Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Senin, 30 Agustus 2010

Si Dungu

Siang itu sekitar 40 pasang mata menatap ku dengan tajam. Menunggu apa yang selanjutnya akan aku sampaikan. Tentu ini menjadikan diri jadi sedikit ga enak, tapi sudah sejauh ini pantang kayaknya untuk mundur. Justru itu akan lebih membuat malu. Toh mereka juga akan menyadari bahwa aku sedang belajar bicara di depan banyak orang.

Sedikit berpikir sejenak. Mencari materi apa yang harus disampaikan, tentunya yang sedikit menghibur karena mereka semua sedangdalam keadaan puasa. Rasa lelah, lemas jelas menghinggapi mereka. Coba mengingat-ingat suatu cerita yang dikira pas untuk disampaikan, akupun langsung tertuju pada sebuah kisah tetang seorang pemuda.

****

Alkisah, di sebuah perkampungan yang sedikit terpencil, hiduplah seorang laki-laki yang kaya, tampan, namun sayang dia sangat bodoh. Karena kebodohannya ini, tak jarang orang-orang di sekitarnya memanggilnya "si Dungu".

Suatu ketika, si Dungu hendak pergi shalat berjamaah di Masjid. Namun ia merasa ragu karena selama ini belum ada satupun bacaan shalat yang ia hafal.

"Sudah adzan bang, nggak ke Masjid?" tanya sang isteri

"Aku malu shalat jamaah ke Masjid." keluh si Dungu

"Malu kenapa Bang?" tanya sang isteri

"Selama ini aku kan belum tau gimana caranya shalat." jawab si dungu

"Oh gampang Bang, dulu waktu aku ngaji dikasih tau kalau kita berjamaah, ya tinggal ikutin aja apa yang dilakukan Imam kita di depan." jelas isterinya yang dulu pernah ikut sanlat di sekolahnya.

"Mmh..ngikutin imam ya?" tanya si dungu yang masih dalam keraguan.

"Iya, ga apa-apa, namanya juga lagi belajar. Shalat berjamaah itu kan pahalanya besar lho, sayang klo dilewatkan." tegas sang isteri meyakinkan.

"Baiklah, abang akan ke Masjid buat shalat berjamaah, kan cuma ngikutin imam, apa susahnya." jawab si dungu yang siap dengan koko putihnya.

Sesampainya di Masjid, si Dungu segera mengambil posisi paling depan tepat di belakang sang imam. Ia berharap bisa melihat jelas apa yang nanti dilakukan oleh sang imam.

Sang imam pun memulai Takbiratul ikhram yang diikuti seluruh jamaah, termasuk si Dungu. Ia pun mengikuti sang imam yang berkumat kamit membaca doa iftitah, karena tidak mengerti si Dungu hanya ikut-ikutan berkumat-kamit yang ga jelas bacaannya.

Sang imam mulai membaca sural Al-Fatihah "Bismillah ar rahman ar rahim...Alhamdulillahi rabbil alamin...."

Tentu hal ini diikuti oleh Si Dungu, karena dalam benaknya ia harus mengikuti apa yang dilakukan oleh sang imam.

"Bismillahi ar rahman ar rahim...Alhamdulillahi rabbil alamin..." ucapan si dungu mengulang bacaan sang imam.

"Aduh, siapa sih? Ini orang ganggu gue aja" gumam sang imam. "Ar Rahman Ar Rahim..." lanjut sang imam.

"Ar Rahman Ar Rahim..." yang juga diucap ulang oleh si dungu.

"Wah, nih orang dah kelewatan dah. Bikin gue jadi ngga konsen." pikir sang imam. Dengan sedikit berdehem (batuk) yang bertujuan untuk memperingatkan agar orang dibelakangnya diam. Namun hai itu tidak dimengerti oleh si dungu, bahkan ia pun mengikuti semua yang dilakukan sang imam, termasuk berdehem.

