Sudah berlangganan artikel blog ini via RSS Feed?

Jumat, 20 Agustus 2010

Nasihat yang Bermanfaat

Pagi hari sudah kena 'omelan' manager. Maklum, baru naik jabatan kemarin. Tentu harus ada sesuatu yang berbeda, terutama perubahan sikap, yang tadinya begitu dekat seperti sahabat sekarang harus sedikit berwibawa. Punya otoritas untuk mengatur, pastinya supaya jadi lebih baik, karena itulah tugasnya seorang pemimpin, dan kita yang dipimpin harus bersikap taat pada apa yang diperintahkan (sami'na wa atho'na).

Namun pada kesempatan yang berbahagia ini, saya tidak akan panjang lebar menjelaskan kejengkelan di pagi hari ini, karena ada sesuatu hal yang tiba-tiba membuat hati menjadi tenang. Dibalik kerisauan hati yang digelayuti perasaan tidak senang, mungkin ini karena pengaruh syetan yang senantiasa menggoda ku. Ah,,,sungguh syetan begitu gampangnya memperdayai kita manusia, ataukah karena memang iman kita yang sedang lemah. Entahlah.

Di saat perasaan ini tak menentu, Si Imo (hpku jenis I-Mobile 318) meneriakan suaranya pertanda ada sms masuk dengan nada yang tak begitu enak didengar. Wajar, bunyinya aja seperti suara hp yang kehabisan batterai, diakhiri dengan suara duaarrrr.... Tak heran bila ada beberapa teman yang tersenyum saat mendengar bunyi tersebut. Kubaca isi sms itu

Jika sendiri jangan merasa sepi, ada Allah yang mengawasi...
Jika sedih jangan dipendam di hati, ada Allah tempat berbagi...
Jika susah jangan menjadi pilu, ada Allah tempat mengadu...
Jika gagal jangan berputus asa, ada Allah tempat meminta...
Jika bahagia jangan menjadi lupa, ada Allah yang patut dipuja..
Ingatlah Allah selalu.. Niscaya Allah akan senantiasa menjagamu..


Sungguh sebuah pesan yang sangat menyentuh hati. Menentramkan jiwa. Kata-kata yang mampu mengingatkan kita pada Sang Khaliq yang telah memberikan berbagai macam nikmat yang begitu banyak, diantara yaitu nikmat Iman, Islam dan sehat wal afiat serta yang tak kalah pentingnya juga adalah nikmat kesempatan atau waktu yang telah Allah berikan pada kita, terutama bertemunya kita kembali pada bulan ramadhan 1431H ini.

Mungkin ramadhan tahun lalu kita masih bisa melihat si fulan dan fulanah, tapi di tahun ini kita sudah tidak lagi melihatnya karena memang Allah tak lagi memberikan kesempatan pada mereka untuk bertemu dengan ramadhan tahun ini. Tidak banyak orang-orang yang menyadari bahwa waktu yang diberikan ini tidak mungkin kembali. Semakin lama waktu kita di dunia pun semakin habis. Kita tidak tahu sampai kapan Allah akan memberikan nikmat hidup ini? Sampai kapan kita bisa menghirup udara di pagi hari lagi? Bercanda bersama keluarga, teman dan yang lainnya.

Kalau semua itu sudah tidak bisa lagi kita lakukan, lalu akan kemana kita selanjutnya..? Sudahkah kita tahu dimana posisi kita nanti..? Di tempat yang penuh dengan kenikmatan ataukah tempat yang penuh dengan siksaan..?

Tentu ketika seseorang diberikan pertanyaan di atas, mau kemana setelah anda meninggalkan dunia ini, ingin masuk syurga atau neraka..? pasti hampir semua orang akan mengatakan "Saya mau masuk ke syurga donk.." Sampai-sampai orang yang sering bermaksiat kepada Allah saja pasti ingin masuk syurga. Jika ditanyakan pada orang yang suka mencuri, pasti ia ingin masuk syurga. Jika ditanyakan pada orang yang suka berjudi, pasti ia ingin masuk syurga. Dan jika ditanyakan pada orang yang suka berzina pun, maka ia akan menjawab ingin masuk syurga juga.

Aneh juga ya, apa mereka tidak paham bagaimana cara meraih ridha dan syurgaNya Allah..? tentu mereka harus menjalankan semua perintah dan menjauhi segala laranganNya. Melakukan segala amalan-amalan yang mampu mendekatkan diri mereka pada Allah.

Setidaknya bagi mereka yang ingin bermaksiat kepada Allah tapi ingin mendapatkan syurga-Nya harus memenuhi beberapa syarat seperti yang dikisahkan pada seorang ulama yang bernama Ibrahim bin Adham. Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Adham bin Manshur al ‘Ijli. Ada yang mengatakan at Tamimy. Dia juga dikenal dengan Abu Ishaq al Balkhi. Meninggal tahun 162.

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat. Lelaki tersebut bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta nasehat kepada Ibrahim agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata, “Ya Abu Ishak, aku ini seorang yang suka melakukan perbuatan maksiat. Tolong berikan aku cara yang ampuh untuk menghentikannya.”

Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “Jika kamu mampu melaksanakan lima syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa.”

Mendengar jawaban Ibrahim bin Adham, laki-laki tersebut gembira dan dengan penuh rasa ingin tahu yang besar dia bertanya, “Apa saja syarat-syarat itu, ya Abu Ishak?”

“Syarat pertama, jika kau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Allah”, ujarnya.

Lelaki itu mengernyitkan dahinya lalu berkata, “lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah?”

“Benar”, jawab Ibrahim tegas. “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara kau terus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah-Nya?”

“Baiklah…”, jawab lelaki itu tampak menyerah, “Kemudian apa syarat yang kedua?”

“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah kau tinggal di bumi-Nya”, kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua ini membuat Jahdar lebih kaget lagi. “Apa..? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal di mana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah?”

“Benar. Karena itu pikirkahlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara kau terus berbuat maksiat?”, tanya Ibrahim.

“Kau benar Abu Ishak”, ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat yang ketiga?”, tanyanya dengan penasaran.

“Kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya.”

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Abu Ishak, nasehat macam apakah semua ini? Mana mungin Allah tidak melihat kita?”

“Bagus! Kalau kau yakin Allah melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizkNya, tinggal di buminya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”, tanya Ibrahim kepada lelaki yang masih tampak membisu itu. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabiah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah, ya Abu Ishak, lalu katakan sekarang apa syarat yang keempat?”

“Jika malaikat maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertobat dan melakukan amal shaleh.”

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukan selama ini. Ia kemudian berkata, “Tidak mungkin…. Tidak mungkin semua itu kulakukan”.

“Ya hamba Allah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasehat kepada lelaki itu.

“Yang terakhir, apakah kamu sudah mengetahui posisimu nanti..? Di surga ataukah di neraka..? Seharusnya dengan pertanyaan-pertanyaan tadi sudah mampu mencegah mu dari berbuat maksiat.

Lelaki yang ada di hadapan Ibrahim bin Adham itu tampaknya tidak sanggup lagi mendengar nasehatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal, ia berkata, “cukup…cukup ya Abu Ishak! Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristighfar dan bertaubat nasuha kepada Allah”.

Lelaki itu memang menepati janjinya. Sejak pertemuannya dengan Ibrahim bin Adham, ia benar-benar berubah. Ia mulai menjalankan ibadah dan semua perintah-perintah Allah dengan baik dan khusyuk.

0 komentar:

 

Free Music