Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Rabu, 04 Mei 2011

Iman itu Yakin


Ketika mau bermotor ke rumah teman, kita dikasih tahu pernah ada razia polisi di jalan gang depan rumah. Katanya ada yang tilang sampai Rp. 100.000 karena tidak pake helm standar. Mendengar berita itu, kita menganggapnya hanya cerita lucu. Apa mungkin di jalan sekecil itu ada razia? Tapi anehnya, kemudian kita memakai helm juga. Kenapa? Karena kita tidak mau berspekulasi dengan denda tilang. "Apa sih beratnya pakai helm, dari pada menanggung beratnya tilang Rp. 100.000". Begitu pertimbangannya.

Nah keadaan seperti ini, tepat sekali untuk mengibaratkan keimanan yang spekulatif. Dengan memakai helm bukanlah bertambah kepercayaan kita, apalagi menjadi yakin. Yang terjadi hanyalah: "kita pertaruhkan enaknya nggak pakai helm untuk nggak enaknya denda 100.000 rupiah." Seandainya resiko itu cuma disemprit dan dicemberui polisi, tentu akan lain ceritanya. Kita memilih menikmati semilrnya terpaan angin tanpa helm dengan resiko: paling-paling cuma disemprit dan dicemberuti. Lalu kita berani mengambil resiko itu.

Dari realitas seperti ini, sangat mungkin seseorang beriman dengan model begini. Ia sebenarnya tidak yakin akan agama, tapi ia takut akan resiko tidak beriman. Ia berpikir, "Apa susahnya bilang beriman dan beramal ala kadarnya, dari pada resiko neraka selamanya. Kalau cerita agama itu bohong, aku juga nggak rugi." Begitulah kira-kira. Bagaimana kita mau diajak masuk surga, kalau kita sendiri kurang yakin terhadap surga?

Sahabat yang baik hatinya, maka menjadi penting sekali sebuah pembahasan aqidah itu, demi keimanan yang kuat dan berpengaruh. Jangan sampai seseorang memilih beragama hanya karena ikut-ikutan, warisan, tidak dengan kesadaran atau cuma kebetulan saja beragama. Beragama hanya untuk jaga-jaga. Padahal, beragama adalah aktivitas pilihan kita. Pilihan dengan kesadaran sepenuh hati dan dengan pertimbangan-pertimbangan.

IMAN KEPADA TUHAN/ BERAGAMA

Kenapa kita memilih menjadi orang yang beriman? Kita tentu bisa menjawabnya. Dalam faktanya, kita tidak memilih atheis. Kita memilih beriman adanya Tuhan. Semua orang yang beragama meyakini adanya Tuhan. Kita mempunyai banyak sekali bantahan untuk pemahaman atheis, sehingga kita memilih beragama. Kita bisa menjelaskan bahwa Tuhan itu ada, atheis itu salah, dan beragamai itu adalah pilihan yang rasional.

Untuk menjelaskan keberadaan Tuhan, ada sebuah cerita menarik tentang seseorang yang beriman dengan seorang atheis. Anggap saja namanya Mamad dan Marsis. Mereka baru saja menjadi sahabat akrab karena banyak kesamaan hobi. Tetapi mereka tidak pernah "akrab" dalam keyakinan.

Ketika mereka mendaki gunung, mereka menemukan benda aneh di suatu hutan.Karena penasaran mereka kemudian membersihkan tanah yang menimbunya. Dibersihkan belukarnya hingga mulai tampak benda apakah itu. Ternyata benda itu adalah sebuah perahu! "Kita menemukan benda purbakala nih" kata Marsis sambil terus menliti kapal yang lapuk itu. "Wow bagus sekali! Canggih sekali! Gimana ngukirnya. Padahal nggak ada sambungan" Marsis terus membersihkannya sambil terheran-heran. Kemudian ia baru sadar kalau ada yang janggal.