Merasa jengkel atas apa yang dilakukan salah satu jamaahnya ini, sang imam pun menendang ke arah si Dungu yang berdiri tepat di belakang imam tadi.

"Aduh...!!!!" teriak si Dungu yang merasa kesakitan setelah mendapat satu tendangan cap kuda (tendangan ke arah belakang) dari sang imam.

Si Dungu pun tidak tinggal diam, ia pun melanjutkan tendangan tadi ke arah barisan belakang seperti yang dilakukan sang imam.

"Aduh....!!!" teriak salah satu jamaah yang berdiri tepat di belakang si dungu.

Merasa tidak terima, jamaah tadi pun membalas tendangan tersebut dengan 'menjitak' kepala si dungu.

"Pltak....!!! balas seorang jamaah yang memberikan bogem mentahnya tepat di atas kepala si dungu

Dengan kepala yang terasa pusing, si dungu membalas pukulan ke arah sang imam.

"Aduh..." teriak sang imam yang langsung membalikan badannya untuk melihat kearah sang pelaku.

"Ternyata kamu yang dari tadi, kurang ajar..." geram sang imam. "pak..pak.."Beberapa tamparan pun dikeluarkan oleh sang imam.

"Aduh...mau shalat aja kok gini amat ya, udah dapet tendangan, jitakan eh ditambah lagi tamparan dari sang imam..." keluh si dungu.

Hingga pada akhirnya shalat berjamaah pun kacau balau.

****

Pada kesempatan lain, si dungu mengikuti sebuah pengajian, kebetulan saat itu yang mengisi Ust dari Australia yang sedang berkunjung ke kampungnya. Tentu banyak jamaah yang tidak mengerti tentang apa yang diucapkan oleh ust tersebut karena berbahasa Inggiris.

Di tengah kebingungan para jamaah, terlihat di barisan depan ada seseorang yang terlihat serius mendengarkan ceramah yang disampaikan sang ust. Ternyata ia adalah si Dungu. Saking seriusnya, sampai-sampai terlihat beberapa kali menganggukan kepalanya yang menandakan bahwa ia mengerti apa yang disampaikan oleh sang ust.

Seorang jamaah pun merasa kagum terhadap si Dungu. Ia merasa bersalah karena selama ini sudah menganggap bodoh dirinya. Ditegurlah si Dungu yang memang duduk bersebelahan denganya itu.

"Hey Dungu, dari tadi kamu terlihat mengagguk-anggukan kepala, apa kamu mengerti apa yang disampaikan Mr. Ust tadi?" tanya seorang jamaah

"Hah, ngerti apa? Orang dari tadi aku ngantuk banget...." jawab si dungu polos

*****

Saat mengikuti shalat jumat pun si dungu tak ketinggalan. Lengkap dengan peci dan koko putihnya, lelaki yang mempunya dua isteri sekaligus ini duduk di barisan kedua tepat di hadapan mimbar tempat khatib berkhutbah. Maklum, biar lebih jelas mendengarkan khutbah yang disampaikan nanti.

Seorang khatib yang memakai gamis putih pun naik ke atas mimbar dan berkhutbah. Kata-kata lelaki yang memiliki rambut dan janggut putih 10 senti itu pun sangat menyentuh hati. Dengan penghayatan yang luar biasa, semua jamaah pun hanyut dalam untaian kata-katanya. Ada yang menundukan pandangannya hingga memejamkan mata, namun ada juga yang berdzikir dengan suaranya yang khas seperti orang mendengkur (eh maksudnya ketiduran).

Ada satu jamaah yang menyita perhatian sang khatib, ia duduk tepat dihadapannya dengan tatapan penuh makna. Matanya terlihat berkaca-kaca, seakan-akan hanyut dalam khutbah yang sedang disampaikan. Sang khatib pun merasa bangga ketika melihat ada satu jamaahnya yang mampu memahami isi khutbahnya.

