Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 20 September 2010

Liqo Syawal 1431 H

"Hah, sudah jam 08.00, waduh telat nih." pikirku yang langsung bergegas menuju kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan mungkin sehabis shalat shubuh sering tidur lagi. Hal ini dikarenakan kebiasaan tidur yang larut malam, kadang bisa jam satu atau dua malam. Ya namanya juga server pulsa, menunggu hingga transaksi kosong atau tidak terlalu padat, ya sekitar jam 12 malem.

Ahad 19 September 2010 kemarin bersama teman-teman seperjuangan mengadakan sebuah pertemuan. Kami menyebutnya Liqo Syawal. Sebuah pertemuan rutin yang kami gelar tiap tahun pada bulan syawal yang dimaksudkan untuk saling bersilaturahim jika saat lebaran belum sempat ketemu. Namun sayang ada beberapa teman yang tidak bisa hadir dikarenakan kesibukan sehari-hari seperti kerja. Kemudian ada yang ijin karena harus menikahkan adiknya, memang di sepanjang perjalanan banyak orang yang mengadakan resepsi pernikahan pada hari tersebut. Al-hasil jalanan pun menjadi macet.
Beberapa sms pun menghiasi layar kaca hp jadulku, Imobile 318. Kubaca satu sms dari seorang teman yang memberitahu bahwa ia tidak bisa datang ke acara Liqo Syawal tersebut dikarenakan harus masuk kerja. Kasihan juga sih, karena masa cutinya sudah habis dipakai untuk kegiatan di hari sebelumnya. Ia meminta sebelum saya berangkat ke acara agar bisa mampir dulu ke rumahnya untuk menitipkan uang setoran deposit pulsa yang ia pinjam beberapa waktu lalu.

Acara yang berlokasi di daerah Kaung Gading Kec. Pamijahan Kab. Bogor ini tidak sulit untuk ditempuh. Walaupun daerah ini tidak ada dalam peta global sudah banyak kendaraan yang beroperasi ke arah sana. Karena terlambat berangkat saya pun ketinggalan mobil jemputan, otomatis harus ngeteng deh.

Sesampainya di tempat lokasi, saya pun menyalami teman-teman yang belum sempat bertemu saat lebaran kemarin, termasuk KH. Muhyidin selaku tuan rumah yang telah menyediakan tempat. Kami saling bermaaf-maafan. Taqobalallahu minna wa minkum siyamana wa siyamakum Taqobal ya kariim.

Acara yang diisi dengan sebuah tausyiah yang dibawakan oleh ust. Supriyadi terasa begitu bermakna. Ia menggambarkan seberapa besar hasil yang kita peroleh dari ibadah selama ramadhan kemarin. Beliau menggambarkan tentang kinerja sebuah komputer yang terdiri dari input-proses-output. Keimanan adalah inputnya, puasa merupakan prosesnya dan taqwa adalah outpunya. Sebagaimana firmannya:


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (al-Baqarah:183)

Puasa adalah sebuah seruan kepada orang-orang yang beriman yang bisa menghasilkan sebuah ketaqwaan. Pertanyaannya , sudahkah kita mendapatkan hasil dari ibadah kita selama ramadhan yaitu mendapat derajat muttaqien (orang-orang yang bertakwa)..??

Taqwa berasal dari kata waqo yang berarti melindungi. Sehingga bisa dipaparkan bahwa taqwa adalah melindungi diri dari perkara yang dilakukan maupun yang ditinggalkan untuk mencegah murkanya Allah. Agar kita tidak mendapat murka dari Allah tentu seluruh perbuatan yang kita lakukan harus sesuai dengan syariahNya serta menjauhi semua yang dilarangNya.

Namun perlu dipahami bahwa puasa hanya salah satu perintah Allah yang akan melindungi kita dari murkaNya. Tentu masih banyak perintah Allah yang lain tapi belum bisa kita laksanakan seperti hukum potong tanggan bagi pencuri, jilid/rajam bagi pezina dll. oleh karena itu tidak bisa kita mengatakan sudah mendapatkan derajat muttaqien kalau hanya baru bisa melaksanakan sebagian yang Allah perintahkan.

