Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Rabu, 11 Agustus 2010

Sahur Pertama

Berharap bisa makan sahur pertama bareng keluarga di rumah pun kandas. Tidak ada kebijakan libur di awal puasa kali ini, maklumlah usaha yang aku geluti terbilang usaha yang ga ada liburnya. Ya, diawal ramadhan 1431H yang jatuh pada hari rabu, 11 Agustus 2010 ini terpaksa makan sahur di tempat kerja. Ada tiga orang yang kebetulan juga mempunyai jadwal jaga saat itu. Bisa dibilang sih, ketiga teman kerjaku ini adalah orang jauh alias perantau dari suatu tempat nan jauh di sana. Sehingga tidak memungkinkan untuk pulang ke kampung halaman, lebih baik sekalian aja nanti pas menjelang lebaran pikirnya.

Waktu sahur pun tiba, seorang teman mencoba membangunkan dari mimpi indahku. "Bangun Kang, sahur,,sahur,,," sahutnya dengan tangan menggoyang-goyang tubuhku yang terkulai lemah. Tak berdaya. Kulihat jam di hp ku yang setengah 'jadul' menunjukan pukul 03.40 wib. Padahal tidurku baru satu jam yang lalu, namun kupaksakan untuk bangun. Kucoba melawan dekapan setan yang membelunggu tubuh ini dengan basuhan air wudhu, menggelar sajadah dengan setoran dua rakaat tahajud sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.

Terlihat tiga teman kerja sibuk menyiapkan menu sahur di hari pertama puasa ini. Mereka berkeliling mencari warung yang buka pada saat itu, beharap mendapatkan makanan untuk sahur. Namun ternyata, di awal puasa ini tidak ada warung nasi yang berjualan. Mungkin sedang libur (huft,,aku aja ga dapet libur). Warteg yang biasa jadi langganan kami pun tutup. Seolah benar-benar menikmati santap sahur bersama keluarga masing-masing.

Al hasil tidak ada makanan yang dibeli di hari pertama sahur. Hanya sebungkus kerupuk yang kami dapatkan. Dengan nasi yang sudah kami masak pada malam harinya, kami pun menyantap menu yang seadanya. Beruntung ada seorang teman yang membawa beras dari kampungnya saat mudik kemarin, memang diniatkan untuk bekal menghadapi ramadhan ini. Semoga Allah membalas kebaikannya itu. Yup, nasi plus kerupuk, makanan yang terlihat di santap sahur pertama ini. Aku sendiri sih ga masalah walau harus ngga makan sahur, karena sudah terbiasa saat shaum sunah, sahurnya ya, pas makan malam, asalkan cukup minum.

Ada hal yang menarik perhatian ku untuk 'nimbrung' bareng bersama mereka. Kulihat dengan seksama tiga teman yang begitu menikmati menu makan sahur saat itu. Tidak terlihat rasa mengeluh yang tersirat di benak mereka, karena sudah menjadi kebiasaan bagi mereka yang sudah lama hidup mandiri. Makannya pun ya seadanya.

"Apakah cukup, sahur dengan nasi dan kerupuk saja?" tanya ku sambil memperhatikan tangan yang bergerak naik turun 'mencomot' nasi dalam sebuah piring.
"Alhamdulillah kang, kita udah biasa makan dengan nasi dan kerupuk saja, kadang hanya gorengan." jawab seorang teman. "Maklum aja. kita kan dulunya anak kost, biasa hidup sendiri, jauh dari rumah" timpal seorang teman.

Aku pun merasa terdorong untuk bergabung bersama tiga teman ku tadi. Penasaran dengan kenikmatan yang mereka rasakan. Menyantap sepiring nasi dan kerupuk yang ditaburi dengan sedikit saus tomat. Hmmm,, walau tergolong sederhana, insyaAllah cukup untuk mengganjal perut sampai berbuka nanti. Sungguh tidak ada kenikmatan luar biasa yang aku rasakan selain berbagi dalam kebersamaan. Susah senang bersama.

Aku merasa mendapat pelajaran dari mereka, perlahan aku berfikir sejenak. Ternyata tidak harus makan makanan mewah dalam sahur pertama. Hal yang mungkin sudah menjadi tradisi bagi kaum Muslimin di awal puasa, seperti yang terjadi di aceh. Tanpa alasan yang cukup jelas, mereka harus menyiapkan setidaknya daging sapi sebagai lauk pauknya. Seakan sudah menjadi tradisi yang wajib bagi masyarakat aceh. Tak heran harga daging di sana pun melonjak naik hingga Rp. 120.000/kg dari Rp. 60.000-Rp. 70.000/kg. Kenaikan yang cukup signifikan. mereka menyiapkan makanan yang 'wah' untuk sahur pertamanya. Katanya sih biar semangat menjalankan ibadah puasanya.

Tidakkah kita melihat Rosulullah saw. sebagai teladan. Beliau cukup memakan sebuah kurma dan segelas air sebagai menu sahurnya. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa perut Rosulullah tidak pernah kenyang dengan makanan. Karena beliau takut hal tersebut akan melalaikan aktifitas ibadahnya kepada Allah SWT. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi masyarakat sekarang.

Dengan demikian, kenikmatan itu tidak dilihat dari banyaknya makanan yang tersedia tetapi kesediaan kita dalam berbagi satu sama lain dalam setiap keadaan.

0 komentar:

 

Free Music