Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Selasa, 19 Oktober 2010

Tentang Saya


Assalamu'alaikum wr.wb.

Sebelumya saya mengucapkan terimakasih atas kunjunganya di blog yang sederhana ini. Mudah-mudahan apa yang saya tuangkan di dala sini dapat memberikan arti pada sebuah proses kebangkitan. Memberikan banyak ilmu yang bermanfaat bagi anda semua.

Kenalin nih, Saya Kosasih, terlahir 11 Juni 1989 alhamdulillah dengan selamat dari keluarga sederhana di Desa Cibatok I Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor. Salah satu jalur akses menuju kawasan Wisata Gn. Salak Endah (GSE) yang cukup ramai dikunjungi para wisatawan setiap weekend atau hari libur. Anak sulung dari pasangan Tata Sukandi dan Titin Kartini ini  mempunyai dua adik kandung, Tedi Hidayat dan Vina Oktaviani.  

Memulai menimba ilmu di TPA Al-Fatah 1 tahun dan bersekolah di SDN Cibatok IV. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Cibungbulang dan setelah itu meneruskan ke SMK Pelita Ciampea Bogor. Saat di SMK banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, terutama dalam hal mencari jati diri. Di sinilah seseorang mulai menentukan pilihan jalan hidupnya karena memang tidak mudah bertahan pada kehidupan sekarang ini. Dimana kebebasan dijadikan alat bagi manusia untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Beruntungnya saya diajak oleh seorang teman yang bernama Arip Fahrudin untuk mengikuti sebuah acara Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) di Pesantren al-Ghiffary Lw.Liang. Tanggalnya saya lupa tapi tepatnya malam ahad saat liburan akhir semester kelas satu.

Awal Ikut Kajian Keislaman

Acara yang diselenggarakan oleh teman-teman Forum Komunikasi Pelajar Islam (FKPI) Bogor itu sungguh luar biasa. Sekitar 100 pelajar begitu antusias mengikuti acara yang dimulai ba'da maghrib hingga besok paginya itu. Saya masih ingat yang menjadi pembicara saat itu Ust. Felix Siau yang mengangkat tema tetang Problematika Umat. Beliau begitu menggebu-gebu dalam menyampaikan materinya hingga menyita perhatian para peserta yang hadir. Dan yang membuat saya lebih takjub lagi ternyata pembicara yang saat itu sedang menimba ilmu di Institut Pesantren Bogor (guyonan utk mahasiswa IPB) ini adalah seorang muallaf. Luar biasa!!

Rasa kekaguman saya pun semakin bertambah saat mengetahui bahwa beliau mampu membaca al-Qur'an tiga bulan setelah ke-Islamannya itu. Saat itu saya bertanya pada diri saya,

"Berapa lama waktu yang saya butuhkan untuk belajar membaca al-Qur'an? Memahami isi kandungannya serta mendakwahkannya?"

Hingga sekarang saja saya masih belum terlalu lancar dalam membaca al-Qur'an. Masih 'amburadul' dalam hukum tajwidnya.

"Sudah berapa lama waktu yang digunakan untuk beribadah kepada-Nya? Memohon ampun atas segala kesalahan yang telah diperbuat?".

Bahkan untuk tahu alasan beragama Islam pun masih diragukan. Tidak sedikit orang yang mengaku beriman tapi kelakuan seperti bajingan. Merasa suci tapi nggak pernah mau intropeksi diri. Ngakunya suka ngaji tapi perbuatan sering tidak terpuji. Pengennya masuk syurga tapi terus melakukan amalan yang menjurus ke neraka.

Dari mana berasal? Mau apa di dunia ini? Dan akan kemana setelah kehidupan dunia ini? merupakan suatu pertanyaan yang terus bergelut dalam pikiran saya. Pertanyaan-pertanyaan tadi cukup sederhana tapi dibutuhkan kecermatan dalam memberikan jawaban. Karena ini akan menentukan posisi kita pada saatnya nanti. Ketika seorang Muslim berhasil menjawab ketiga pertanyaan mendasar tadi (al-uqda' al qubro) dengan benar niscaya ia akan mampu menjalani kehidupan dengan benar.

Dalam acara tersebut, sungguh sebuah materi yang sangat luar biasa. penyaji berusaha membangkitkan kesadaran dan pemikiran kami (anggap aja cuci otak). Karena memang dakwah Islam harus didasarkan pada sebuah pemikiran. Dan wajib dijadikan sebuah qiyadah fiqriyah, yaitu kepemimpinan ummat yang berdasarkan sebuah pemikiran.

Untuk mencapai sebuah kebangkitan, manusia membutuhkan sebuah pemikiran yang jernih, yaitu pemikiran yang mampu menjelaskan hakekat segala sesuatu sehingga menjadi jelas. Dengan pemikiran yang cemerlanglah (fiqru al-mustanir) maka akan didapatkan sebuah solusi fundamental atas kehidupan dunia ini. Proses berfikir itu sendiri ada tiga macam, yaitu berfikir dangkal (al-fiqru ad-daqi'), berfikir mendalam (al-fiqru al amiq) dan berfikir cemerlang (al-fiqru al-mustanir). 


Berfikir dangkal hanya sebatas pandangan terhadap sesuatu berdasarkan panca indra yang dimiliki manusia. Adapun berfikir mendalam (al-fiqru al-amiq) merupakan pandangan yang teliti dan mendalam terhadap segala sesuatu. Dengan demikian berfikir cemerlang/jernih (al-fiqru al-mustanir) ialah pandangan yang teliti terhadap segala sesuatu, beserta segala hal yang berkaitan dengannya untuk mencapai suatu kesimpulan yang benar terhadap proses tersebut.

