Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sabtu, 05 November 2011

Melempar Api Ke Genangan Bensin


Suatu ketika kamu sedang marah pada seorang kawan, apa yang akan kamu lakukan padanya? Pilihan yang paling ‘enak’ adalah menumpahkan semua kemarahan kita padanya. Kita akan cari kata-kata yang ‘pas’ untuk melukiskan kesuntukan kita padanya.


Untuk bisa mengeluarkan kemarahan lebih banyak lagi, kita perlu untuk mencari-cari kesalahan yang pernah dia lakukan pada kita. Mengingat-ingat apakah dia pernah menyinggung perasaan kita, pernah lupa mengembalikan barang yang dia pinjam pada kita, atau mungkin kesalahan yang dia lakukan pada orang lain. Tiba-tiba kita menjadi seorang ‘investigator’, seorang polisi penyelidik. Melacak kesalahan orang lain untuk membenarkan kemarahan kita padanya. Sehingga ketika kita lalu berpikir ‘Die emang pantes gue marahin’.


Inilah yang saya maksud dengan melempar api ke dalam genangan bensin. Kamu sedang terbakar oleh kemarahan, dan kamu mencari genangan bensin untuk mengobarkan api kemarahanmu. Dan ternyata, amat mudah menemukan ‘genangan bensin’ untuk memperbesar ‘api’. Kenapa? Karena memang tidak ada manusia yang sempurna. Temanmu dan juga kita, akan selalu punya kesalahan. Semakin sering seseorang berkawan, semakin besar peluang mereka berbuat kesalahan termasuk menyakiti kawannya. Sangat mudah mencari genangan bensin.


Tapi apakah itu jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah di antara kita? Sayangnya nggak. Dengan memperbesar kemarahan masalah kita jadi semakin rumit. Misalnya kita marah padanya dan mulai nyela semua kesalahannya, tapi dia menyangkal dan balas menyebut kesalahan kita, akhirnya kita semakin marah dan kita mulai memakinya – mungkin akan keluar kata ‘tolol, ‘goblog’, ‘culas’, atau ‘pengkhianat’ --. Kalau dia tetap ngotot bertahan, apalagi balas memaki kita, kamu tahu apa yang akan terjadi? Mungkin kita akan memukulnya atau berjalan keluar ruangan dan bersumpah tidak akan lagi berkawan dengannya. Masalah pun menjadi semakin rumit daripada masalah yang sebenarnya.


Ahmad sudah lama berkawan dengan Ardi. Suatu ketika kaset nasyid yang dipinjam Ardi dari Ahmad rusak. Ahmad yang tidak terima kasetnya rusak marah. Ia mulai mengungkit-ungkit kesalahan Ardi yang lalu dan mencelanya. Ardi jelas tidak terima kesalahannya diungkit-ungkit, ia balas mencela Ardi dengan menyebut juga kesalahan-kesalahan Ahmad. Akhirnya mereka pun bertengkar dengan seru. Pertengkaran itupun merembet ke masalah persahabatan, masing-masing merasa bahwa selama ini adalah yang terjadi di antara mereka adalah kebohongan belaka.


Maka tidak ada manfaatnya melampiaskan kemarahan. Jauh lebih baik kalau kita mencoba bersikap tenang ketika orang lain berbuat salah pada kita. Ketika seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan meminta nasihat, beliau mengatakan, “jangan marah, jangan marah, jangan marah.” Nasihat ini beliau sampaikan karena yang bertanya adalah orang yang mudah marah.


Dalam hadits lain Rasulullah saw. menyebutkan bahwa marah itu diciptakan oleh syetan, maka marah itu harus ditundukkan. Beliau juga memuji orang-orang yang sanggup menahan amarah.



Orang yang kuat bukanlah menang dalam bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika sedang marah.”(HR. Muttafaq ‘alaih).



Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk tidak meredam si api kemarahan. Tempatkanlah kesalahan orang lain sesuai dengan ‘kesalahannya’. Jangan menghubung-hubungkan kesalahannya dengan kesalahan lain yang pernah ia lakukan. Apalagi kalau dulu ia sudah minta maaf dan menyatakan penyesalannya. Mencampurkan kesalahan yang lain untuk satu ‘kasus’ baru membuat akal kita menjadi ‘hakim’ yang kejam.


Mengingat-ingat kesalahan atau kejelekan orang yang berbuat salah sama sekali nggak membantu kamu menyelesaikan masalah. Kalau itu dilakukan itu pada saat kita sedang marah, berarti kita sedang menyiapkan genangan bensin yang akan kita ‘sambar’ dengan api kemarahan kita. Jauh lebih baik kalau kita berpikir positif, husnudzan, padanya. Misalkan kaset kita rusak setelah dipinjam oleh kawan, atau baju kesayangan kita rusak setelah dicuci oleh ibu kita, segera tanamkan pikiran, “Mereka pasti nggak sengaja merusaknya.” Kamu pun akan selamat dari amukan api kemarahan.


Cari alasan-alasan positif saat suasana kemarahan mulai kita rasakan. Ketika ada ucapan yang menyinggung perasaan kita segera pikirkan; mungkin tidak disengaja, mungkin mereka lupa, mereka mungkin tidak tahu ucapan itu menyakiti saya, mungkin mereka juga sedang ada masalah. Dengan mencari-cari alasan positif kita akan terhindar dari kemarahan.


Daripada memikirkan kejelekan orang lain – termasuk orang tua --, apalagi yang pernah mereka lakukan pada kita, lebih baik pikirkan kebaikan-kebaikan mereka. Mungkin ortu kita cerewet, tapi mereka sangat perhatian pada kita. Saat kita sakit mereka sibuk menjaga kita, membuatkan makanan yang enak, dan mengantarkan kita ke dokter. Memang kawan sebangku kitalah yang mematahkan pulpen kesayangan kita, tapi ia sudah minta maaf, ia juga pernah menyalinkan tugas-tugas sekolah saat kita sakit, dan ia juga selalu memberikan nasihat yang positif buat kita. Kita akan selamat.


Tanamkan keyakinan kuat-kuat bahwa Allah tidak suka pada hambaNya yang pemarah. Marah itu datang dari syetan, dengan marah justru kita diperbudak oleh syetan. Padahal syetan itu adalah musuh yang nyata yang harus kita taklukkan.



Marah itu dari syetan dan syetan itu terbuat dari api, sedangkan air itu memadamkan api. Maka barangsiapa yang sedang marah hendaknya ia berwudlu,”(HR. Ahmad).



Jadi, jangan lemparkan api ke dalam genangan bensin. Carilah air. Redam kemarahanmu, maka kamu akan selamat dan dimuliakan Allah.



Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat melampiaskannya, maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di depan seluruh mahluk, kemudian disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.”(HR. Abu Daud, Tirmidzi)



*Teringat akan bocah ingusan ini yang cukup tempramental dulu. Sekarang,,? Mudah-mudahan tidak lagi.:)

0 komentar:

 

Free Music