Selesai shalat jumaat, sang khatib menghampiri si Dungu untuk berbincang-bincang. Rupanya sang khatib penasaran dengan pemuda yang dilihatnya tadi.

"Assalamullaikum..." sapa sang khatib

"Walaikum salam..." jawab si dungu.

Sang khatib pun mengutarakan kekagumannya pada si Dungu, "Tadi aku melihat kamu begitu khusuk mendengarkan ceramahku, apakah ucapanku begitu menyentuh sampai-sampai membuat kamu menangis..."

"Ceramah apa..? Saat anda naik ke atas mimbar, aku menangis saat melihat janggut anda yang putih itu.." jelas si dungu

"Memangnya ada yang salah dengan janggutku ini?" tanya sang khatib heran

"Janggut anda itu mengingatkan aku pada kambing putihku yang hilang setahun yang lalu. Ia mempunyai janggut putih sama persis dengan janggut anda..." kenang si dungu dengan terisak-isak.

"Kamu....!!!!!!!!!!" geram sang khatib

****

Saat musim haji tiba, si Dungu ingin melaksanakan haji. Namun ia merasa belum mampu karena tidak ada satu doa pun yang bisa ia hafal. Walaupun dari segi ekonomi, si Dungu tergolong orang yang berkecukupan. Tanah warisan kakeknya tidak akan habis dimakan hingga tujuh turunan (ya siapa lagi yang mau makan tanah).

"Pa ustad, saya mau naik haji tapi ngga bisa baca doanya" tanya si dungu

"oh, ngga apa. Biar saya ajarin doanya" jawab sang ustad berusaha membantu

"Tapi jangan yang panjang-panjang. Saya ngga bisa menghafalnya" pinta si dungu

Sang ustad pun mengajarkan si Dungu doa yang cukup pendek yaitu doa sapu jagad

http://photos1.blogger.com/img/277/5702/1024/003AlQuran1.jpg

Artinya: "Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka." (QS. Al-Baqarah: 201).

Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa doa ini dibaca oleh orang-orang muslim yang tulus setelah selesai melaksanakan haji.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan pula bahwa doa ini mengandung seluruh kebaikan di dunia dan akhirat serta menghindarkan dari segala kejelekan. Oleh karena baik sekali doa ini dibaca pada setiap kesempatan." papar sang ustad

Si dungu pun senantiasa membaca doa tersebut pada setiap kesempatan sesuai pesan sang ustad. Baik di rumah, jalan maupun pasar ia tetap membacanya.

Namun ternyata sang isteri pertamanya yang bernama 'Jamilah' sedikit cemburu. Ia merasa bahwa suaminya sudah tidak memikirkan dia lagi. Terbukti dari setiap doa yang dilantunkannya selalu menyebut nama isteri keduanya 'Hasanah'

"Mas, kenapa sih kamu baca doa selalu menyebut nama isteri kedua mu?" tanya isteri pertamanya kesal

"sekali-kali aku namaku dong yang kamu sebutkan dalam doa mu" pinta sang isteri

"Aduh sayang, ngga bisa. Ini yang diajarkan pa ustad, masa harus dirubah-rubah sih" jelas si dungu

"Ah ngga mau, pokoknya kamu harus adil. Kamu juga harus masukan namaku dalam doamu" rengek sang isteri

Saat si Dungu melaksanakan ibadah haji, ia pun menambahkan satu kata dalam doanya, sesuai permintaan sang isteri. Doa itu menjadi

"Robbana aatina fii ad-dun'ya hasanah wa fii al akhirati jamilah wa kinaajabannar"

Sontak semua jamaah yang hadir pada saat itu pun tertawa mendengar doa si Dungu

****

Untuk doa di atas penulis tidak memasukan bhs arab karena tidak ingin mengubak teks al-Quran yg seharusnya. Silakan dieja sendiri.

0 komentar:

 

Free Music