Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 15 November 2011

Belajar dari shalahuddin Al-Ayyubi , Bahwa hanya dengan JIHAD Palestina akan dapat terebut kembali…..

Beberapa waktu yang lalu, diskusi hangat sempat mewarnai kuliah minggu sore kala itu.Satu kelompok yang ditunjuk sebelumnya mendapat tugas memaparkan dua sub judul. Salah satunya tentang Urf' (kebiasaan). Urf' yang menurut istilah memiliki arti sesuatu yang sudah diketahui. Namun Urf' sendiri berbeda dengan adah (adat istiadat) walaupun sebagian masyarakat banyak mendefiniskan Urf' sama dengan adah. Setidaknya Urf' dipengaruhi cakupan wilayah dan tradisi sedangkan adah lebih bersifat umum.

Contohnya; penetapan awal dan akhir Ramadhan. Sebagian ulama membolehkan adanya perbedaan dikarenakan kondisi wilayah yang cukup luas. (walaupun pendapat saya untuk awal dan akhir Ramadhan itu harus serempak, karena tidak ada wilayah di dunia ini yang waktunya berbeda 24 jam. Ditambah lagi tekhnologi informasi sudah semakin canggih, dalam hitungan detik saja kita bisa tau informasi yang ada di belahan bumi sana. Misalkan, piala dunia saja bisa kita nikmati secara live, masa membuat siaran langsung saat ru'yatul hilal saja tidak bisa?! Ada juga sapi yang bagi sebagian wilayah di sucikan, cium tangan bagi masyarakat Indonesia sebuah nilai kesopanan, namun tidak di negeri arab. (contoh lain cari sendiri :p)

Namun, sempat terjadi ketegangan antar suporter kesebelasan. (Lha, kita lagi ngomongin kuliahan bukan sepak bola) Iya, maksudnya diskusi antar mahasiswa tadi. Ketegangan itu muncul ketika sang dosen bertanya, bagaimana dengan Muludan (peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.) atau Isra Mi'raj? Apakah termasuk Urf'? Bolehkah kita memperingatinya?

Memang ada yang pro dan tidak sedikit ada juga yang kontra. Kubu yang Pro mengatakan "Kan "Tapi itu tidak pernah dicontohkan oleh Rasul dan para Shahabat!" timpal kubu yang kontra. "Kan aktivitasnya bukan maksiat. Kita baca shalawatan pada Rosul, dzikir dan aktivitas Taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah." tambah kubu yang Pro.Salah seorang teman sempat menyebut nama seorang tokoh "Lalu bagaimana dengan Shalahuddin Al-Ayyubi? Dia kan orang yang pertama kali mencetuskan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW." Namun ada juga yang mencoba menengahi "Mau yang membolehkan ataupun melarang peringatan Maulid Nabi, masing-masing mempunyai dalil, dan ia pasti akan dimintai pertanggung-jawaban atas pendapat itu"

Hemm...Menarik. Saya pun berusaha mencari berbagai informasi terkait masalah ini. Beruntung sang dosen memberikan arahan ketika hendak mengakhiri jam kuliah kala itu. Berhubung waktunya sudah terllu malam dan belum ada titik temu, beliau mempersilakan untu terlebih dahulu mencari info sebanyak-banyaknya tentang hal ini. Beliau menambahkan, ketika kita hendak mengambil suatu amalan (ibadah),ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain; Hukum asal dari ibadah itu, hukum asal dari al-muahadah (mengingat perjanjian dengan Allah), definisi ibadah tersebut, definisi dari Ied dan definisi historis.

Bagi saya cukup penting mengetahui sejarah awal suatu amalan (ibadah). Karena dari situ, kita bisa mengetahui siapa tokoh pencetusnya (yang mengawali) sekaligus alasan (dalil) yang digunakan dalam amalan tersebut. Shahih atau tidak.Namun di sini, saya membatasi tentang siapa yang pertama kali mencetuskan Maulid ini. Karena ada sumber menyebutkan peringatan Maulid sudah ada pada masa Raja Mudhofar (362 H, yakni 200 tahun sebelum masa Shalahuddin Al-Ayyubi)



Adalah Sholahuddin Abul Muzhoffar Yusuf bin Amir Najmuddin Ayyub bin Syadzi bin Marwan bin Ya’qub ad Duwini (1138-1189M/532-589H) Ketika itu kondisi kaum muslimin sedang berada dalam salah satu kondisi terburuk. Gelimangan harta dan kenikmatan hidup telah membutakan mata hati mereka sehingga mereka enggan berjihad. Karena kekhilafahan Islam membuat kehidupan begitu makmur dan sejahtera, kaum muslimin menjadi terlena sehingga mereka tidak mampu menahan serangan pasukan salibis. Karena itulah (Shalahuddin Al-Ayyubi) berinisiatif untuk mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. demi mengingatkan kaum muslimin agar kembali kepada jalan Islam dengan berjihad dan berdakwah menjalankan perintah Allah dan RasulNya.

Dengan parade Maulid Nabi SAW. itu Shalahuddin mengingatkan kaum muslimin kepada perjuangan dan pengorbanan Rasulullah dan para sahabatnya dalam mempertahankan kehormatan agama Allah ini. Sangat jelas sekali bahwa tujuan diselenggarakannya Maulid nabi adalah untuk membangkitkan kembali ruhul jihad kaum muslimin yang telah lama membeku. Setelah parade Maulid nabi yang diselenggarakan di seluruh negeri-negeri Islam itu, terbentuklah pasukan jihad yang sangat besar.
Beda banget sama Maulid Nabi yang ada sekarang. Maulid sekarang mah nggak membangkitkan semangat jihad dan nggak mampu membentuk pasukan jihad untuk membebaskan saudara-saudara kita di palestina yang sedang dibantai Israel.(Diculik dari sini).

Dari penjelasan di atas, perlu saya simpulkan bahwa Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. bukan lah sebuah tradisi turun-temurun atau kebiasaan yang ada pada masyarakat sejak dulu. Muludan juga tidak termasuk sunnah yang dilakukan (fa'ali) Rasul SAW. (20 April 571 M-632M). Selisihnya kurang lebih 500 tahun hingga masa Shalahuddin. Lantas apa donk yang menjadi landasan hukum Peringatan Maulid Nabi? Sudah dikatakan sebelumnya di atas bahwa ini merupakan hasil ijtihad yang dirasa perlu pada saat itu. Dalilnya berdasarkan Firman Allah SWT.

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya." (TQS. Al Anfaal : 60)


"..dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (TQS. An-Nisaa:141)


Sehingga berdasarkan kaidah ushul Maa laa yatimmu al wajib illa bihi fahuwa waajiib (Suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib).

Menjaga keselamatan kaum Muslim dari tangan orang-orang kafir merupakan suatu kewajiban. Mempersiapkan tentara yang kuat, bahkan harus jauh lebih kuat juga sangat penting dalam sebuah pertempuran. Lalu kemudian istinbath hukum yang dilakukan adalah dengan melakukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi diadakan untuk memperkuat Nafsiyah kaum Muslim dalam menghadapi makar orang-orang kafir. Jika sekarang peringatan ini hanya dijadikan ibadah ritual tahunan yang menghabiskan biaya yang tidak sedikit dengan hasil yang sedikit pula. Atau parade seremonial belaka yang sama sekali tidak mampu membangkitkan ghirah Islam wal Muslimin menuju kebangkitan hakiki, tentu sangat jauh dari sejarahnya dahulu saat pertama kali diperingati . Wallahu'alam bi ash-shawab.

0 komentar:

 

Free Music