Masih banyak perintah Allah yang belum bisa kita laksanakan. Hal ini dikarenakan tidak adanya institusi negara yang menerapkannya, yaitu Daulah Khilafah yang mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Mudik ke Syurga

Kebiasaan orang-orang ketika menjelang lebaran tiba, banyak yang mempersiapkan diri untuk mudik ke kampung halaman. Mereka sudah tidak lagi memikirkan biaya atau perjalanan yang harus ditempuh selama berjam-jam. Begitu besar pengorbanan yang dilakukan hanya untuk bertemu dengan keluarga di kampung.

Namun sayang, tidak banyak dari mereka yang rela berkorban untuk mendapatkan tiket ke syurga. Perjuangannya menuju kampung halaman tidak sebanding dengan perjuangan mendapatkan kemuliaan di syurga. walaupun memang untuk mendapatkan itu tidak murah. Ada biaya yang harus kita keluarkan berupa amal shalih yang Allah wajibkan seperti shalat, zakat, puasa dan dakwah. Namun jika kita mengetahui hasil yang akan kita peroleh berupa syurganya Allah, sungguh amalan yang sudah kita lakukan selama ini tidaklah sebanding. Ibaratnya kita ingin membeli sebuah mobil Ferari yang harganya mencapai Rp. 3 Miliar, tetapi kita hanya mempunyai uang Rp. 10.000,-. Tentu kita akan dianggap orang gila bahkan langsung ditendang keluar oleh pemilik mobil.

Namun bukan sesuatu hal yang mustahil kita berjual beli dengan Allah. Semua yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah. Harta yang kita miliki, perniagaan yang kita usahakan hingga nafas yang kita hirup setiap hari itu semuanya adalah milik Allah. Namun ketika kita infaqan semuanya di jalan Allah, Dia pun akan menggantinya dengan syurga. Sungguh jual beli yang sangat menguntungkan.

Banyak orang-orang yang telah membuktikan keuntungan jual beli dengan Allah. Lihatlah Abu Bakar as-Shidiq, Umar bin al-Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Mereka adalah para sahabat yang dijamin masuk syurga. Lihat pula Zaid bin Haritsah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawaahah pada perang Mu'tah. Rasulullah saw. mengangkat para pahlawan Islam terbaiknya dan mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandannya seraya bersabda: "Jika Zaid gugur, maka Ja'far bin Abi thalib menggantikannya memimpin pasukan. Jika Ja'far gugur, maka Abdullah bin Rawaahah memimpin pasukan."

Jumlah kaum Muslimin pada perang Mu'tah hanya berjumlah 3000 orang, mampu mengalahkan kaum kafir yang berjumlah 200.000 orang. Ketika peperangan terjadi, Zaid pun 'merangsek' maju menghadang musuh dengan membawa rayah (panji) Nabi saw. ke tengah pertempuran. Hingga sebatang tombak telah merobek tubuhnya. Ia pun gugur. Kemudian rayah diambil oleh Ja'far bin Abi Thalib dan menceburkan diri ke dalam lautan pertempuran. Hingga akhirnya gugur dengan tebasan sebuah pedang musuh yang membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Rayah pun disambar Abdullah bin Rawaahah, walaupun sempat ragu, tetapi akhirnya ia pun maju menghadapi musuh hingga akhirnya terbunuh juga.

Para komandan dan pasukan tersebut telah mengetahui benar bahwa mereka akan maju berperang dan menyongsong maut. Mereka siap dengan resiko membunuh atau terbunuh.



Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (Qs. at-Taubah:111)

Mereka telah menjual harta dan jiwa mereka dengan syurganya Allah. Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan kita?

Sudahkah kita beramal seperti mereka? Sudahkah kita mengerahkan segenap kemampuan kita untuk berjuang di jalan Allah?

0 komentar:

 

Free Music