"Lho, ini kan gunung! Ih siapa yang buat ini ya? Di sini kok buat perahu? kata Marsis keheranan.

"Coba kamu ulangi?" Si Mamad tiba-tiba memotong, dan Marsis malah bingung, "Ulangi? Apanya...?"

"Nggak. Barusan kamu ngomong apa?" tanya Mamad dengan wajah serius.

"Ini lho...perahu kok di sini? Padahal nggak ada sungai. Siapa yang membuat. Kurang kerjaan amat." Jawab Marsis.

"Apa? Coba ulangi lagi!" tanya Mamad lagi.

Si Marsis jadi jengkel, ia berteriak:

"Ini perahu siapa yang buwaaaat...?!" Dengan telunjuknya Mamad mengisyaratkan untuk diam, "Ssst!" Marsis mengecilkan suaranya dan terdiam. Mamad tersenyum, kemudian menatap mata temannya dengan tatapan tajam.

"Lihatlah betapa kacau otakmu itu, Sis! Kamu lihat kaya' gini aja, yakin ada yang membuat. Tapi ketika kamu lihat alam semesta yang lebih besar, lebih komplex, lebih rumit,, ee...malah nggak percaya kalo itu dibuat. Lo bilang semua itu terjadi dengan sendirinya."

Marsis baru sadar kalau Mamad ternyata ngajak debat lagi. Ini benar-benar tanpa persiapan, dan memang kalimat Mamad begitu telak menghujam hatinya. Ia terbengong. Mamad tidak melewatkan kesempatan. Ia bicara lagi.

"Kamu tadi bilang wow...gimana ngukirnya...?" kata Mamad memanyunkan bibirnya untuk menirukan perkatan Marsis. "Ketika kamu melihat kapal itu canggih, kamu tanyakan gimana buatnya, kenapa bisa di situ, siapa orang yang buat. Kenapa kamu nggak berfikir bagaimana air hujan secara kebetulan mengukir pohon dengan sendirinya kemudian menjadi perahu? Kenapa kamu tidak berfikir ala evolusi?"

"Sis, seandainya kamu gunakan otak kamu ketika mengamati keteraturan hukum alam, betapa indahnya alam ini, aku yakin kamu akan berfikir betapa Maha Canggih Pencipta itu, kamu akan mencariNya dan pasti kamu akan menyembahNya. Ah, tapi sayang, jalan pikiranmu kacau."

Nah teman sekalian, cerita di atas hanya untuk menggambarkan betapa kacaunya seseorang yang tak percaya pada Sang Pencipta Semesta. Dan juga betapa sederhananya untuk memahami bahwa Sang pencipta itu ada. Pemahaman ini adalah indrawi dan bukan filsafat.

Sebagai contoh begini, ketika kita dalam ruangan, kemudian mendengar suara kapal terbang. Kita meyakini 100% adanya pesawat itu. Padahal kita tak melihat dulu atau menjangkau dzatnya pesawat itu. Nah, jadi sebenarnya, kita ini bisa dan biasa meyakini adanya sesuatu walau tanpa menjangkau zatnya. Suara pesawat tadi sebagai perantara kita untuk meyakini bahwa 100% ada (pesawat lewat).

Demikian juga dalam memahami adanya Sang Pencipta, kita cukup mengamati alam semesta ini. Tentang manusia, juga kehidupan. Semua itu sebagai bukti adanya Pencipta.

Kalau kita amati tentang manusia, gejala-gejala kehidupan dan alam semesta, ternyata ketiganya adalah terbatas. Mereka (manusia, alam semesta dan kehidupan) berawal dan berakhir, karena lemah, membutuhkan yang lain, mereka diatur (teratur) oleh suatu aturan tertentu dan mereka tidak kuasa menolak aturan itu, dan seterusnya.

