pergerakan. Sebut saja Hasan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Begitu pula Taqiyyuddin An-Nabhani. Beliau yang sukses mendirikan partai politik bertaraf Inernasional; Hizbut Tahrir ini, sangat rajin mengikuti diskusi-diskusi semasa kuliah dikampusnya; al Azhar kairo. Di kampus ini pula Sayyid Qutub membina dirinya, yang dikemudian hari tokoh ini syahid di tiang gantung penguasa dzalim Mesir akibat kritik beliau yang berani.

Karena itu, nggak ada pilihan lain sebenarnya, selain mengikuti jejak-jejak mereka yang telah terbukti keberhasilannya tersebut. Namun, dengan catatan kita harus tetap selektif dalam memilih pergerakan.

"Kita harus memilih yang sesuai dengan ideologi kita. Islam itu adalah sebuah ideologi, sebab ia mengatur segala aspek kehidupan kita!" tegas salah satu aktivis mahasiswa UIKA Bogor.

Pergerakan yang Wajib Dihindari

Untuk melihat sebuah pergerakan, kita kudu tau dulu apa yang diperjuangkan olehnya. Apakah yang diperjuangkannya sesuai dengan Islam atau tidak. Kalo yang diperjuangkannya kebebasan bertingkah laku atau demokrasi yang emang bertentangan dengan Islam, maka organisasi ini kita jauhi.

Setelah itu, kita juga wajib tau bagaimana pergerakan tersebut dalam memperjuangkan hal yang telah ditetapkannya. Kalo dalam aktivitasnya aturan Islam nggak dipake maka boleh jadi pergerakan ini sekadar berlabel Islam. Misalnya, para pengurusnya nggak menutup aurat atau para pengurusnya campur baur pria-wanita.

Contoh lainnya, dalam melakukan aksi massa, mereka nggak segan-segan merusak fasilitas umum seperti yang sering di tampilkan di televisi. Kalo kita ikut pergerakan kaya gini, bukan pahala yang kita peroleh. Bisa jadi kita dipukul aparat , mati, lalu masuk neraka! Kan rugi. Pergerakan kayak gini nggak layak diikuti. Bagaimana mungkin mereka memperhatikan kondisi kaum Muslimin, kondisi mereka sendiri nggak diperhaikaan. Bagaimana mungkin mereka mengajak wanita muslimah untuk menutup aurat, mereka sendiri nggak menutup aurat dengan kerudung dan jilbab. Sederhananya begitu.

Nah, beginilah sedikitnya gambaran warna-warni organisasi di kampus. Moga kita dapat memetik pelajaran darinya [sumber: buletin remaja studia-Juni 2005]

0 komentar:

 

Free Music