Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Sabtu, 12 Februari 2011

Membangun Jembatan


Ada fakta yang menarik tentang otak. Ternyata manusia terdiri dari ribuan sambungan, tempat perjalanannya sel-sel listrik di dalam otak. Ketika kita belum mempelajari suatu hal, maka diantara sambungan itu ada celah. Celah yang memisahkan sambungan satu dengan yang lain. Sebuah celah yang tampak kecil, namun akan jadi seperti jurang kalau kita bandingkan dengan kehidupan di muka bumi ini. Ketika kita mempelajari suatu hal, maka sel listrik dalam jaringan tersebut, akan mencoba melompati celah tersebut.

Melompat menuju jaringan di depannya, butuh tenaga ekstra untuk melompat, apalagi lompatan pertama kali. Begitu pula dengan anak, dia akan melalui proses lompatan ini. Itulah mengapa ketika kita belajar suatu hal, kita akan merasa sulit pada awalnya, dan tidak langsung bisa. Belajar mengemudi juga demikian. Entah itu mobil, motor, maupun sepeda. Akan butuh waktu untuk menjadi terampil. Butuh waktu tapi lama-lama akan semakin mudah untuk mempelajarinya. Mengapa? Karena, setelah lompatan pertama, sel tadi akan juga membangun jalan perintis bagi sel listrik lain yang akan melompat juga ketika kita kembali mempelajari hal yang sama.
Semakin kita rajin mempelajari hal tersebut, maka jalan perintis tadisemakin lama semakin baik, dan pada akhirnya menjadi kokoh. Celah tadi pun tertutup, dan terciptalah suatu sambungan baru. Saat itu, kita telah berhasil menjadi terampildalam hal yang berulang kali kita pelajari dan kita lakukan. Mengapa? Karena sel-sel listrik di otaktak perlu lagi melompat menyeberangi celah. Jembatan telah kokoh berdiri.
Itulah mengapa orang yang awalnya tidak bisa, kemudian belajar dengan keras, akhirnya mulai terbiasa, lama-lama malah menjadi terampil. Apabial ia terus belajar di bidang yang sama, dia pun akan menjadi ahli di bidang tersebut. Karena dia telah membangun jembatan yang kokoh, hingga sel-sel listrik di otaknya bisa berjalan dengan mudah.
Jika itu terjadi pada diri kita, maka tentu juga akan terjadi pada anak-anak kita. Justru di usia mudalah, waktu yang paling tepat untuk melakukan berbagai lompatan di celah-celah tersebut. Dalam sebuah syair arab dikatakan:

"Belajar di waktu kecil, bagai mengukir di atas batu. Belajar di waktu dewasa, bagai mengukir di atas air."

Lantas, apa peran orang tua? Yang harus dilakukan adalah menyiptakan suasana yang mendukungmereka dalam membangun jembatan mereka sendiri. Terlalu memanjakan anak akan membuatnya malas untuk membangun jembatan mereka sendiri. Karena, semua sudah bisa mereka dapatkan dengan mudah tanpa perlu mereka bersusah payahmelompati celah tersebut. Hingga akhirnya, saat orang tua tidak ada, bisa jadi anak akan kesulitan menghadapi hidup.
Begitu pula, mengapa kita harus tetap sabar dalam membantu anak balajar sesuatu. Karena, saat itulah seharusnya kita bisa mendukung mereka. Jangan sampai ketidaksabaran kita malah menyebabkan mereka semakin susah melakukan lompatan-lompatan tersebut.


0 komentar:

 

Free Music