Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 25 November 2011

Orang Tua Anak Jalanan

"Saat ini ideologi hanya ada tiga; Kapitalisme, Sosialisme dan Islam. Sosialisme sudah hancur, Kapitalisme tinggal menunggu ajalnya. Lantas kemana lagi kita akan berharap kalau bukan pada Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan ini" sambutnya hangat kepada 40 Mahasiswa YASADIR ALAM Jurusan Ekonomi Islam Perbankan Syariah.


Saya mengenal lelaki ini tahun 2011. Pertama kali bertemu yaitu saat beliau memberikan testimoni untuk kampus baru tempat saya menuntut ilmu. Mungkin pesan-pesannyalah yang memberikan semangat untuk tetap hadir pada sabtu dan minggu walau harus menempuh perjalanan dari Bogor menuju Depok. Saya bersilaturahim ke “markas” kegiatannya di kawasan terminal Depok Baru. Melihat kegiatan dan aktivitasnya saya menjulukinya sebagai “Orang Tua Anak Jalanan”.


Lelaki kelahiran Tegal, 3 Juli 1971 ini bernama Nurrohim. Melalui sepak terjangnya, sejak tahun 2000, ribuan anak jalanan bisa sekolah secara cuma-cuma. Sekolahnya bukan di gedung sekolah tetapi di tengah terminal, bahkan di dalam bus yang sedang parkir menunggu antrian. Salah satu kelasnya pun unik, yaitu menggunakan kontainer yang merupakan sumbangan dari Pemkot Depok.


Nurrohim menamakan komunitas yang dipimpinnya ini Master atau Masjid Terminal –karena, anak-anak jalanan tersebut sering berkumpul untuk belajar di masjid terminal. Selain sebagai identitas, ia juga ingin mereka “bersekolah” sambil mengenal masjid.


Saat ini markas kegiatan Nurrohim berada di lahan seluas 6000 meter persegi. Lahan itu merupakan perpaduan antara tanah wakaf, fasilitas sosial, fasilitas umum Terminal Depok dan 4 petak rumah di kawasan terminal yang berada di pusat jantung kota Depok.


Paket pendidikan untuk anak-anak jalanan ini, atau mereka dengan bangga menyebut dirinya “romusa” alias rombongan muka susah, ada yang formal dan non-formal. Saat ini, siswa yang mengikuti sekolah formal berjumlah 700 orang dan yang non-formal sekitar 1300.


Sebagian dari mereka, ada yang mondok. Terdapat tempat khusus anak wanita dan anak laki-laki. Untuk makannya sendiri, Nurrohim sudah menyediakan menu nasi bungkus untuk tiga kali makan dalam sehari. Pokoknya terjamin deh.


Nasi bungkus yang diberikan memang tidak seberapa, namun bagi para anak jalanan ini sangatlah berarti. Ba'da maghrib adalah saat-saat mereka berkumpul untuk makan. Biasanya satu bungkus mereka santap berdua. Bukan karena stoknya terbatas, tapi itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dirubah. Sungguh suasana kebersamaan yang begitu hangat. Padahal banyak saat ini orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri.


Namanya juga anak jalanan, ada kalanya para “romusa” ini tertangkap razia. Bila itu terjadi Nurrohim akan berusaha membebaskannya. Jika tak bisa dibebaskan sementara ujian sekolah tiba Nurrohim akan membawa soal ujian ke tempat mereka ditahan. Tekadnya, tak boleh ada anak jalanan khususnya di Depok yang putus sekolah.


Untuk membiayai pendidikan yang semakin meningkat, Nurrohim mendirikan unit usaha yang bergerak di bidang percetakan, bengkel, jasa terampil perbaikan instalasi air dan listrik, serta penyalur alat-alat perkantoran. Unit usaha ini juga menjadi sarana penyaluran kerja bagi anak-anak jalanan yang sudah lulus pelatihan (pendidikan non-formal). Bahkan sebagian hasilnya digunakan untuk membiayai keperluan pendidikan anak jalanan ini.


Rasanya kita harus malu dan banyak belajar dari lelaki yang kini dikarunia 4 orang anak ini. Saat sebagian besar dari kita berlomba mengejar mobil dan rumah mewah, Nurrohim malah “mengejar” anak-anak jalanan untuk dididik dan dibekali ilmu agar mereka mampu memutus sendiri rantai kemiskinannya.


Negara juga mestinya malu kepada Nurrohim. Negara yang seharusnya memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar malah lebih sering “menertibkan” dan merazia mereka. Sementara itu, pada saat bersamaan Nurrohim tampil menjadi orang tua sekaligus guru yang mengayomi mereka…


Nurrohim, kiprahmu sesuai namamu. Nur itu bermakna cahaya dan Rohim berarti penyayang. Kau telah menjadi penyayang dan cahaya bagi orang-orang yang seharusnya dipelihara negara. Subhanallah… [berdasarkan jamilazzaini.com dengan sedikit perubahan]

0 komentar:

 

Free Music