Sungguh malam yang sangat indah bila dikenang. Malam yang tidak akan pernah saya lupakan karena merupakan awal dari sebuah perjuangan. Hingga sebuah komitmen bersama untuk memperjuangkan Islam pun saya azamkan dalam diri ini. Sebuah keputusan yang dibilang berani. Saya pun akan selalu siap dan senang hati apabila diminta untuk bercerita tentang pengalaman ini. 

Perjuangan pun dimulai. Sekitar tiga bulan setelah acara dengan mengikuti kajian rutin dalam perhalqahan, taklif pun diberikan oleh seorang musyrif: Sebarkan Islam di sekolah!! Saya pun memberanikan diri untuk bergabung bersama Rohis di sekolah dan alhamdulillah, selang beberapa bulan saya dipercaya untuk menjadi Penanggung Jawab di Rohis SMK Pelita Ciampea Bogor.

Saya berusaha membandingkan kehidupan sebelum dan sesudah masuk rohis. Saya yang awal masuk sekolah termasuk pemalu akhirnya berani tampil ke depan. Memberikan sebuah pengumuman, keliling kelas untuk amal yang lebih kami kenal dengan sebutan GAS (Gerakan Amal Siswa) adalah hal yang sudah biasa dilakukan. Bahkan menjadi MC dan ketua panitia dalam berbagai acara seperti Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. dan Isra Mi'raj sudah menjadi agenda rutin tiap tahun. Alasannya sih sepele, seperti kata sebuah iklan "Kalau bukan kita, siapa lagi?"

Bekerja di Depok

Setelah lulus SMK, alhamdulillah dapat kesempatan untuk bekerja di PT. Panasonic Manufacturing Indonesia selama satu tahun sebagai tenaga kerja kontrak. Sayangnya perusahaan sudah menutup kesempatan untuk mengangkat karyawan tetap dan hanya memberikan kesempatan sebanyak tiga kali kontrak saja, setelah itu silakan cari pekerjaan di tempat lain. Inilah aturan kapitalis yang hanya menguntungkan para pengusaha atau pemilik modal.

Saya berusaha berfikir positif atas kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil tersebut. Memang selama saya bekerja diperusahaan tersebut ada sesuatu yang hilang dan perasaan tidak nyaman. Saat bekerja di perusahaan yang berada di Gandaria Jakarta Timur itu, saya tinggal di depok bersama paman dan bibi (adik dari ibu). Tentunya dengan jarak yang cukup jauh, tidak jarang saya kesulitan untuk bisa rutin untuk pulang ke Bogor. Sehingga kajian rutin dalam halaqoh pun terbengkalai. Saya merasa hidup tidak berkah. Uang gaji UMR hasil kerja pun serasa tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, padahal jika dibandingkan dengan penghasilan teman-teman yang sudah bekerja jauh di atas rata-rata. Namun sering kali saya merasa kekurangan, bahkan untuk infak bulanan saja merasa berat. Astaghfirullah. Di sini saya sadar bahwa kesenangan duni bukanlah segalanya.

Satu tahun pun sudah terlewati hidup di depok. Banyak kenangan manis yang masih terasa hingga sekarang. Terutama saya mendapatkan banyak teman baru sehingga merasa tidak pernah kesepian. Orang-orang di sana ramah-ramah. Saya pun tidak terlalu sulit menyesuaikan diri dengan mereka. Pasalnya rumah bibi berdekatan dengan masjid al-Ikhsan, tempat warga sekitar berkumpul untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah, sehingga bertemu dan berkumpul dengan warga sekitar pun merupakan hal yang mudah.

Selama di depok saya tingal dengan seorang bibi, Julaeha namanya. Adik kandung ibu ini sangat baik terhadap saya. Ia sudah menganggap beliau seperti ibu kandung saya sendiri. Senang rasanya kira-kira mempunyai dua Ibu sekaligus, yang satu ada di Bogor dan satunya lagi ada di Depok, tempat saya bekerja. Dua rumah yang senantiasa membukakan pintunya untuk saya, kapan pun saya datang. Dua orang tua yang siap mendengarkan cerita seorang anak laki-laki yang sedang mencari jati dirinya ini. Dengan senang hati mendengarkan semua curhatan pemuda yang belum terlalu pengalaman untuk menantang kerasnya kehidupan yang harus ia jalani kelak.

Pernah suatu hari teman-teman berkumpul di rumah bibi. Oiya, suami bibi Abdullah namanya punya lima orang anak, dan yang paling besar seumuran dengan saya, Abdillah namanya sehingga banyak teman-temannya yang menjadi teman saya juga. Kebiasaan yang terus saya ingat adalah makan bersama dalam satu nampan. Nasi dan lauknya biasanya semua yang ada di rumah, selebihnya ada ditambah dari teman-teman yang lain. Tidak ada yang istimewa dari menu yang kami makan tapi ada sesuatu yang membuat semuanya terasa begitu dekat. Saling berbagi bersama. Keakraban pun terjalin.

Setelah cukup lama tinggal di depok, kontrak kerja pun habis. Rasanya tidak ada alasan saya untuk tinggal lebih lama di sana. Memang ada tawaran untuk kerja di tempat lain tapi terasa berat. Saya ingin aktif di Bogor saja, mencari penghidupan di sana walaupun dari segi financial jelas lebih besar penghasilan saya saat di depok. Mengingat sebuah kalimat yang diucapkan oleh seorang motivator indonesia, Tidak ada perusahaan yang kecil, karena yang ada adalah bagaimana cara membesarkan tubuh kita dalam keadaaan yang sulit sekalipun. So tetaplah semangat dalam meraih mimpimu.

0 komentar:

 

Free Music