Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 08 Maret 2011

Doa Untuk Orang Sakit


Tidak terasa sakit ini udah hampir seminggu. Walaupun cuma batuk-pilek tapi cukup mengganggu. Saya merasa cukup kesulitan melakukan aktivitas rutin saya, padahal sudah biasa dikerjakan. Semua terasa berat saja. Bawaannya jadi males aja. Pekerjaan yang biasa dilakukan dengan penuh gairah kini hilang melemah. Aktivitas dakwah yang membutuhkan olah vokal yang prima pun menjadi tidak maksimal. Hingga banyak tawaran/ job-job manggung yang saya tolak, karena takut mengecewakan pengggemar dengan kualitas suara yang serak-serak banjir ini:D

Ya Allah, sungguh besar karunia-Mu pada saya selama ini. Atas nikmat yang Engkau berikan berupa kesehatan. Saya tidak pernah bersyukur atas anugerah tersebut. Saya hanya ingat pada-Mu ketika sedang kesusahan dan membutuhkan. Mungkin inilah manusia, harus ditegur agar ingat. Jika teguran yang ringan saja tidak mempan maka Allah pun akan memberikan teguran yang lebih besar yang bisa membuat kita terkapar dan sadar. Baru dikasih rasa sakit di kepala saja sudah mengeluh. Batuk, demam, pilek, panu, kurap kadas dll. Sudah jerenges (cengeng) ditambah nyalahin Allah karena udah berbuat dzalim sama kita. Na'uzubillah....

Sebuah kisah menarik yang diceritakan teman pada suatu kesempatan. Ibarat membuat sebuah gedung, maka dibutuhkan tukang untuk membangunnya hingga berdiri kokoh. Dalam pengerjaannya, ada yang ditempatkan di bagian bawah yang bertugas mempersiapkan bahan semen, alat dan perlengkapan lainya. Dan ada pula di bagian atas yang bertugas memasangkan alat dan perlengkapan yang tadi disediakan.

Saat pekerjaan dimulai, pekerja yang berada di bagian atas meminta untuk dibawakan sesuatu. Pekerja tadi memanggil-manggil pekerja yang ada di bawah namun tidak didengar. Hingga pekerja yang berada di atas tadi harus berteriak memanggil pekerja yang di bawah. Karena bisingnya mesin-mesin yang digunakan sehingga peringatan yang disampaikan pun tidak jua terdengar. Pekerja yang di atas pun berfikir untuk apa aku berteriak-teriak, kedengaran nggak, suara habis iya.

Pekerja tadi kemudian mengambil uang koin yang berada di sakunya lalu dilemparkanlah ke arah pekerja yang berada di bawah. Melihat ada uang koin yang berceceran, pekerja yang di bawah itu pun memungut uang koin yang berjatuhan tersebut. Ia mengira itu adalah rezekinya atas kegigihanya dalam bekerja selama ini.

Melihat usaha yang dilakukannya sia-sia, pekerja yang di atas pun berfikir ulang. Untuk apa ia melemparkan uang koinnya, toh pekerja yang di bawah tadi tidak juga menyadari maksudnya tersebut. Pesannya sampai nggak, koin habis iya. Tak patah semangat, pekerja tadi lalu mencoba sesuatu yang lain. Maka diambilah batu-batu kerikil yang ada di campuran semen dan dilemparkannya ke pekerja yang berada di bawah. Dan benar saja satu lemparan mengenai tepat di atas kepalanya. Lemparan pertama masih belum direspon hingga lemparan ketiga akhirnya pekerja yang dibawah pun menengok ke atas tempat jatuhnya batu kecil itu.

Harusnya kita sadar bahwa itu adalah bentuk rasa kasih sayang Allah pada kita. Kita diingatkan dengan cara-Nya agar kembali ke jalan yang lurus. Jalan yang diridhai-Nya. Ketika peringatan pertama tidak ditanggapi, atau hanya biasa-biasa saja, maka akan muncul peringatan-peringatan lain yang lebih keras. Tapi sering kali kita melalaikan perintah dan laranya-Nya tersebut. Kita lebih banyak melakukan banyak hal yang tidak berguna, yang justru malah menjadikan kita kufur ni'mat.

Sakit adalah bagian dari musibah yang telah Allah ukur kadarnya untuk dihadiahkan pada hamba-hamba terpilih yang mampu menanggungnya.

Sakit, sebagaimana tiap ujian, tidaklah menguji kemampuan sebab telah diukur tepat sesuai daya tahan. Ia menguji kemauan memberi makna.

Sakit itu dzikruLlah. Mereka yang menderitanya hampir pasti lebih sering & syahdu menyebut asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar. Mereka yang sedang disapanya lebih mudah untuk teringat dosa-dosa lama, mengakuinya, & bertaubat mohon ampun.

Sakit itu Tauhid. Mereka yang parah dicengkamnya pasti dituntun orang untuk ber-kalimat thayyibat, mengesakanNya dalam lisan & rasa.

