Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 11 April 2011

Memaknai Cinta

Apa itu cinta?? Sebuah pertanyaan yang mengawali forum diskusi remaja yang mengangkat tema tentang cinta. Hitam Putih Cinta, itulah tema yang coba diangkat oleh teman-teman di Lembaga Dakwah Sekolah wilayah yang terinspirasi oleh sebuah acara talkshow sebuah stasiun tv swasta ini. Acara yang diadakan di Masjid PP. al-Ghiffary Leuwiliang ini bertepatan dengan moment Valentine days cukup dipadati oleh para remaja yang umumnya masih berstatus siswa SMP/SMA. Hal yang ingin coba diangkat dalam acara tersebut adalah bagaimana memberikan pemahaman yang benar terhadap generasi muda agar memaknai cinta dengan benar. Dengan pemahaman yang benar inilah diharapkan mereka akan mampu menghindari segala bentuk kemaksiatan, yang akan menjerumuskan pada pergaulan bebas.

Jika kita coba melihat, memang tak akan habis rasanya kalau kita membahas masalah cinta ini. Ibaratnya, jika kita bertanya pada 100 orang tentang makna cinta, niscaya kita pasti akan mendapatkan 100 jawaban yang berbeda-beda. Ya kalau pun ada jawaban yang sama, bisa jadi ia nyontek ke teman sebelahnya. :D

Cinta sulit dirasakan tetapi sulit untuk didefinisikan, persis seperti marah atau sedih. Setiap orang kadangkala marah dan pada saat yang lain besedih. Sekalipun memahami ada marah dan sedih, definisi keduanya amatlah sulit. Begitu pula cinta. Yang dapat ditangkap oleh indra secara langsung adalah penampakan atau mazhahir-nya.

Al-Allamah Abi Fadhl Jamaluddin Muhammad bin Mukram menuliskan dalam kamusnya, bahwa al-hubb (cinta) adalah lawan dari benci. Al Hubb berarti pula al-wadad dan al-mahabbah. Semuanya berarti cinta (Lisan al Arab, I/289, pada akar kata ha-ba-ba). Cinta berarti pula kecenderungan alami pada sesuatu yang lezat, enak, nyaman, suka dan senang. Kamus Al-Munjid fi al-Lughah wa al-I'lam menyebut cinta (al-mahabbah) sebagai mai'lu at-tab'i ila syai'i al-ladzi.


Secara realitas, dalam kata cinta terkandung rasa suka, sayang, terpikat ingin, rindu, pengharapan, sedih dan ingat (Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, bagian kata cinta). Walhasil, cinta merupakan kecenderungan dan rasa; baik rasa suka, terpikat, sayang, ingin, rindu, pengharapan, sedih dan ingat; dari pencinta kepada yang dicintai.
Karenanya berbicara cinta berarti berbicara tentang sesuatu yang terkait dengan rasa. Cinta tidak dapat dilihat. Hanya tanda-tanda dan penampakkannyalah yang dapat disaksikan.

Komponen Cinta

Cinta tidak dapat berdiri sendiri. Terdapat beberapa
hal yang terkait dengan cinta tersebut, yaitu: (1) yang mencintai; (2) yang dicintai (mahbub); (3)cara mencintai. Cara ini ada dua: (a)apa yang ada di dalam jiwa secara internal (dakhil); (b)penampakan lahiriah yang dapat disaksikan secara kasatmata (mazhahir).

Cinta yang benar adalah cinta yang diberikan oleh yang mencintai kepada yang dibenarkan untuk dicintai dengan cara yang juga benar, baik nternal dalam jiwanya maupun penampakannya. Jika dan hanya jika semua komponen tersebut benar mka cinta akan benar. Sebaliknya, salah satu saja komponen tersebut rusak atau tidak benar maka cinta pun menjadi tidak benar.