Nah, lalu siapa yang mengatur itu? Padahal jelas, aturan itu bukan dari mereka. Hukum alam adalahhal lain dari alam. Siapa yang mengawali dan mengakhiri mahkluk-makhluk itu? Siapa itu yamg membatas-batasi manusia, kehidupan dan alam semesta? Ada apa dibalik alam semesta, manuisa dan kehidupan ini?

Dialah Sang Pencipta. Dialah Tuhan. That is God. Yang mencipta dan tidak mungkin sama dengan ciptaan. Yang tidak terbatas, tidak berawal dan tidak berakhir, Dia Yang Ada, Yang Kekal. Yang tidak terjangkau dzatNya. Yang tak terjangkau keberadaanNya.

Sahabat yang baik, ketika kita datang ke suatu kampung kemudian kita melihat sebuah tugu. Apakah kita akan mengatakan tugu itu terjadi dengan sendirinya, hanya gara-gara kita tak melihat langsung pembuatan tugu itu? Meyakini adanya Tuhan juga adalah hal sederhana, sepele, lumrah dan memang sebagian besar manusia meyakini adanya Tuhan.

Saudaraku yang mulia, siapa saja yang menyadari adanya Pencipta, maka sesungguhnya mereka beriman pada dzat yang sama. Dialah Satu, yaitu Sang Pencipta. Setiap orang yang menyadari adanya Tuhan, maka sesungguhnya mereka sedang memikirkan dzat yang sama, sesuatu yang satu. Bukankah semua orang memberi nama yang satu pula? Yaitu Sang Pencipta? Dan sesungguhnya kita tak akan pernah mengetahui nama Sang Pencipta itu, bila hanya dengan pengamatan dan perenungan. Maka sesungguhnya ketika seseorang baru saja menemukan keberadaaan Tuhan, maka itu bukan berakhir sebagai sebuah ketenangan batin dan pikiran.

Dengan akal toh, manusia hanya bisa menangkap fenomena penciptaan, adanya Sang Pencipta, betapa Maha Kuasa Sang Pencipta. Karena ia menyadari bahwa dirinya hanya sebuah makhluk di tengah keluasan ciptaan lain. Lalu ia bertanya-tanya dengan penuh penasaran: untuk apa aku diciptakan? Ada apa setelah kehidupan ini? Siapa nama Pencipta itu, harus bagaimana aku di dunia, dan seterusnya.

Denagn mengamati matahari, seseorang tidak tahu bagaimana beribadah untukNya. Dengan meneliti jantung tidak ditemukan untuk misi apa manusia dalam kehidupan. Bahkan dengan mengamati alam semesta secara detail, tetap tidak akan bisa menjawab siapa nama Sang Pencipta sesungguhnya.

Jawaban pertanyaan-pertanyaan itu informatif. Kita hanya memerlukan informasi. Dan informasi yang paling memuaskan tentulah informasi dari Sang Pencipta sendiri. Bukan dari yang lain. Informasi itu kita sebut wahyu Tuhan.

Maka kita membutuhkan agama. Karena hanya agama yang mempunyaikitab suci yang isinya adalah wahyu Tuhan. Agama tanpa kitab suci, atau tidak jelas asal-usul kitab sucinya atau kitab sucinya jelas-jelas karangan (manusai bijak), tentulah bukan agama dalam pengertian kali ini. Kenapa mesti memilih yang jelas karangan manusia/ tidak jelas asal-usulnya? Padahal banyak agama yang berani kitabnya itu wahyu Tuhan. Untuk itu, kita juga akan melakukan pilihan/ pertimbangan apakah kitab agama ini adalah benar-benar wahyu Tuhan> bukankah aneh, bila ketika kita meyakini Tuhan dengan kesadaran, tapi ketika meyakini kitab malah tanpa kesadaran. Bukankah kita tidak ingin surga yang "dibuat" manusia?

Dicuri dari SiaraQida: Tiket Perjalanan ke Surga

0 komentar:

 

Free Music