Sakit itu Muhasabah. Sebab dia yang sakit punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali.

Sakit itu Jihad. Sebab dia yang sakit tak boleh menyerah kalah, dia diwajibkan untuk terus berikhtiar, berjuang bagi kesembuhannya.

Sakit itu ilmu. Dalam menjalani pemeriksaan, berkonsultasi dengan dokter, dirawat, & berobat bertambahlah pengetahuan tentang tubuhnya.

Sakit itu Nasehat. Yang sakit ingatkan nan sehat tuk jaga diri. Yang sehat menghibur si penderita agar bersabar. Allah cinta keduanya.

Sakit itu silaturrahim. Yang jarang datang di saat nan bersangkutan sehat wal afiat, tiba-tiba menjenguk dengan senyum & rindu mesra.

Sakit itu perekat ukhuwah. Kawan lama nan tak bersua bertahun lamanya, tiba-tiba berjumpa di waktu membesuk seorang kolega lainnya.

Sakit itu belajar. Berbaring setengah duduk memungkinkan mencerap ilmu dengan tekun lewat buku, kata-kata terucap, maupun gambar gerak.

Sakit itu gugur dosa-dosa. Barang haram terselip tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan nan mungkin berdosa dinyerikan & dicuciNya.

Sakit itu mustajab doanya. Sampai-sampai Imam As Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh mereka.

Sakit itu salah satu keadaan yang menyusahkan syaithan; diajak maksiat tak mampu-tak mau, dosa yang lalu malah disesali lalu diampuni.

Sakit itu membuat sedikit tertawa & banyak menangis; satu perilaku keinsyafan yang disukai Nabi & makhluq-makhluq langit.

Sakit itu meningkatkan kualitas ibadah; ruku’-sujud lebih khusyu’, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyat & doa jadi lebih lama.

Sakit itu memperbaiki akhlaq; kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut & tawadhu’.

Sakit itu membuat kita lebih serius mengingat & mempersiapkan kematian. Dia yang merasa dekat maut menghargai waktunya dengan baik.

Terima kasih untuk teman-teman yang telah mengingatkan akan arti pentingnya bersyukur. Dan doa yang senantiasa dipanjatkan;

AllaahummaRabbannaas ...... Ya Allah Tuhan Manusia

Engkau Maha Penyayang ...... sementara kami sedang mengalami kesulitan

Adzhibilba'sya isyfi.........sembuhkan kami dari penyakit kami dan hilangkan rasa sakit yang menyertai penyakit kami.....

Sesungguhnya di balik rasa sakit yang kami derita, terdapat suatu penyakit di dalam diri. Dan jika kami telan obat penghilang rasa sakit , maka rasa sakit mungkin hilang, tetapi penyakit kami masih mungkin ada di dalam tubuh kami.. Padahal rasa sakit yang kami derita dapat Engkau jadikan sebagai penghapus dosa kami.

Karena itu...

Ya Allah sembuhkan kami dan ampunilah dosa kami....

Penyembuhan yang datang dari Engkau Ya Allah, adalah yang menyembuhkan penyakit sekaligus rasa sakit yang menyertainya.

AntasySyaafii ....laasyifa'a illaa Syifaa'uka...

Engkaulah Maha Penyembuh..... tiada kesembuhan sejati kecuali yang datang karena-Mu

Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang ahli mengobati kami....

Tolonglah kami dengan mendatangkan orang yang tahu obat penyakit kami...

Tolonglah kami dengan menunjukkan cara yang benar dalam pengobatan penyakit kami.....

Sesungguhnya ahli pengobatan maupun obat yang tepat untuk kami, hanya akan datang karena-Mu ...yang hanya akan kami terima, jika Engkau meridhai....

Syifaa'an laa yughaadiru saqamaa.......

Ya Allah yang Maha Penyayang, sembuhkan kami secara tuntas.....kesembuhan yang tidak membawa komplikasi rasa sakit atau penyakit lain, yaitu kesehatan yang datang karena ridha-Mu. Kesehatan yang semakin meningkatkan ketakwaan kami.

Astaghfirullah Ya Gafur .....Astaghfirullah Ya Afuw......Astaghfirullah

* Allaahumma rabbannaasi Adzhibil ba'sa isyfi antasysyaafii ....Lasyifaa-a illaa Syifaa-uka Syifaa-an laa yughaadiru saqamaa = salah satu doa untuk yang sakit dibacakan Nabi SAW ketika menjenguk yang sakit (Hadits Bukhari - Muslim dari 'Aisyah dan juga dari Anas r.a, dalam kitab "Riyadlus Shalihin" ,disusun oleh Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawy (618 H - 667 H) yang pernah memimpin Darul hadits As Shalihiyah di damaskus , diterjemahkan oleh Drs Muslich Shabir , Jilid II , halaman 26 dan 27 , penerbit CV Toha Semarang , tahun 1981)

0 komentar:

 

Free Music