Tolok Ukur Cinta yang Benar


Sering seseorang terjebak pada khayalannya sendiri. Ia mencintai sesuatu, berjuang untuknya, tetapi sebenarnya apa yang ia cintai itu adalah suatu keburukan yang dianggapnya suatu kebenaran. Hal demikian adalah wajar belaka bila tolok ukurnya adalah logika atau bahkan hawa nafsu masing-masing manusia. Anak-cucu Adam kerap mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk, dan sering pula membenci sesuatu yang sebenarnya baik baginya. Karenanya, penilaian logika atau hawa nafsu manusia bukanlah tolok ukur penentu kebenaran. Allah Swt. berfirman:

"Diwajibkan atas kalian berperang, sedangkan berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian; boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui." (TQS al-Baqarah [2]:216)

Bisa jadi, ada yang mengatakan bahwa logika manusia itu memang bukan tolok ukur kebenaran bila sifatnya individual. Akan tetapi, bila logika itu didasarkan pada suara mayoritas, maka suara mayoritas itulah yang merupakan tolok ukur kebenaran. Alasan tersebut sebenarnya amatlah rapuh. Realitas membantah hal tersebut. Sebagai contoh, ketika disodorkan suatu pertanyaan, apakah pergaulan bebas anda setuju? Kalau orang-orang yang ditanya tersebut para pelaku pergaulan bebas, percayalah mayoritas mereka akan menyetujuinya. Persetujuan mayoritas tersebut tidak mengandung makna bahwa pergaulan bebas sebagai tindakan benar. Ia lebih merupakan sikap dari orang-orang yang ditanya tersebut, bukan merupakan bukti bahwa pergaulan bebas itu benar.

Lebih dari itu, kebanyakan manusia dikatakan oleh Sang Pencipta manusia sebagai penganut tindakan negatif. Mayoritas bukanlah penentu kebenaran. Banyak sekali firman Allah mengenai hal ini, diantaranya:

"Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman." (TQS. al-Baqarah [2]:100) "Akan tetapi, kebanyakan dari mereka itu tidak mengetahui" (TQS. al-An'am[6[:37) "Akan tetapi, kebanyakan dari mereka adalah bodoh/jahil" (TQS. al-An'am [6]:111) "Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (TQS. al-A'raf[7]:17) "Kami tidak mendapati kebanyakan meraka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik" (TQS. al-A'raf [7]:102) "Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak mengetahui" (TQS. al-A'araf[7]:131) "Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Mahatahu atas apa yang mereka kerjakan." (TQS. Yunus[10]:36) "Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (denagn sebahan-sembahan lain)." (TQS. Yusuf[12]:106) "Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak sehingga mereka berpaling." (TQS. an-Nahl[16}:24)

"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)."
(TQS. al-Furqan[25]:44) "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. (Akan tetapi). kebanyakan mereka tidak beriman." (TQS. asy-Syu'ara[26]:8) "Akan tetapi, kebanyakan mereka tidak memahaminya." (TQS. al-Ankabut [29]:63) "Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah" (TQS. ar-Rum [30]:42) "Yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan. Akan tetapi, kebanyakan mereka berpaling (darinya) sehingga mereka tidak (mau) mendengarkan." (TQS. Fushilat [41]:4)

Berdasarkan ayat-ayat di atas, tolok ukur kebenaran bukanlah logika ataupun hawa nafsu manusia, baik bersifat individual maupun secara mayoritas. Tolok ukur kebenaran hanyalah wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tolok ukur itu adalah hukum Allah (Syariat). Sebagaimana firman-Nya:

"Apa yang diberikan Rosul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (TQS. al-Hasyr [49]:7)

Tolok ukur cinta yang benar pun sama, yaitu hukum syariat. Segala bentuk cinta yang dibenarkan oleh syariat adalah benar. Sebaliknya, semua cinta yang dilarang oleh syariat merupakan cinta yang keliru.

0 komentar:

 

Free Music